
Theo meneruskan membuat salad sayur di dapur, dia berusaha membuatnya sama seperti tutorial yang telah dia tonton.
Setelah jadi, pemuda itu membawanya ke meja makan di mana Megan sudah menunggu dengan wajah masam.
Perempuan itu masih kesal karena Theo yang mengeluarkan bibit lato-latonya di dalam.
"Makan dulu, Kak," ucap Theo seraya memberikan salad sayur buatannya.
Namun, Megan tampak enggan memakannya.
"Kakak, masih marah? Itu kan salah kakak sendiri mengajak bermain lato-lato di kamar mandi dan tidak bawa balonnya," Theo berusaha membela diri.
Memang bukan sepenuhnya salah Theo tapi sekarang Megan benar-benar takut hamil. Seharusnya seminggu lagi, dia datang bulan. Kalau sampai telat, Megan akan benar-benar meminum ramuan supaya bisa melancarkan datang bulan.
"Ini semua gara-gara Tia," batin Megan yang menyalahkan managernya karena melupakan jadwal suntik kontrasepsi.
Akhirnya Megan melupakan kejadian di kamar mandi sebelumnya, dia memakan salad sayur buatan Theo dengan suka rela.
"Kau tidak makan?" tanya Megan.
"Sudah makan tadi di hotel," jawab Theo berbohong. Dia hanya memakan seiris roti supaya bisa membelikan sayur berkualitas untuk istrinya.
Megan percaya-percaya saja, setelah makan sesuai janjinya perempuan itu akan mengajari Theo naik motor.
"Kau punya KTP, 'kan? Berikan padaku biar Tia yang akan mengurus SIM untukmu," ucap Megan.
"Hanya KTP?" tanya Theo.
"Nanti berfotolah dan kirim pada Tia, dia akan mengurus memakai orang dalam dan uang supaya cepat selesai," jelas Megan.
Theo mengerutkan keningnya. "Bukankah itu termasuk nepotisme?"
"Uhuk!" Megan tersedak sayur selada, dia lupa kalau Theo orang yang polos seperti itu. "Makanya biar Tia yang melakukannya supaya kau tidak kena azab!"
Sebenarnya Theo tidak menyukainya tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mau berkelahi dengan istrinya hanya karena SIM.
"Saat aku tinggal nanti, jangan buat masalah. Kalau ada apa-apa minta bantuan pada Parto, dia security yang aku minta untuk menjagamu,"
"Memangnya selama syuting, kakak tidak akan pulang?"
"Lokasi syuting berada di luar kota dan berpindah-pindah tempat tentu saja aku tidak pulang untuk menghemat tenaga dan waktu. Mungkin butuh waktu sebulan penuh sampai scene terakhir selesai,"
"Kenapa?"
Theo jadi merasa sedih tidak bisa melihat Megan sebulan ke depan. "Aku pasti akan merindukan kakak!"
"Rindu bermain lato-lato?" tanya Megan.
"Bukan, rindu wajah kakak dan semua tentang istriku," jawab Theo jujur. "Aku akan menunggu kakak pulang!"
Megan terkekeh mendengarnya, biasanya tidak ada yang menunggunya pulang. Tapi, sekarang ada pemuda polos yang akan menunggu dan merindukan dirinya.
"Terima kasih, ya," Megan bangkit dan mengecup kening Theo.
"Ayo kita belajar naik motor!"
Mereka pun pergi ke parkiran motor dan mencari Parto, security itu menunjuk motor baru yang dibeli Megan. Sebelum menaiki motor itu, Megan menjelaskan beberapa komponen yang harus Theo ketahui.
"Biar saya saja yang mengajari adik anda," ucap Parto menawarkan diri.
"Tidak, aku mau belajar sama kakak," tolak Theo.
"Bocah ini, kalau yang ngajarin aku nanti pasti cepat bisa," Parto memaksa.
Theo tidak suka dipanggil bocah oleh lelaki itu, akhirnya dia mau diajari oleh Parto di lapangan bola dekat apartemen.
Seperti pemula lainnya, Theo jatuh beberapa kali dan mendapat luka di kakinya.
"Laki-laki tidak boleh cemen, ayo belajar lagi," Parto terus mengajari Theo sampai pemuda itu bisa naik motor dan berani berkendara di jalan raya.
Sementara Megan menunggu dengan membeli milkshake dan juga plester luka, dia sudah menduga kalau Theo pasti akan terjatuh.
"Kakak..." Theo berlari memeluk Megan ketika kembali ke apartemen.
"Sini aku lihat lukamu," balas Megan yang ingin melihat luka suaminya.
Megan membuka plester luka dan menempelkannya pada lutut Theo. Dia mengecup luka itu supaya Theo tidak merasa kesakitan.
"Kakak adik yang mesra," komentar Parto yang melihat interaksi keduanya.