
Theo melihat bangunan yang menjulang tinggi di depannya, dia sedang memikirkan bagaimana caranya bisa masuk ke bangunan itu.
"Jadi kita pergi ke loby nanti pasti ada security atau resepsionis di sana, tinggal tanya saja unit yang ingin kau tuju," jelas mang ojek yang mengantarkan Theo.
Malu bertanya sesat di jalan jadi Theo tidak akan segan-segan bertanya jika dia tidak mengerti. Hidup di kampung dan di kota sangat jauh berbeda, Theo harus sering bertanya-tanya.
"Saya mengerti, terima kasih," Theo memberikan lebihan dua ribu rupiah dari tarif mang ojek itu.
Kemudian, pemuda itu masuk ke loby apartemen dan menanyakan lantai unit istrinya berada.
Ternyata Megan tinggal di lantai paling atas artinya istrinya berada di penthouse. Makin kesini Theo makin bertekad untuk mencari penghasilan lebih karena nafkah yang akan dia berikan pasti tidak akan sebanding.
Theo berjalan ke arah lift dan memencet tombol lantai paling atas di mana hanya ada unit Megan saja di sana.
Setelah lift terbuka, Theo dengan gugup berjalan ke arah pintu. Tapi, pemuda itu tetap memencet bel dan menunggu Megan membukanya.
Tak lama, Megan benar-benar membukakan pintu. Jantung Theo berdegup sangat kencang karena Megan hanya memakai kaos tanpa tanpa lengan dan celana yang seperti pakaian dalam.
"Kakak, kenapa pakai baju seperti ini? Kalau misalkan yang datang bukan aku, apa kakak akan tetap membukakan pintu?" cecar Theo.
"Masuk!" Megan meminta pemuda itu masuk dan enggan menanggapi perihal baju. Dia bahkan biasa memakai bikini dan dilihat oleh banyak orang jadi masalahnya apa.
Theo masuk ke dalam dan tidak terlalu terkejut karena dia bekerja di hotel mewah jadi tampilan unit Megan hampir sama.
"Mana makanannya?" tanya Megan. Dia sudah lapar dan sedari tadi menunggu Theo datang.
Theo memberikan plastik yang dibawanya. "Aku beli dua bungkus, kita makan sama-sama karena aku juga lapar habis pulang kerja!"
"Apa ini?" Megan membuka plastik yang diberikan Theo padanya. "Nasi padang? Jadi aku menunggu lama untuk makanan ini?"
Megan ingin melempar plastik itu tapi ditahan oleh Theo.
Pemuda itu meraih plastik ditangan Megan kemudian menarik tangan itu dan membawanya ke meja makan.
"Aku tadi membelikan rendang daging untuk kakak," Theo membukakan nasi padang itu untuk istrinya.
"Makan ya biar kuat marah-marahnya," sambung Theo yang tahu kalau hobi Megan adalah memarahinya.
Karena lapar terpaksa Megan akan memakan nasi padang daging rendang itu.
Berbeda dengan Megan, Theo memilih lauk telur dadar. Dia harus berhemat karena sekarang dia tidak makan sendirian lagi.
"Kenapa punyamu telur dadar?" tanya Megan.
"Aku suka telur dadar," jawab Theo memberi alasan.
Megan tidak mau bertanya lagi, dia segera makan dan ternyata memang rasanya lumayan. Walaupun bukan pertama kali makan nasi padang tapi rasa nasi padang pemberian Theo berbeda dari nasi padang yang pernah dia coba.
Melihat Megan makan dengan lahap membuat Theo senyum-senyum sendiri. Siapa yang akan menyangka jika perempuan cantik itu adalah istrinya.
"Oh iya, Kak. Aku mau bertanya," ucap Theo disela makannya.
"Tanya apa?" tanggap Megan.
"Kapan aku bisa memberi nafkah batin untuk kakak?" tanya Theo tiba-tiba.
Seketika Megan langsung tersedak mendengarnya.
"Uhuk!" Megan terbatuk kemudian menatap Theo dengan tajam. "Bukankah kau mengalami trauma? Itu salah satu alasan aku mau menikahimu!"
"Aku berusaha menghilangkan trauma itu karena aku mempunyai kewajiban memberikan nafkah batin untuk istriku," jawab Theo.