
Parto bertepuk tangan sambil mengacungkan jempolnya karena melihat Theo yang mulai lancar bersepeda motor.
"Bagus!" teriak Parto.
Theo mendekati Parto dan menghentikan motor di depan lelaki itu. "Sekarang sudah bisa ke jalan raya, 'kan?"
"Nanti kalau SIM mu sudah jadi, paling sebentar lagi kan pakai orang dalam," jawab Parto.
"Hust, jangan nyaring-nyaring. Kan nanti ketahuan kita bisa masuk penjara," ucap Theo yang takut karena sudah melakukan nepotisme.
"Pokoknya nanti kalau sudah jadi, aku antar ke unit nona Megan dan kau bisa belajar di jalan raya sekalian mengingat jalanan ibu kota," jelas Parto.
Rasanya Theo sudah tidak sabar lagi karena kalau dia sudah menguasai jalanan, dia bisa mengajak kencan Megan ketika istrinya sudah pulang nanti.
"Sebenarnya kau adik dari nona Megan dari mana? Wajah kalian tidak mirip dan..." Parto menatap Theo dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Dan apa?" tanya Theo. "Kami memang bukan saudara kandung. Kakak membawaku tinggal bersamanya karena aku berasal dari kampung!"
"Ah..." Parto jadi paham sekarang. "Tapi nona Megan begitu perhatian, ya?"
"Kakak memang baik," sahut Theo jadi merindukan istrinya padahal mereka baru beberapa jam terpisah.
Mulai hari dan seterusnya dia harus membiasakan diri dengan hal itu.
Theo akan bekerja dan tidak lupa kalau ada waktu, dia selalu mengirim pesan pada Megan, kadang mereka melakukan panggilan video secara sembunyi-sembunyi.
"Aku akan sibuk jadi mungkin tidak bisa menghubungi kakak seperti ini lagi," ucap Theo melapor.
"Oh iya?" Megan tidak bertanya lebih detail karena dia juga sibuk dengan syutingnya.
Bukan tanpa alasan Theo melapor, dia sekarang sudah bekerja di dua tempat sekaligus untuk mendapatkan uang tambahan.
Saat jadwalnya shif siang, malamnya dia akan bekerja di club malam.
Bedanya di club malam, Theo menjadi pelayan untuk mengantarkan pesanan para pengunjung. Di sana Theo memakai nama yang diberikan Megan padanya.
Theo mendekat dan dia diberikan nampan berisi minuman beralkohol untuk dia antar ke meja tamu.
"Meja nomor 53!"
Dengan cepat Theo mencari meja itu yang ternyata adalah meja VIP.
"Silahkan," ucap Theo seraya meletakkan minuman di atas meja.
Atensi pemuda itu tertuju pada laki-laki yang ada di sana, ternyata di meja itu ada Ruben dan teman-temannya.
"Tenang saja, sebentar lagi aku pasti akan mendapatkan Megan. Kalian harus siapkan hadiah kemenanganku," ucap Ruben yang suaranya jelas terdengar di telinga Theo.
Theo memperlambat pekerjaannya supaya bisa mendengar lagi, hatinya langsung panas karena mereka tengah membahas istrinya.
Dari sini Theo bisa menyimpulkan kalau Ruben mendekati Megan karena sebuah taruhan.
"Tenang saja, hadiahmu sudah kami siapkan apalagi kalau kau berhasil tidur dengan Megan," balas rekan Ruben di sana.
Seketika Theo langsung mengepalkan kedua tangannya, apa maksud mereka? Apa mereka akan menjebak Megan?
"Ternyata di kota banyak iblis berwujud manusia," gumam Theo setelah menjauh dari meja itu.
"Aku harus bisa melindungi kakak," lanjutnya.
Untuk sekarang Theo memang tidak bisa berbuat apa-apa tapi dia akan membicarakan ini pada Megan nantinya.
Pemuda itu akan bekerja sampai subuh menjelang, dia akan tidur satu atau dua jam kemudian bekerja lagi di hotel.
Rasa lelah tidak dia hiraukan sama sekali, dipikiran Theo sekarang adalah bagaimana caranya bisa mencari uang.
"Suatu hari kakak akan mengakui aku, 'kan?" tanya Theo pada potret Megan yang berada di papan iklan.