Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 73 - Bukan Yang Dulu



Megan buru-buru menjauhkan dirinya dan benar saja memang semua ini nyata, Megan baru sadar kalau saat ini tengah berada di kamarnya yang dulu.


Bahkan dekorasi dan furniture nya masih sama.


"Saat ibu mertua menjual penthouse ini, aku langsung membelinya karena banyak kenangan yang kita lalui di sini," jelas Theo yang melihat kebingungan Megan.


"Aku tidak menyangka resep sambal orekku waktu itu akan membuat ibu mertua membuka usaha dan bisa berkembang sampai sekarang, waktu itu dia butuh modal yang lebih besar jadi aku membelinya dua kali lipat,"


"Bahkan ibu mertua saja sudah memulai hidup barunya tapi kenapa kau tidak bisa memaafkan dirimu sendiri?"


Theo ingin mendekat tapi Megan masih berusaha menjauh.


"Jangan mendekat," tolak Megan sambil mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Bersamaan dengan itu, terdengar pintu kamar diketuk.


"Ayah..." panggil Ara di depan pintu.


Theo menghela nafasnya, dia tidak boleh terlalu memaksa jadi dia akan keluar dari kamar itu.


"Aku dan Ara menunggumu di luar," ucapnya sebelum hilang dibalik pintu.


Megan langsung terduduk saat Theo sudah pergi dan menghilang dari pandangan matanya. Dia berusaha menenangkan diri kemudian mencari baju di walk in closet kamar itu, bahkan baju dan barang-barangnya yang masih tersisa dulu masih ada di sana.


Dia mengambil satu dress dan memakainya.


"Kenapa Ara belum tidur?" gumam Megan.


Karena ingin melihat putrinya, Megan keluar kamar dan ternyata memang benar anak itu menunggunya di meja makan.


"Ibu, ayo cepat nanti supnya keburu dingin," ucap Ara ketika melihat Megan.


Terpaksa Megan ikut duduk di meja makan itu karena memang lapar dan badannya terasa sakit semua, dia butuh makanan untuk memulihkan tenaga.


Megan tidak kaget karena memang Theo dari dulu cukup pandai memasak.


Akhirnya mereka bertiga makan bersama di satu meja makan yang membuat Ara kesenangan. Anak itu makan dengan lahap sambil sesekali melihat ibunya.


"Ibu, bukankah kita mirip?" tanya Ara disela makannya.


"Wajahmu memang dominan ibumu," tanggap Theo karena Megan hanya diam saja.


"Setelah ini aku akan ke tempat Tia, kenapa dia meninggalkan aku dan harus berakhir di sini?" Megan benar-benar tidak ingat kejadian setelah makan buah kecubung. "Bukankah tadi kita berada di rumah sakit?"


Ara dan Theo hanya diam tidak menjawab kebingungan Megan, mereka melanjutkan makan sampai Megan benar-benar akan pergi ke rumah Tia.


"Ini sudah tengah malam, pesan taksi online pun jarang ada jadi tunggu saja sampai besok, sepertinya kita punya jadwal yang sama karena harus pergi ke agensi film," ucap Theo mencoba mencegah Megan pergi.


"Kenapa kau harus ikut ke agensi?" tanya Megan.


"Apa kau tidak tahu? Film yang kau ambil dari Tia, pemeran utama prianya adalah aku," jawab Theo.


Megan membelalakkan mata, bisa-bisanya dia akan satu film dengan lelaki itu. "Kau bercanda, 'kan? Kau bahkan tidak bisa berakting!"


"Aku sudah banyak belajar di setiap video clip laguku dan aku beberapa kali diundang menjadi cameo di film box office. Sekarang aku ditawari menjadi pemeran utama, tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan," balas Theo meyakinkan.


"Aku tidak percaya kalau belum mendengar dari Tia," Megan masih berusaha mengelak dan pergi.


Saat dia akan membuka pintu, Theo menahan tangan Megan dari belakang.


"Bagaimana cara membuatmu supaya bisa percaya?" bisik Theo di telinga Megan yang membuat perempuan itu merinding. "Apa kita perlu berakting jadi pasangan?"


"Tapi, bukankah kita memang pasangan?" Theo menggigit daun telinga Megan dengan agresif.


Ini sangat berbeda dari Theo yang dulu.