Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 6 - Antar Makanan



Walaupun sudah dibelikan pulsa, Megan masih tidak membalas pesan dari Theo. Pemuda itu terus menunggu balasan bahkan sampai dia sampai di tempat kosnya, ponsel jadul miliknya dia taruh di meja dengan nada dibuat sekeras mungkin.


Theo akan tinggal mandi dulu dan makan, sebenarnya jadwalnya adalah tidur setelah itu karena selama seminggu ke depan dia bekerja shif malam.


Apa kakak mau jadi istri durhaka?


Akhirnya Theo menuliskan kalimat pamungkasnya.


Dan berhasil, ponselnya tiba-tiba berdering karena Megan yang melakukan panggilan.


"Hallo?" jawab Theo.


"Sebenarnya apa maumu, hah?" bentak Megan.


Pada saat itu, Megan baru bangun tidur. Dia lapar dan ingin memesan makanan online tapi Megan justru mendapati ada pulsa masuk sebesar sepuluh ribu.


"Ish, pulsa nyasar dari mana ini?" gumam Megan.


Tak lama setelah ada pulsa masuk itu, pesan beruntun perempuan itu dapatkan.


Kakak, apa pulsanya sudah masuk?


Balas pesanku


Kan sudah punya pulsa sekarang


"Oh, ternyata manusia suci itu yang mengirimkan pulsa," decak Megan sebal.


Megan kemudian melempar ponselnya, dia tidak jadi memesan makanan online. Perempuan itu memilih masak mie instan saja.


Karena syuting dimulai minggu depan, minggu ini Megan bisa bersantai sambil melatih dialognya. Dia hanya mempunyai jadwal pemotretan produk saja sambil menunggu syuting film terbarunya.


Megan menyalakan kompor listrik miliknya kemudian merebus air. Kemudian dia mengambil satu bungkus mie instan untuk dia masak.


Awalnya semua berjalan lancar saja tapi saat Megan mengangkat panci untuk dia tuang ke mangkok, tiba-tiba tangannya tergelincir dan alhasil mie yang panas terjatuh ke lantai.


Beruntung Megan sempat menghindar jadi kakinya tidak terkena mie dan air yang panas.


"Ck!" Megan berdecak. Dia ingin menghubungi tukang bersih-bersih yang biasanya dia panggil untuk membersihkan apartemennya.


Namun ketika kembali melihat ponselnya, ada pesan masuk lagi dari Theo.


Apa kakak mau jadi istri durhaka?


"Si gila itu, apa-apaan!" kesalnya.


Megan bisa saja mengabaikan pesan itu lagi tapi entah kenapa kalimat itu begitu mengganggu apalagi dia baru saja mengalami insiden mie tumpah di dapur.


Dengan emosi, Megan akhirnya menghubungi suaminya itu.


"Sebenarnya apa maumu, hah?" bentak Megan.


"Kenapa kakak selalu marah-marah begitu?" tanya Theo.


Yang seharusnya marah itu adalah dirinya, Theo yang sudah dinodai bahkan setelah menikah pun dia tidak dianggap.


"Makanya jangan mengganggu biar aku tidak marah," balas Megan.


"Aku hanya ingin tahu keadaan istriku, apa itu salah?" Theo bertanya karena dia merasa tidak bersalah dengan apa yang telah dilakukannya. Dia sudah mulai menggunakan bahasa informal pada Megan.


"Aku baik, apa kau puas sekarang?" Megan menurunkan nada bicaranya. Dia harus mempunyai ekstra kesabaran yang berlebih untuk menghadapi Theo.


"Syukurlah," Theo tampak lega di sana. "Apa kakak sudah makan? Mau aku belikan sesuatu?"


Setidaknya dia harus memberi makan pada istrinya walaupun mereka tinggal terpisah.


"Boleh, kebetulan aku sedang lapar," ucap Megan menerima tawaran Theo itu.


"Kalau begitu kirim alamat kakak, biar aku antar makanan ke sana," Theo bergegas siap-siap dengan memakai jaketnya.


Megan mematikan panggilan tapi sedetik kemudian, perempuan itu mengirimkan alamat apartemen beserta nomor unitnya.


Tunggu aku


Sebelum meninggalkan kamar kosnya, Theo menuliskan pesan itu.


Theo membeli dua bungkus nasi padang kemudian pergi ke ojek pangkalan sambil memperlihatkan alamat yang akan ditujunya.