
"Ini nasinya dari beras pabrik ku, beras lokal tapi kualitasnya tidak kalah sama kualitas import," ucap Theo seraya mengambilkan nasi ke piring Megan.
"Makan dulu baru kita berkeliling kampung, sayang," lanjutnya.
Megan masih terdiam karena Theo tidak berubah walaupun sudah terkenal, biasanya orang yang terkenal suka lupa diri. Tapi, Theo berbeda.
Dari pada lelaki itu membangun bisnis di kota, Theo memilih membangun bisnis di kampung dan membuka lapangan pekerjaan bagi penduduknya yang memang mayoritas petani.
Kalau biasanya mereka mempunyai uang saat musim panen tapi sekarang setiap bulan mereka mendapat pemasukan dari Theo.
"Bagaimana caramu mengelola pabrik beras sementara kau sering tinggal ke kota?" tanya Megan.
"Ada beberapa mandor yang bekerja di pabrik," jawab Theo.
"Kau percaya sepenuhnya pada mereka?" tanya Megan yang saat ini krisis kepercayaan pada orang-orang.
"Aku selalu percaya pada para pekerjaku, entah bagaimana mereka di belakangku itu urusannya dengan Tuhan, yang jelas aku menganggap mereka keluarga dan memberi gaji yang sesuai," jelas Theo.
Seperti biasa Megan akan dibuat diam seribu bahasa oleh suaminya.
Megan akhirnya mencoba nasi dari pabrik yang dikelola Theo selama ini.
"Bagaimana?" tanya Theo.
"Lumayan," jawab Megan sambil mengunyah.
Theo terkekeh karena dari dulu Megan selalu memberi komentar dengan kata lumayan.
"Maksudku bukan nasinya tapi..." Theo menunjuk celananya dengan kerlingan mata.
Megan berdehem dan mengingat batang lato-lato yang masuk tanpa bergoyang semalam.
"Apa kau minum obat untuk memperbesarnya?" tanya Megan to the point.
"Aku tidak pernah minum obat apapun, aku hanya rajin mengurutnya," jawab Theo.
Megan yang pada saat itu minum sampai menyembur pelan, jiwa polos Theo ternyata masih ada.
Tidak mau membahas masalah itu, Theo segera mengajak Megan untuk berkeliling kampung dan melihat rumah yang dia bangun untuk istrinya.
"Kalau aku jadi kepala desa, apa kau setuju, sayang?" tanya Theo.
"Profesimu jadi bertambah kalau begitu," balas Megan. Dia bersiap memakai sepatu mahalnya.
"Di sini pakai sandal ini saja, nanti kotor apalagi habis hujan kan becek," ucap Theo.
Lagi-lagi Megan mencoba sesuatu yang baru dalam hidupnya, memakai sandal swallow.
Dan yang paling gila lagi, Theo akan membawanya berkeliling kampung memakai sepeda.
"Tinggal duduk miring saja," ucap Theo.
Megan pernah melakukan adegan seperti ini di film, dia tidak menyangka akan dibonceng oleh pasangan nyata.
Saat sepeda bergerak, tangan Megan langsung melingkar di perut Theo.
Dan setiap lewat penduduk kampung melihat ke arah Megan.
"Siapa itu?" tanya mereka.
"Ini istri saya, ibunya Ara, cantik, 'kan?" Theo mulai pamer yang membuat Megan malu.
"Mereka benar-benar tidak tahu aku?" tanya Megan memastikan.
"Kau sudah menghilang selama tujuh tahun jadi kurang terkenal, sayang. Kau akan terkenal jadi istri juragan beras di sini," jelas Theo yang semakin bersemangat mengayuh sepedanya.
Sampai mereka melewati para gerombolan gadis desa penggemar Theo dan menjadi member Theolovers.
"Akang Theo! Kenapa tega pada kami?"
"Siapa itu?"
Megan jadi risih, mereka terlihat masih muda jadi Megan merasa was-was. Dia semakin merangkul perut suaminya, seolah mengisyaratkan kalau lelaki itu adalah miliknya.
"Kau cemburu, sayang?" tanya Theo.
"Tidak, itu kan wajar apalagi mereka fansmu," jawab Megan setenang mungkin.
"Kalau tidak, berarti kita stop saja di depan mereka," ucap Theo.
Megan langsung meremas batang lato-lato dengan tangannya. "Awas saja kalau kau berhenti!"
"Arghhh!" Theo berteriak kesakitan karena batang lato-latonya yang diremas Megan. "Jangan diremas, nanti produksi kecubungnya terganggu!"
Theo sedari tadi menahan diri karena mempersiapkan amunisi untuk tembakan supernya.