Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 34 - Puitis



Berta melihat makanan yang baru saja dimasak oleh Theo, dia mengerutkan keningnya karena makanan itu tidak menarik sama sekali.


"Apa yang kau masak ini?" tanyanya.


"Sayur asam sama ikan goreng, coba ibu makan sama sambel orek buatanku," Theo membanggakan masakannya sendiri.


"Aku tidak biasa makanan seperti ini, aku akan memesan online saja, kau harus siap membayarnya," ucap Berta seraya meraih ponselnya.


"Makanan di luar itu tidak sehat ibu, banyak memakai penyedap rasa lebih baik coba masakanku ini," Theo mengambil sayur pada piring Berta.


"Kalau tidak enak baru ibu boleh pesan online," lanjutnya.


Karena lapar Berta terpaksa memakan masakan Theo, satu suap dua suap dia rasakan sensasi sayur asam masuk ke mulut dan ditelannya.


"Sekarang tambah ikan sama sambal oreknya pasti ibu suka," ucap Theo mengarahkan.


Dan memang benar apa kata Theo, rasanya sungguh luar biasa.


"Ini pasti karena aku lapar," Berta masih berusaha mengelak.


Theo hanya tersenyum saja, tidak ada yang bisa menolak rasa dari sambal oreknya yang dibuat dari resep turun temurun.


"Jadi, kau adiknya Tia?" tanya Berta yang suasana hatinya sudah membaik.


Terpaksa Theo harus berbohong, dia harus berbicara dulu pada Megan karena dia yakin kalau istrinya belum memberitahu apapun pada ibu mertuanya.


"Iya, kak Tia memintaku untuk menjaga apartemen ini biar tidak kosong. Kalau kosong kan bisa dihuni hantu," jawab Theo.


"Hantu? Jangan menakut-nakutiku ya," Berta mengira jika Theo mengada-ada.


"Di kampungku ada rumah kosong, di rumah itu ada kuntilanak yang suka mengganggu. Kadang suka terbang-terbang di atap rumah sambil tertawa," ucap Theo bercerita.


Entah kenapa bulu kuduk Berta jadi merinding, dia tidak mau berbicara pada pemuda itu lagi.


Awalnya Berta ingin mengusir Theo tapi karena cerita hantu kuntilanak itu, dia jadi mengurungkan niatnya.


"Kau boleh tinggal di sini sampai Tia kembali dan menjemputmu," ucap Berta kemudian.


Theo tidak menanggapi tapi setelah makan, dia mengambil ponselnya yang banyak panggilan tak terjawab dari Megan.


Pada saat itu, Megan memang standby di ponselnya karena panik dengan Berta yang datang tiba-tiba.


"Akhirnya kau menghubungiku juga, apa mommy ku ada di sana?" cecar Megan.


"Iya, ibu mertua baru saja makan," jawab Theo.


"Kau tidak membuka hubungan kita, 'kan?" Megan memastikan.


"Aku berbohong kalau aku adalah adik dari kak Tia," jawab Theo yang sebenarnya kecewa harus berbohong.


"Bersabarlah, aku akan mengirim uang dan meminta mommy ku pergi," ucap Megan.


Megan takut Berta membuat masalah, ibunya memang selalu datang jika butuh dirinya saja.


Sebenarnya setelah bercerai, daddy Megan memberikan uang cukup banyak pada Berta untuk memulai hidup baru dengan Megan. Namun, Berta justru membuat peruntungan di meja judi.


Semenjak itu, Megan memutuskan untuk memisahkan diri dari sang mommy yang membuat hubungan mereka menjadi buruk.


"Apa dengan uang semuanya akan selesai?" tanya Theo.


Hanya pertanyaan sederhana tapi Megan sulit untuk menjawabnya.


"Kau tidak tahu apa-apa jadi jangan ikut campur," jawab Megan akhirnya.


"Kakak adalah istriku, masalah kakak adalah masalahku juga jadi aku harus ikut campur. Dan kita akan menyelesaikan bersama," ucap Theo tulus.


"Sebenarnya kau ini makhluk apa?" Megan tidak percaya telah menikah dengan laki-laki yang seperti itu. Theo terlalu baik untuknya.


"Lebih baik kau hapus rasa suka itu sebelum terlambat," Megan kembali mendorong Theo supaya tidak mencintainya.


"Apa dulu kakak pernah belajar kurang-kurangan saat sekolah?" tanya Theo.


"Tentu saja," jawab Megan.


"Kakak pasti bohong karena bagiku kakak tidak ada kurang-kurangnya. Jadi, jangan memintaku menghapus perasaan ini," Theo yang mode jatuh cinta menjadi puitis. "Apapun yang terjadi, aku akan menyukai kakak!"