
Setelah makan seblaknya sampai habis, Tia ingin membicarakan masalah berita yang tengah beredar.
"Kau pasti sudah melihat beritanya, 'kan? Ruben melakukan konfirmasi secara sepihak dan aku yakin produser akan mendukung berita itu karena menguntungkan untuk film," ucap Tia.
Megan menganggukkan kepalanya. "Aku juga berpikir seperti itu, secara tidak langsung seperti promosi terselubung apalagi Ruben jadi cameo di film baruku! Sial!"
"Untuk sementara kita tidak bisa meredam sampai syuting film selesai jadi yang bisa kita lakukan adalah memperkecil beritanya. Jangan sampai ada paparazi yang menangkap potret kalian berdua lagi atau jaga jarak dari lelaki itu," balas Tia memberi solusi.
Megan tidak masalah tapi bagaimana dengan Theo? Apa suaminya bisa menutup mata dan telinga seperti dirinya?
"Tidak apa-apa, 'kan?" tanya Megan seraya mengusap tangan Theo yang duduk di sampingnya.
Walaupun cemburu Theo harus menahannya karena sudah resikonya menjadi suami seorang artis. Bukankah dia yang minta dinikahi oleh Megan?
Jadi, Theo harus bisa berbesar hati.
"Apa di film kakak ada adegan ciuman?" tanya Theo yang justru keluar dari topik pembicaraan.
"Kenapa bertanya seperti itu? Kalau pun ada, aku harus tetap bersikap profesional," jawab Megan.
"Lain kali kalau kakak ingin mengambil kontrak film lagi, aku harap kakak bisa memilih yang tidak ada adegan intimnya seperti itu," ucap Theo mulai menunjukkan rasa posesifnya sebagai suami.
Theo tidak melarang syuting hanya saja meminta Megan memilih film yang tidak ada adegan ciuman atau hal intim lainnya.
"Kau membatasi karirku? Jangan gunakan alasan konyol lagi, ya. Aku tidak suka!" Megan menunjukkan sikap arogannya lagi.
Namun, dia tidak bisa berkutik karena Theo sangat tegas melarang Megan.
"Ini perintah suami jadi kakak harus patuh," ucapnya.
Megan menelan ludahnya, ini karena dia sudah terkontaminasi oleh azab dan Budhe Juminten jadi powernya berkurang semenjak mereka tinggal bersama.
"Akan aku pikirkan nanti," balas Megan kemudian.
Dia melanjutkan makan seblaknya setelah itu bersiap-siap untuk berangkat.
"Biar aku yang membawanya," ucap Theo yang ingin mengantar istrinya sampai ke parkiran.
Megan tidak menolaknya, dia membiarkan Theo mengantarnya sampai ke parkiran. Di sana Theo ikut masuk ke dalam mobil untuk mencairkan suasana yang sebelumnya sempat tegang.
"Aku boleh telepon kakak, 'kan?" tanya Theo.
"Tentu saja boleh, kita bisa melakukan panggilan video kalau ingin melihat wajah satu sama lain," jelas Megan.
"Aku akan mencari tempat supaya kita tidak ketahuan," lanjutnya.
"Sampai kapan kakak akan menyembunyikan aku?" tanya Theo tiba-tiba.
Pertanyaan yang sulit dijawab oleh Megan.
"Aku akan menunggu kakak mengakuiku, walaupun harus membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya," ucap Theo dengan senyuman ketulusan.
"Theo..." Megan tidak tahu harus berkata apa, dia dibuat bingung dengan keadaan.
"Tidak apa-apa, aku menyukai kakak," Theo berkata sambil mencium Megan dengan penuh kelembutan. "Aku harap rasa cintaku tersampaikan!"
Setelahnya, Theo turun dari mobil dan melambaikan tangannya.
Dia melihat mobil Megan yang berjalan menjauh. Dalam hatinya berkata, pasti suatu hari nanti Theo akan bisa berdiri sejajar dengan istrinya.
"Pertama-tama, aku sudah lulus bermain lato-lato. Kedua, aku harus lulus naik motor..." Theo pun langsung mencari Parto supaya mengajarinya lagi naik benda roda dua itu.
_
Cerita ini bakal othor bagi jadi 2 seasons ya. Tenang aja, nanti dedek bakal keren kok di seasons 2ðŸ¤
Akan ada bawang dulu tapinya, hehe