Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 43 - Bangkit dan Jatuh



Theo tersenyum melihat amplop yang ada di tangannya, amplop itu berisi gaji dan bonusnya.


"Aku harus mengirim uang pada ibu," gumam Theo tidak sabar.


Dari arah belakang Bisma datang dan merangkulnya.


"Serahkan semua padaku! Aku kan sekarang jadi managermu," Bisma begitu bersemangat padahal Theo belum memulai apapun.


"Ibuku tidak punya nomor rekening jadi aku akan mengirim pada tetanggaku," jelas Theo.


Pemuda itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam dompetnya di mana ada nomor rekening Budhe Juminten yang dia sudah tulis sebelum berangkat ke ibukota.


"Ini nomor rekeningnya," Theo memberikannya pada Bisma.


"Kau bisa mengirim sendiri uangnya memakai aplikasi banking, sini aku ajari," Bisma meminta ponsel Theo kemudian mengajari pemuda itu bertransaksi uang secara online.


Butuh waktu satu jam mengajari itu semua karena harus ada verifikasi data yang memakan waktu dan Bisma harus menjelaskan secara detail.


"Ya ampun aku merasa baru keluar dari goa," ucap Theo yang merasa ketinggalan jaman.


Beruntung dia bertemu dengan orang-orang baik yang mau mengajarinya suka rela.


"Semoga saja ibumu cepat membeli ponsel dan kau bisa berhubungan dengannya," sahut Bisma.


"Budhe Juminten sudah aku beritahu pasti dia akan mengajari ibuku," ungkap Theo.


"Kalau begitu sekarang kita membahas masalah pekerjaan," Bisma kembali membuka ponsel Theo dan mendownload beberapa aplikasi sosial media. "Mulai sekarang kau harus mempunyai akun sosial media seperti instagram dan tiktok!"


"Apa kak Megan mempunyai itu semua?" tanya Theo.


"Tentu saja, semua artis memiliki akun sosial media. Apalagi sekelas Megan Brox pasti sudah centang biru," jelas Bisma sambil mengutak-atik ponsel temannya itu.


"Centang biru?" Theo bertanya lagi karena tidak mengerti.


"Itu artinya akun sudah diverifikasi oleh aplikasi dan pengguna akun tersebut adalah asli, bukan akun abal-abal," jelas Bisma.


Dia sudah berhasil mendownload instagram dan membuat akun dengan nama panggung Theo.


"Iya, aku suka nama itu," Theo mengambil ponselnya lagi dan mencari akun Megan yang sudah centang biru.


Ketika menemukan akun itu, dia bisa melihat jutaan followers yang mengikuti istrinya. Dia kemudian melihat aktivitas Megan di mana sebulan terakhir perempuan itu tidak terlalu membagikan proses syutingnya.


Theo tersenyum melihat berbagai potret Megan yang cantik, siapa sangka kalau artis itu adalah istrinya.


"Sekarang kita harus masukkan foto dalam akunmu supaya kau punya followers," Bisma memberi saran.


"Kita bisa menggunakan efek supaya wajah lebam mu itu tidak kelihatan," lanjutnya.


Kemudian Bisma memotret Theo dan membagikan foto pertamanya.


"Kalau memarnya sudah berkurang, satu persatu tawaran undangan televisi harus kau terima. Kau harus menunjukkan prestasimu, siapa tahu ada rumah produksi musik yang menawarkan kerja sama," ucap Bisma penuh harap.


"Jangan hanya viral lalu tenggelam, kau harus bersinar,"


Kata-kata motivasi dari Bisma itu membulatkan niat Theo untuk terjun ke dunia entertainment.


"Sebentar lagi aku pasti akan sejajar dengan kakak," batin Theo.


Di sisi lain, Megan mulai bersiap-siap untuk adegan jatuh.


Dia berusaha melawan rasa mual yang terus melandanya.


"Come on Megan! Sebentar lagi selesai," gumam Megan yang sudah naik ke atas.


Perempuan itu menunggu aba-aba dari sutradara, kepalanya terasa pusing tapi Megan berusaha menahannya. Ketika sutradara sudah memberi aba-aba, Megan terjun bebas dari atas tanpa rasa takut.


Bukan karena tengah berakting tapi Megan pada saat itu sudah pingsan dan jatuh ke bawah.


Di kamera terlihat natural tapi ketika Megan sudah jatuh ke matras, semua crew film tampak panik.


"Megan..."