
Mendapat perlakuan tak terduga seperti itu, jantung Megan langsung berdesir hebat. Sepersekian detik Megan dan Theo saling memandang satu sama lain.
Sampai Megan buru-buru mengalihkan pandangan dan memasang maskernya lagi.
"Hati-hati jika menciumku di tempat umum," ucap Megan memberi peringatan.
Theo menggaruk rambut barunya yang tidak gatal, dia tiba-tiba saja ingin melakukan itu.
"Kita singgah beli bahan makanan ya, Kak," Theo akhirnya berusaha membuat suasana di antara mereka tidak canggung.
"Memangnya kau bisa memasak?" tanya Megan.
"Iya, tapi hanya masakan kampung biasa. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kakak sudah habis banyak uang hari ini," sahut Theo. Kalau ditotal-total Megan memang habis sekitar dua puluh jutaan.
"Padahal uang segitu bisa buat beli motor," lanjutnya.
"Kau mau motor baru?" Megan justru bertanya seperti itu. "Ide yang bagus dari pada kau setiap hari naik ojek!"
Bukannya belanja bahan makanan, Megan membawa Theo pergi ke sebuah dealer motor. Di sana Megan ingin membelikan motor besar tapi Theo menolak keras.
"Jangan, Kak. Jangan...." Theo terus saja menolak.
"Sebenarnya aku tidak bisa naik motor!"
Megan melipat kedua tangannya di dada mendengar itu, Theo pikir istrinya akan mengeluarkan jurus marahnya lagi tapi ternyata dia salah.
"Kalau begitu, beli motor matic saja nanti aku akan mengajarimu," ucap Megan.
Sebuah motor matic Megan beli untuk Theo dan perempuan itu memberikan alamatnya serta nomor security sebagai penerima motor.
"Besok motornya sudah harus diantar, okay," ucap Megan sebelum pergi.
Theo benar-benar dibuat kehabisan kata-kata karena Megan yang membeli apa-apa seperti membeli kacang goreng.
"Belanja bahan makanannya besok saja sekalian sambil belajar motor, aku ingin istirahat. Bukankah kau juga baru pulang kerja?" ucap Megan ketika sudah kembali ke dalam mobil.
"Kalau untuk makan, pesan saja dulu. Kau mau makan apa?"
"Kau pikir aku akan membiarkanmu makan telur terus-terusan. Di usiamu itu kau masih bisa tumbuh jadi harus banyak makanan bergizi," balas Megan.
Lagi-lagi Theo dibuat diam seribu bahasa, Megan singgah membeli ayam goreng drive thru supaya tidak turun-turun lagi dari mobil.
Megan membeli satu ember dan dia berikan pada Theo. "Makan sampai habis!"
"Kakak makan apa?"
"Aku akan syuting jadi harus menjaga berat badan. Kalau mau memasak untukku siapkan saja salad sayur atau makanan yang kalorinya rendah,"
Theo mengangguk paham, dia pasti akan mencarinya di internet nanti.
Sesampai di apartemen, Megan langsung melempar topi dan membuka jaket semaunya. Dia merasa kepanasan.
"Ambilkan aku minum," pinta Megan.
Theo meletakkan semua belanjaan dan langsung mengambilkan Megan air minum dari kulkas.
"Istirahatlah, waktumu hanya beberapa jam lagi untuk kembali bekerja," Megan membaringkan diri di sofa.
"Tidak mau, aku di sini saja sama kakak," balas Theo sambil memijit kaki Megan. "Kalau kakak butuh nafkah batin aku siap!"
Hanya itu yang bisa Theo lakukan untuk membalas jasa Megan padanya, kali ini dia akan menurut dan tidak banyak bertanya.
Megan tergelak karena Theo yang menawarkan diri dengan santai padanya. Padahal waktu awal-awal pemuda itu menangis bukan main.
"Apa kau mulai menyukainya?" tanya Megan.
"Rasanya ada getaran dalam tubuh saat bergerak maju mundur," jawab Theo jujur.
Semakin Theo jujur semakin membuat Megan tertawa. Dia pun membuka tasnya dan mengeluarkan pengaman yang telah dia beli sebelumnya.
"Kita pakai ini," ucap Megan.
"Apa ini, Kak?" Theo bertanya-tanya sambil membuka kotak pengaman. Karena bungkusnya bening membuat benda di dalamnya terlihat. "Apa kita akan bermain balon?"