
Tia mendengus kasar, kalau Megan sudah memutuskan kembali ke Inggris artinya itu sudah jalan terakhir yang akan ditempuh perempuan itu.
"Siapa yang akan membantumu di sana nanti? Apalagi kau akan mempunyai bayi, kau tidak berniat melakukan aborsi di sana, 'kan?"
"Entah apa yang kau pikirkan sekarang tapi bayi itu tidak salah apa-apa dan Theo berhak tahu karena itu adalah anaknya," Tia tidak berhenti memberikan wejangannya supaya Megan sadar.
Megan masih fokus melihat siaran langsung Theo yang bernyanyi di acara televisi. Dia membaca semua komentar netizen yang rata-rata kaum hawa yang menjadi fans Theo.
"Pasti karirnya akan cemerlang dibanding karirku, bukan?" tanya Megan meminta komentar pada Tia.
"Theo memang berpotensi menjadi penyanyi berbakat apalagi kalau dia nanti mulai belajar memainkan alat musik dan membuat lagu sendiri atau dia ditawari jadi bintang iklan, bisa juga tawaran main film atau menjadi pengisi acara televisi, masih banyak kemungkinan jadi terimalah suamimu, Megan!" tanggap Tia yang mendukung penuh pernikahan artisnya itu.
Walaupun Tia sempat ragu diawal tapi setelah melihat sendiri bagaimana perjuangan dan ketulusan Theo, Tia yakin kalau pemuda itu bisa menjadi pendamping Megan. Apalagi Megan mulai berubah setelah mengenal Theo.
Hanya saja, kenapa sekarang Megan jadi kumat lagi?
Jawaban yang Tia tunggu akhirnya bisa terjawab ketika laptop dari Ruben sudah terbuka. Pada saat itu, Megan dan Tia sudah sampai ke tempat Berry. Lelaki itu langsung berusaha membuka laptop itu dan mencari file tersembunyi yang dicari Megan.
"Apa sudah berhasil?" tanya Megan harap-harap cemas.
Berry mengangguk. "Tenang saja, aku tidak akan menontonnya!" balasnya seraya menjauh.
Kemudian Megan memberikannya laptop itu pada Tia.
"Lihatlah!" pinta Megan supaya Tia tidak penasaran lagi.
"Megan?" perempuan itu merasa tidak percaya.
"Sekarang, apa kau masih memintaku untuk mempertahankan bayinya?" Megan bertanya seraya mengusap perutnya yang masih rata. "Bayi ini tidak akan mau lahir dari wanita sepertiku!"
"Kenapa kau bicara seperti itu? Ini semua hanya masa lalumu, kau harus bisa memaafkan dirimu sendiri," Tia mendekati Megan dan memeluk perempuan itu.
Seketika tangis Megan tumpah di sana, Megan menangis sampai meraung-raung untuk meluapkan emosi yang menyesakkan dada.
"Apa kau tahu, alasan kenapa orang tuaku bercerai?" tanya Megan.
"Selama ini aku pura-pura tidak tahu tapi aku tahu semuanya, maka dari itu aku tidak terlalu menyalahkan mommy ku,"
"Daddy ku memilih menjadi transgender itulah sebabnya mereka berpisah. Keluargaku berantakan ditambah aku adalah wanita rusak jadi jangan memintaku untuk mempertahankan Theo, dia bisa hidup lebih baik daripada bersamaku!"
Tia mengeratkan pelukannya dan ikut menangis, selama ini sikap ditunjukkan oleh Megan memang untuk menutupi rasa sakitnya.
Itulah dari dulu mengapa Megan tidak mau menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Selain merasa trauma dengan perceraian orang tuanya, Megan menganggap wanita dengan background hidup sepertinya itu tidak mempunyai masa depan.
"Apa kau mencintai Theo?" tanya Tia kemudian.
"Entahlah, rasanya hal itu tidak penting. Dia harus memulai hidup barunya tanpa diriku," balas Megan.
Sekarang Tia merasa dilema, dia tetap tidak mau Megan menggugurkan bayinya. Pasti ada jalan keluarnya, apa sekarang waktu yang tepat untuk memberitahu Theo sementara pemuda itu tengah meniti karirnya?