
Megan langsung menarik tangannya, dia tidak mau terpengaruh oleh laki-laki itu. Megan menatap Theo dengan galak yang nyatanya justru seperti lelucon.
"Kau sudah melewati batas, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi, jadi jangan menyentuhku," ketus Megan sambil mendorong dada Theo lagi.
Walaupun dorongannya cukup kuat, Theo masih bergeming.
Dan Ara sepertinya harus mengambil tindakan supaya Megan tidak kabur.
"Aduh, sakit sekali," Ara memegang perutnya dan mengaduh kesakitan. Anak itu sepertinya mempunyai bakat akting seperti ibunya.
Refleks Megan masuk lagi ke dalam mobil dan memeriksa keadaan putrinya.
"Apa yang sakit?" tanya Megan cemas.
"Perutku sakit pasti maagku kambuh lagi ibu," jawab Ara dusta.
"Kau punya sakit maag?" Megan kembali menatap Theo dengan memicingkan mata karena menyalahkan lelaki itu. Bisa-bisanya anak sekecil itu punya maag.
"Ini karena aku terlalu senang akan bertemu dengan ibu jadi aku tidak makan sama sekali," ucap Ara mendramatisir keadaan.
Megan memeluk Ara dan berharap mengurangi rasa sakitnya.
"Apa yang kau tunggu, cepat bawa ke rumah sakit!" teriak Megan pada Theo.
Bukannya Theo yang bertindak tapi Tia dan Bisma yang ikut bergabung ke sana, Bisma menyetir mobil dan Tia pura-pura menghubungi resepsionis rumah sakit.
Theo duduk di samping Megan yang tengah memeluk Ara, dia diam saja karena saat ini Megan tengah tidak sadar dan menunjukkan sisi lemahnya.
Sekuat-kuatnya Megan menolak Ara pasti tidak akan tahan jika mendengar putrinya sakit. Walaupun dengan cara berbohong, kini Ara bisa mendapat pelukan dari ibunya, anak itu sampai ketiduran karena terlalu nyaman.
"Apa dia pingsan?" tanya Megan takut.
"Tenanglah, kita akan segera sampai," tanggap Tia yang duduk di kursi depan.
Bisma benar-benar membawa mobil itu di parkiran rumah sakit supaya drama mereka berjalan lancar.
"Kalian tidak bisa turun jadi biar aku yang membawa Ara masuk," Tia membuka pintu mobil untuk mengambil alih anak itu. Tapi dia menyempatkan diri melirik ke arah Theo dan mengerlingkan matanya memberi kode.
"Apa ada sesuatu untuk dipakai di sini?" Megan mencari apapun di mobil itu untuk melakukan penyamaran.
Namun, tangannya lagi-lagi dicekal oleh Theo.
"Setelah diperiksa Ara pasti baik-baik saja, kita tunggu saja di sini," ucap Theo supaya Megan jadi tenang.
Theo mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan dia berikan pada perempuan itu.
"Apa ini?" tanya Megan melihat sesuatu yang asing dari tangan Theo.
"Ini namanya buah kecubung, biasanya buah ini dimakan supaya yang memakannya menjadi tenang," jelas Theo penuh modus.
Memang Megan memerlukan obat penenangnya tapi dia tidak mau meminum obat itu di depan Theo karena pasti lelaki itu akan tahu kalau dia selama ini mengonsumsi obat dari psikiater.
Jadi, tanpa ragu Megan mengambil buah kecubung itu dan percaya saja pada Theo karena lelaki itu tidak mungkin berbohong.
Megan lupa kalau Theo yang sekarang bukanlah Theo yang dulu.
Ternyata Theo sudah mempersiapkan buah kecubung itu dari kampungnya. Buah yang jika dikonsumsi bisa membuat mabuk dan halusinasi orang yang memakannya.
Supaya efeknya tidak terlalu kuat, Theo merebut buah itu ketika Megan baru menggigitnya sedikit.
"Buah apa itu? Aku tidak suka," komentar Megan.
Dan tak lama efek dari kecubung itu mulai terlihat karena Megan sudah mulai berhalusinasi.
"Megan..." panggil Theo hati-hati.
Megan langsung menoleh dan tersenyum dengan nakal, dia merasa menjadi Megan yang dulu.
"Jadi, apa kau mau ikut kelasku selanjutnya?" tanyanya.
Theo mengangguk cepat. "Iya aku pasrah!"