
"Mungkin minggu depan, sudah lancar itu," ucap Parto memberitahu perkiraan Theo lancar bersepeda motor.
"Baiklah, kalau begitu titip adik saya. Namanya Theo," balas Megan.
Dia tidak punya uang cash jadi Megan pergi ke ATM center yang ada di apartemen, dia mengambil beberapa uang cash untuk dia berikan pada Parto dan Theo selebihnya akan Megan gunakan pegangan.
"Kenapa kakak memberi uang padaku?" Theo tidak mau menerima uang dari Megan.
"Bukankah waktu itu kau ingin berbelanja bahan makanan, gunakan saja uang itu. Maaf aku tidak bisa menemanimu, sepertinya aku besok akan berangkat syuting. Tia baru memberitahuku," ucap Megan yang baru membaca pesan dari managernya.
Tanpa Megan duga, Theo meneteskan air matanya.
"Kenapa menangis?"
"Karena aku sedih akan berpisah dengan istriku,"
"Kalau begitu, bagaimana kalau hari ini kita berkencan?"
"Kencan?"
Hari itu, Theo merelakan jam tidurnya untuk pergi bersama Megan ke suatu tempat.
Megan membawa Theo untuk pergi ke tempat warisata alam. Sudah lama dia ingin pergi ke tempat seperti itu tapi Tia tidak pernah mau menemaninya.
Perempuan itu membeli topeng hewan untuk dia kenakan bersama Theo. Jadi, mereka tidak perlu takut jika ada paparazi yang akan mengambil potret mereka.
"Kebun binatang?"
"Sudah lama aku ingin ke sini, ini pertama kalinya untukku,"
"Ini juga pertama kalinya,"
Akhirnya ada sesuatu yang pertama kali mereka lakukan bersama.
Mereka bergandengan tangan dan berjalan tanpa memikirkan apapun. Mereka sibuk mengagumi hewan-hewan yang mereka lihat.
"Lihatlah itu, Kak. Ada beruang madu,"
"Ah, ada kukang juga di sana,"
"Aku mau melihat jerapah!"
"Ayo kita beli makanan untuk mereka,"
"Aku belikan minum dulu, Kak," Theo pamit untuk pergi ke outlet minuman.
"Air mineral saja," ucap Megan yang tidak mau minuman manis.
Theo membelikan apa yang Megan mau, dia berdiri di depan istrinya supaya bisa menutupi wajah Megan yang minum.
"Ayo cepat minum, Kak!"
Megan membuka topengnya dan minum air mineral pemberian suaminya. Setelah dahaganya hilang, barulah dia memakai topengnya lagi.
"Ternyata membuat kakak senang hanya dengan melihat kebun binatang, ya," komentar Theo.
"Kekanakan, bukan? Dulu aku ingin liburan bersama keluarga di tempat seperti ini tapi mereka tidak pernah mengabulkan permintaanku," ucap Megan.
Kalau dipikir-pikir Megan selalu sibuk dengan ceritanya sendiri.
"Bagaimana dengan ibumu di kampung?" tanya Megan kemudian.
"Ibuku sehat saat aku tinggal ke kota, pasti sekarang ibu sedang berkebun di belakang rumah nanti hasil sayur-sayurnya dijual di pasar," jelas Theo.
"Jadi, ibumu hidup dengan mengandalkan sayuran di kebunnya?" tanya Megan lagi.
"Kalau hidup di kampung hal seperti itu sudah biasa, pasti kakak tidak akan betah tinggal di rumahku. Di sana serba manual dan banyak nyamuknya," Theo tidak bisa membayangkan kalau Megan pergi ke rumahnya.
"Kalau ibu kakak bagaimana? Kenapa tidak tinggal bersama?"
Megan menghela nafasnya karena mengingat sang mommy, mereka sudah lama tidak berhubungan karena selalu berselisih paham.
"Dia adalah mommy terburuk. Kalau saat aku tinggal, dia datang ke apartemen lebih baik kau panggil Parto untuk mengusirnya," Megan memberi peringatan keras.
"Bagaimana bisa aku mengusir ibu mertua, aku tidak mau menjadi menantu durhaka," balas Theo menolak.
"Ya sudah kalau begitu lari, jangan sampai dia tahu tentang hubungan kita. Dia itu selalu berusaha menjodohkanku dengan laki-laki pilihannya," Megan memberitahu.
"Memangnya tipe ibu mertua seperti apa, Kak?" tanya Theo penasaran.
"Dewasa, tampan, kaya dan terpandang," jawab Megan.
Theo menelan ludahnya karena semua kriteria itu tidak ada pada dirinya.