
Sebelumnya, setelah melihat berita mengenai Megan. Theo dan Ara saling memandang satu sama lain.
"Ibu sudah pulang?" tanya Ara kesenangan. "Ibu sudah tahu jalan pulang dan tidak tersesat lagi?"
"Sepertinya begitu," tanggap Theo. Dia juga sama senangnya dengan Ara tapi dia harus mencari tahu dulu, apa tujuan Megan kembali.
Setelah Theo telusuri ternyata Megan menuju rumah Tia dan akan melakukan jumpa fans karena Megan yang akan comeback ke dunia entertainer.
Tia tidak terlalu bercerita, mungkin karena tidak mau menyakiti hatinya dan Ara.
Tenang saja, aku yang akan mengurusnya!
Kalimat terakhir dari Tia supaya Theo tidak cemas.
"Ayah, kita akan pergi menemui ibu, 'kan?" tanya Ara.
"Kalau kita menemui ibumu, ayah tidak bisa menjamin hal baik terjadi, ayah tidak mau anak ayah menangis," Theo ingin menolak secara halus.
Dia bisa memprediksi kalau Megan akan menolak Ara walaupun hatinya berkata lain.
"Aku tidak apa-apa, aku berjanji akan bersikap baik. Aku tidak akan merepotkan, aku hanya ingin melihat wajah ibu secara langsung," ucap Ara dengan wajah tertunduk.
Hati siapa yang tega melihat Ara seperti itu jadi hari itu Theo memutuskan akan membawa Ara ke kota untuk menemui Megan.
"Ibu selama ini berusaha mengerti hubunganmu dengan Megan tapi jangan terus biarkan berlarut-larut, kasihan Ara terus berharap. Setidaknya beri kepastian pada anak kalian, sembunyi tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Ibu Sri sebelum anak dan cucunya pergi ke kota.
"Aku tahu ibu, aku pasti bisa membawa menantu ibu datang. Anggap saja kesabaranku sudah habis," balas Theo penuh tekad. Dia akan sedikit egois supaya Megan kembali padanya.
Akhirnya Theo pun pergi ke kota dengan membawa Ara di hari Megan melakukan jumpa fans.
Sepanjang perjalanan, Ara memeluk bingkai foto yang anak itu buat sendiri.
Ara menggelengkan kepalanya. "Aku mau langsung bertemu ibu, kita bisa ganti baju di mobil!"
Sepertinya tidak ada yang diinginkan Ara selain bertemu dengan ibunya, bahkan selama perjalanan dua belas jam lebih, Ara tidak tidur sama sekali. Theo memang sengaja tidak memakai supir pribadi supaya obrolan mereka tidak ada yang mendengar, hanya orang-orang tertentu yang tahu tentang mereka.
Sesuai permintaan Ara, Theo mengganti bajunya di dalam mobil, dia juga memperbaiki penampilan Ara ketika sampai di mall di mana Megan berada.
"Apa anak ayah siap?" tanya Theo.
"Siap!" Ara menjawab dengan bersemangat.
Sebelumnya Theo sudah menghubungi Bisma supaya menyusulnya dengan membawa beberapa pengawalan karena ada Ara, dia takut terjadi apa-apa pada putrinya.
Jadi, saat Theo masuk ke dalam mall, keadaan aman terkendali sampai dia berjalan ke arah meja Megan.
"Kami adalah fans anda selama ini, Nona," ucap Theo dengan mata berkaca-kaca.
Ara yang ada digendongan ayahnya juga menahan air mata. Dia mengeluarkan bingkai fotonya dan memberikan pada Megan untuk ditanda tangani.
"Nama saya Namira, saya sudah masuk sekolah dasar tahun ini, saya selalu menurut apa kata ayah dan nenek, apa Nona Megan menyukai anak seperti saya?" tanya Ara.
Beberapa detik ada keheningan yang membentang, Megan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Kemudian perempuan itu berdehem dan mengambil bingkai foto Ara tanpa sepatah katapun.
Saat dia akan tanda tangan, tangannya mulai gemetaran, dia membutuhkan obat penenangnya.
Ara bisa melihat itu, dia mendekat sambil memajukan badannya karena ingin berbisik. "Apa setannya mengganggu ibu lagi? Aku dan ayah akan mengusirnya jadi jangan takut!"