Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 36 - Kehidupan Kota



"Cut! Cut!"


Sutradara berteriak dengan nada gusar karena Megan selalu melakukan kesalahan.


"Ulangi sekali lagi," sang sutradara tidak akan menghentikan syuting kalau adegan yang dia inginkan belum terpenuhi.


Dan Megan kembali berakting lagi dengan lawan mainnya.


Bukan karena kualitas aktingnya menurun tapi karena Megan memikirkan Theo yang tidak bisa dihubungi. Dia takut suaminya diusir oleh ibunya.


Namun, Megan harus mengesampingkan itu semua supaya pekerjaannya mendapatkan hasil yang memuaskan.


Setelah berkonsentrasi akhirnya sutradara puas dengan akting para pemainnya dan mendapatkan adegan yang diinginkan.


"Kita break dulu, besok kita akan ganti lokasi," ucap sang sutradara.


Besok semua crew harus ke hutan karena ada adegan yang harus diambil di sana.


Proses syuting sudah berjalan setengah dan setengah lagi, semua scene akan selesai. Megan tidak sabar karena tubuhnya mudah lelah akhir-akhir ini.


"Minum vitaminmu," Tia memberikan botol aspirin Megan yang selalu diminum oleh perempuan itu.


Mereka saat ini sudah kembali ke penginapan dan Megan masih berusaha menghubungi Theo.


"Ponselnya masih tidak aktif," ucap Megan sambil melempar ponselnya.


Dia kemudian mengambil vitaminnya dan meminumnya begitu saja.


"Aku yakin Theo pasti bisa menghadapi mommy mu, kau saja dibuat tidak berkutik oleh suamimu," Tia berusaha memberi sugesti positif. "Kau harus fokus, jangan seperti hari ini."


"Iya aku tahu," jawab Megan.


Dia masih berbaring dan Tia ikut berbaring di sampingnya kemudian menggoda sang artis.


"Kau menyukai suamimu, 'kan? Kalau kau tidak suka, tidak mungkin kau akan secemas ini," goda Tia.


"Apaan sih, aku hanya tidak mau dia kembali ke tempat kos nya yang kumuh itu," elak Megan.


"Itu artinya kau peduli pada suamimu, kau juga bermain lato-lato lagi dan lagi, 'kan?" Tia jadi ikut-ikutan dengan istilah Theo itu. "Apa karena hal itu?"


"Pasti suami bocilmu membuatmu puas, 'kan? Karena dia bermain dengan perasaan bukan nafsu seperti laki-laki yang menghabiskan satu malam denganmu?"


Kini suasana menjadi begitu serius tapi Megan hanya diam saja. Dia masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya.


Disisi lain, Theo merasa matanya kedutan.


"Apa ada yang membicarakan aku?" gumamnya.


Mengabaikan pikiran itu, Theo kembali bekerja sampai manager club malam itu memanggil dirinya.


"Iya, Bos," jawab Theo.


Manager itu memandangi Theo yang menurutnya pas, sesuai seperti yang diharapkan tamunya. Muda, tampan dan rapi.


"Kau mau uang tambahan?" tanyanya.


"Kenapa, Bos?" Theo jadi bingung karena bosnya tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Ada tamu yang ingin ditemani di ruang VIP, kau bisa, 'kan?" tanyanya.


"Ditemani bagaimana?" Theo yang polos tentu saja tidak mengerti.


Manager itu lalu mendekat dan berbisik pada Theo. "Kau bisa memberikan service plus-plus, 'kan? Kau akan mendapat bonus yang besar kalau bisa!"


"Maaf, saya tidak bisa," Theo yang mengerti langsung menolak dengan tegas. Bisa-bisanya manager itu menawarinya hal seperti itu, dia hanya mau bermain lato-lato dengan Megan seorang.


Kalau pun dia kesulitan uang, dia tidak akan mau melakukan itu.


"Cih, sombong sekali kau! Kau dipecat sekarang juga," sang manager yang tidak terima penolakan langsung memecat Theo.


"Baiklah tapi tolong hak saya selama bekerja di sini juga diselesaikan," balas Theo yang meminta gajinya.


Bukannya diberi gaji, malam itu Theo diseret oleh beberapa bodyguard dan dipukuli sampai babak belur di belakang bangunan club.


"Ini akibatnya kalau menolak perintah dari bos," ucap salah satunya dengan memberikan tendangan terakhir.


Theo ambruk dan tengkurap, mulutnya mengeluarkan darah.


"Kakak..." lirihnya memanggil Megan.