
"Nanti ayah yang jemput sekolah, 'kan?" tanya Ara ketika turun dari mobil.
"Tentu saja," jawab Theo.
Padahal Theo lelah karena perjalanan jauh tapi demi Ara, dia akan melakukan apapun.
Apalagi ketika melihat senyum anak itu, seketika rasa lelahnya tidak ada artinya lagi.
Sambil menunggu Ara pulang sekolah, Theo pergi ke pabrik berasnya dan melihat sawah yang baru saja ditanam padi.
Theo mendatangkan alat-alat dari Jepang supaya memudahkan para petani untuk mengurus sawah-sawahnya.
"Pak Sulis..." panggil mandor yang menjaga pabrik beras.
Karena sudah terbiasa dipanggil Theo jadi saat nama aslinya disebut, Theo jadi geli sendiri.
"Kapan anda datang?"
"Baru saja, bagaimana mesin penggiling berasnya?" tanya Theo.
"Mesinnya bisa menggiling dua kali lipat dari sebelumnya," jawab sang mandor.
Theo pun masuk ke pabrik dan melihat mesin penggiling padi tengah memproses beras. Kemudian dia melihat tim pengemasan, setelah selesai barulah dia masuk ke ruangannya.
Dia melihat laporan pengeluaran beras yang terus meningkat, setiap Theo mempunyai uang lebih pasti dia memperluas tanah sawahnya jadi pabrik Theo bisa mengolah ratusan ton beras dan didistribusikan ke seluruh Indonesia.
"Terus tingkatkan kualitas beras kita, walaupun beras lokal jangan sampai kalah dengan beras-beras import," ucap Theo.
Kalau pabrik berasnya terus berjalan lancar, Theo berencana membeli kebun sawit dan membuka pabrik minyak. Targetnya memang kebutuhan pokok yang akan dia jual dengan harga merakyat.
Tapi, rencana itu masih jauh karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Kalau semua cita-citanya terkabul, Theo pasti akan berhenti dari dunia entertainment dan fokus membesarkan Ara.
Beruntung anak itu selama ini pengertian dan tidak terlalu banyak menuntut. Mungkin saat itu bibit lato-latonya berkualitas premium.
Theo sengaja menghabiskan waktu di pabrik beras sampai jam pulang sekolah Ara, ketika waktunya putrinya pulang Theo bergegas ke sekolah Ara dan melihat senyum cantik itu lagi.
Namun, tidak sesuai ekspektasi saat Theo jemput, Ara tampak baru saja menangis.
Ara memeluk ayahnya dan kembali menangis, ini adalah tahun pertamanya di sekolah dasar dan sebentar lagi hari ibu tiba. Walaupun sekolahnya di kampung tapi setiap hari ibu ada perayaan di sekolah itu. Di kelasnya hanya Ara yang tidak mempunyai ibu.
"Saat hari ibu nanti, aku mau ikut ayah ke kota saja," ucap Ara di sela tangisnya.
Theo sampai tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak mau membahas masalah itu dan menunggu Ara tenang.
Sesampai di rumah, ibu Sri sudah memasak berbagai menu kesukaan Theo, salah satunya ikan asin. Kalau di kota, Theo kebanyakan makan masakan delivery.
"Apa Jarwo sudah makan, Nek?" tanya Ara yang mengingat ayam jagonya.
"Sudah, sekarang sudah nenek kandang, jangan main ayam dulu kan ayahmu sudah pulang," jawab ibu Sri.
Sepertinya mood Ara sudah kembali jadi selesai makan, anak itu bermain dengan Theo di kamar.
"Ayah, apa ada video terbaru ibu?" tanya Ara.
Ara memang sering melihat video Megan yang bermain opera.
"Sebentar," Theo mengambil ponselnya dan ingin memperlihatkan Ara video terbaru Megan. Tapi, dia justru mendapat kiriman link berita dari Bisma.
"Berita gosip lagi?" tanya Ara.
"Coba kita lihat, ya," Theo membuka link berita itu.
Bukan link berita mengenai gosip tentang Theo tapi link berita mengenai paparazi yang menangkap potret Megan di bandara Soekarto Hatta.
Dengan headline berita.
Megan Brox kembali ke tanah air?
_
Emaknya Ara