Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 82 - Penyerahan Diri



Megan melihat sawah yang begitu luas yang saat ini ditanami padi yang sebentar lagi panen, dia melihat warna padinya yang menguning.


Bukan hanya itu saja yang menarik, ada orang-orangan sawah yang Megan bisa lihat secara langsung.


"Jadi, itu menantumu?" tanya Budhe Juminten yang berjalan berdua bersama Ibu Sri.


"Iya, itu ibunya Ara," jawab Ibu Sri.


Budhe Juminten melihat Megan dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, memang cantik tapi wanita itu tidak suka karena Megan telah meninggalkan Ara dari bayi. Walaupun dia pernah terjerat skandal selingkuh di kebun pisang tapi dia tidak pernah punya pikiran akan meninggalkan anaknya.


"Oh jadi ini yang ditunggu Sulis sampai nolak kembang desa di kampung kita," sindir Budhe Juminten ketika sudah dekat dengan Megan.


"Ibu siapa, ya?" tanya Megan bingung tiba-tida dimarahi oleh wanita itu.


"Kenalkan aku itu Juminten, tetangganya Sulis. Aku lihat sendiri dari jendela rumahku waktu Sulis pulang dari kota nangis-nangis bawa bayi, memang kau itu ibu tidak bertanggung jawab," Budhe Juminten meluapkan emosinya.


Ibu Sri mencoba menengahi dan meminta Budhe Juminten untuk pergi. "Sudahlah, Mbak. Tidak enak dilihat orang. Megan punya alasan dan itu biar keluarga kami saja yang tahu!"


"Ayo, ikut Ibu!" Ibu Sri langsung menarik tangan Megan dan membawa perempuan itu ke sebuah gubuk. "Nanti kulitmu gosong kalau panas-panasan!"


Megan merasa terharu karena mertuanya membela dan memperhatikan dirinya.


"Yang dikatakan Budhe Juminten tadi benar adanya," ucapnya kemudian.


"Kan Ibu sudah bilang kalau yang lalu biarlah berlalu, yang penting kau kembali pada Sulis dan Ara. Ibu hanya butuh janjimu supaya tidak meninggalkan mereka lagi, mereka tulus menyayangimu, ibu saksi hidupnya," balas Ibu Sri yang membuat Megan menitikkan air mata.


Pada saat itu, Theo kembali setelah berbincang pada para mandor yang bertanggung jawab untuk panen padi bulan ini.


"Istriku kenapa, Bu?" tanya Theo ketika melihat Megan menangis.


"Hanya sakit mata," Megan memberi alasan.


"Jangan, malu," tolak Megan karena masih ada Ibu Sri di sana.


"Ibu mau pulang dulu sebentar lagi Ara pasti pulang," Ibu Sri yang tahu diri lebih baik pergi meninggalkan pasangan yang dimabuk cinta itu.


"Titip Ara dulu. Aku masih mau menculik ibunya," ucap Theo yang mendapat pukulan dari Megan.


"Aku memang masih mau bersamamu jadi ayo kita pergi ke rumah kita," ajaknya seraya menggandeng tangan istrinya.


"Rumah kita?" tanya Megan.


"Yang aku bicarakan semalam," jawab Theo.


Mereka berjalan berdua pergi ke rumah yang Theo bangun selama ini untuk Megan.


"Selama proses pembangunan aku minta pendapat Tia, untuk menyesuaikan selera istriku," jelas Theo.


Megan melihat rumah yang tampak mewah untuk ukuran rumah di kampung, dari cat rumah itu saja memang Megan banget. Di dalam belum terlalu banyak furniture karena Theo memang akan meminta Megan mengisi dan menata rumah mereka.


"Bagaimana?" tanya Theo seraya memeluk Megan dari belakang.


"Aku sudah berusaha keras selama bertahun-tahun, apa sekarang kita sudah sejajar?"


"Apa kau bercanda, kau sudah melampauiku dan aku jauh ada di bawahmu," jawab Megan.


Perempuan itu membalik badannya supaya bisa menatap Theo yang sekarang jauh lebih tinggi darinya.


"Mulai sekarang, aku akan menyerahkan diriku padamu," ucap Megan sambil berjinjit mengecup bibir suaminya.