
"Besok kalau aku belum pulang, kakak jangan berangkat dulu," pinta Theo sebelum berangkat kerja. Dia saat ini tengah memakai baju setelah mandi.
Megan menganggukkan kepalanya, dia mengamati penampilan Theo yang sedap dipandang mata sekarang.
"Apa di hotel ada yang menggodamu?" tanya Megan ingin tahu.
"Sejak aku potong rambut, semua berkata aku tampan," jawab Theo jujur. Setidaknya ada hal yang masuk kriteria ibunya Megan. "Tenang saja, aku bisa menjaga diriku karena..."
Theo meraih telapak tangan Megan dan dia letakkan di dadanya. "Di sini cuma ada nama kakak, apa kakak merasakannya? Jantungku selalu kewalahan saat berada di dekat kakak, kalau begini terus lama-lama jantungnya bisa bocor!"
"Hahaha..." Megan tertawa sambil memegangi perutnya. "Sudah sana berangkat!"
Theo mengulurkan tangannya dan dicium oleh Megan, sekilas mereka seperti keluarga kecil yang harmonis.
Saat pintu apartemen tertutup, Megan menghembuskan nafasnya kasar karena keadaan menjadi semakin rumit.
"Anak itu benar-benar menyukaiku," gumam Megan.
Kalau sudah begitu, pasti akan sulit untuk melepas Theo dari hidupnya.
Tak lama setelah kepergian Theo, pintu apartemen Megan dibuka seseorang yang tak lain adalah Tia.
"Bukankah kita berangkat besok?" tegur Megan.
"Aku datang karena kau mendapat undangan dari Maya, dia ulang tahun lebih baik kau datang. Media pasti akan menggiring opini jelek kalau sampai kau tidak ada di sana," jelas Tia seraya mendekati Megan yang duduk di sofa ruang tamu.
Megan sebenarnya memang berniat untuk menolak karena sadar jika lingkungan pertemanannya selama ini toxic.
"Aku sudah mencoba mengurangi alkohol tapi mereka pasti akan memaksaku untuk minum, aku tidak mau hangover saat kita berangkat besok. Sutradara atau produser pasti akan marah padaku," balas Megan.
Apa boleh buat, Megan yang ingin istirahat akhirnya harus bersiap-siap untuk pergi ke pesta rekan sesama artis.
"Apa suamimu tidak ada?" tanya Tia yang baru teringat Theo.
"Dia sudah berangkat kerja," jawab Megan sambil membuka baju. "Oh iya, buatkan dia SIM, aku baru membelikannya motor."
"Beli motor?" tanya Tia memastikan. Dia tidak tahu kalau hubungan Megan dengan suami bocilnya akan berkembang sepesat itu.
Belum hilang rasa terkejutnya, Tia mendapati topeng hewan yang berada di atas meja.
"Kau baru keluar?" tanyanya lagi.
Tia masuk ke kamar Megan supaya mendapat jawabannya.
"Aku pergi kencan ke kebun binatang," jawab Megan.
"Kencan? Kebun binatang? Apa aku tidak salah dengar?" Tia semakin mencecar Megan tapi perempuan itu sudah masuk kamar mandi.
Saat Megan keluar dari kamar mandi, dia kaget karena Tia menunggunya di depan pintu.
"Astaga, kau itu kenapa?" protes Megan.
"Kau yang kenapa, coba jawab jujur. Apa kau menyukai suamimu? Kau ingin melanjutkan pernikahan ini?" Tia mencoba berbicara serius karena ini menyangkut karir perempuan itu.
"Aku tidak tahu, yang jelas untuk sekarang aku tidak bisa memutuskan hubungan begitu saja. Theo sepertinya benar-benar menyukaiku sebagai seorang wanita, katakan umurnya masih sangat muda tapi dia menghargai dan perhatian padaku. Aku merasa nyaman dengan itu, dia berbeda dengan mommy atau daddy," jelas Megan seraya melihat dirinya sendiri di depan cermin.
"Tapi, ada kalanya aku merasa tidak pantas untuknya," sambung Megan sambil menatap Tia. "Tenang saja, semua ini pasti akan berakhir!"