Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 53 - Ancaman



Megan terdiam sejenak, matanya memandangi wajah Theo yang berada di depannya dengan sayu.


Kemudian dia mengulurkan satu tangannya untuk mengelus pipi pemuda itu.


"Anak kecil sepertimu tidak perlu tahu dan bukankah kita sudah berpisah?"


"Kenapa kau mengikutiku dan mau ikut campur dengan urusanku? Semua yang aku lakukan, tidak ada hubungannya denganmu," Megan mulai mengeluarkan kata-kata pedasnya.


Theo tidak tersinggung, dia justru tersenyum sambil memegangi pergelangan tangan Megan yang mengusap pipinya.


"Walaupun kita baru mengenal dua bulan terakhir ini, aku tahu kakak itu orang seperti apa jadi aku akan menganggap kalau saat ini kakak sedang kemasukan setan," ucap Theo yang akan melakukan apapun demi istrinya. "Kalau setannya sudah pergi, aku siap menerima kakak kembali!"


"Mungkin memang saat ini, aku tidak perlu tahu urusan kakak, jadi aku tidak akan bertanya lagi karena aku percaya pada kakak!"


Megan buru-buru menjauhkan tangannya, dia membalik badan dan naik ke atas ranjang untuk berbaring membelakangi Theo. Dia tengah menyembunyikan air matanya yang akan jatuh.


"Kak Tia sebentar lagi pasti akan sampai kesini jadi aku pamit pulang, aku akan keluar dari apartemen kakak, aku pasti bisa menjadi suami yang seperti kakak mau jadi cepatlah usir setan itu pergi," pamit Theo. Dia menahan semuanya karena masih berharap hubungannya dengan Megan akan kembali seperti semula.


Tidak ada jawaban apapun dari Megan tapi dari punggung istrinya yang bergetar, Theo yakin kalau Megan saat ini tengah menangis.


Entah apa yang ada dipikiran perempuan itu, Theo masih tidak bisa menebaknya.


Pemuda itu pun keluar dari kamar dan menunggu Tia datang, dia belum tenang kalau Megan masih sendirian.


"Theo..." panggil Tia yang baru sampai.


Theo mendekati manager itu dan memberikan passcard kamar yang ditempati Megan. "Kakak sepertinya sedang tidak enak badan, dia tadi muntah-muntah cukup banyak. Jadi, tolong jaga istriku, aku akan pulang!"


Tia akan menunggu waktu yang pas untuk memberitahu Theo, dia juga perlu tahu apa yang disembunyikan Megan darinya.


"Tenang saja, pekerjaanku memang menjaga tuan Puteri yang merepotkan itu," balas Tia.


"Dan tentang produser musik itu aku tidak main-main, dia sudah melihat video viralmu!"


Theo mengangguk, dia akan mengambil kesempatan emas itu. Dia pasti bisa menjadi orang sukses, benar kata Megan tidak mungkin dia selamanya akan menjadi petugas kebersihan.


Malam itu juga, Theo kembali dengan menyewa mobil karena tidak memungkinkan memakai kereta api lagi.


Sementara Tia mendatangi Megan yang pada saat itu sudah tertidur. Dari sudut mata yang basah, Tia menduga Megan habis menangis.


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" gumam perempuan itu.


Tia ikut membaringkan diri di samping Megan dan mencoba memejamkan matanya tapi baru saja akan terlelap, dia mendengar ponsel Megan yang berbunyi.


"Siapa yang menelpon di dini hari begini?" gerutu Tia yang berniat mematikan ponsel Megan.


Ternyata Ruben yang melakukan panggilan.


Karena penasaran, Tia menerima panggilan itu dan saat dia meletakkan ponsel di daun telinganya terdengar suara Ruben yang tampak marah.


"Megan... beraninya kau mengambil laptopku! Aku akan melaporkan ini sebagai kasus pencurian dan lihat saja semua file itu akan tersebar di depan publik!" ancam Ruben.