Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 63 - Namira Sulistiyono



7 Tahun Kemudian....


Seorang anak perempuan tengah bermain di kandang ayam belakang rumahnya. Anak itu mempunyai ayam jago kesayangan bernama Jarwo.


"Jarwo, ayo makan jagung dulu. Jagung ini ditanam dan dibesarkan oleh nenek seperti anak sendiri," ucap anak perempuan itu seraya menebar biji-biji jagung ke tanah.


Jarwo berlari dan langsung memakan biji-biji jagung itu.


"Ara..."


Suara itu berasal dari wanita paruh baya yang selama ini menjaga anak perempuan itu.


"Sebentar, Nek. Masih melihat Jarwo makan," balas anak perempuan itu yang masih berjongkok melihat ayam jagonya.


Ya, anak perempuan itu adalah Namira Sulistiyono yang biasa dipanggil Ara. Anak itu sekarang berusia tujuh tahun dan sudah kelas satu sekolah dasar.


Dan yang memanggilnya adalah Ibu Sri Astuti, ibunya Theo.


"Cuci tangan dulu lalu makan nanti ayahmu tanya terus sama nenek," ucap Ibu Sri yang selalu diteror oleh Theo ketika mereka berjauhan.


Theo sangat menyayangi Ara, kalau dia bekerja di ibukota pasti selalu menyempatkan diri menelepon untuk menanyakan keadaan putri kecilnya.


Ibu, Ara sedang apa?


Ara sudah makan, 'kan?


Jangan biarkan main ayam terus apalagi main tainya!


Begitulah yang dihadapi oleh Ibu Sri setiap Theo meneleponnya.


"Ayah kapan pulang, Nek?" tanya Ara seraya mencuci tangannya di kran air.


"Katanya besok, ayahmu nanti malam mau konser jadi kita bisa melihatnya," sahut Ibu Sri.


Mendengar itu, Ara kesenangan, baginya Theo adalah segalanya.


Ara pun langsung masuk ke rumah dan langsung makan dengan baik, kalau dia jadi anak penurut kata Theo, ibunya akan cepat pulang.


Walaupun Ara tumbuh tanpa sosok ibu, Theo tetap memperkenalkan Megan pada putrinya dan memberitahu kalau perempuan itu yang melahirkan Ara ke dunia.


"Sebentar lagi hari ibu, apa ibu masih belum pulang, Nek?" tanya Ara disela makannya.


Jika Ara bertanya seperti itu, Ibu Sri hanya bisa menangis dalam hatinya karena dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Makan jangan sambil bicara," balas Ibu Sri sambil menambah sayuran ke piring cucunya.


Semenjak Theo membawa Ara tujuh tahun lalu, Ibu Sri langsung jatuh cinta pada cucunya. Dia bertanya mengenai ibu bayi itu dan Theo menjelaskan semuanya.


Sebenarnya bisa saja Theo membawa ibunya dan Ara pindah ke kota tapi Theo memilih Ara besar di kampung saja karena kalau di kota, Ara akan menjadi sorotan publik. Theo tidak mau Ara kenapa-kenapa, lebih aman tinggal di kampung.


Tentang cita-cita Theo yang menjadi juragan sawah sudah terwujud semenjak Ara berumur tiga tahun, bahkan Theo mempunyai pabrik beras dan membuka lapangan pekerjaan di kampungnya.


Kampung Theo yang terbelakang kini mulai dikenal sebagai pemasok beras lokal.


Biarpun sukses menjadi juragan sawah, Theo masih menerima job manggung bahkan dia menjadi juri di sebuah ajang televisi. Kalau masalah ekonomi dan karir, Theo tidak kekurangan apapun.


Lelaki itu hanya menginginkan istrinya kembali padanya.


"Kata nenek, ayah akan pulang besok," ucap Ara ketika melakukan video call bersama Theo.


"Iya, anak ayah ingin apa?" tanya Theo sambil memandangi wajah putrinya yang perpanduan dirinya dan Megan. "Apa kita beli ayam betina untuk Jarwo?"


Ara tertawa mendengar tawaran Theo itu. "Tidak usah, Ayah!" tolaknya.


"Kenapa?" tanya Theo bingung.


"Kasihan Ayah, masak kalah sama Jarwo. Nanti Jarwo punya pasangan tapi ayah sendirian," sindir Ara.


SKAKMAT!


_


Namira/Ara





Ayah Theo