
Untuk memastikan Megan mencoba menghubungi Theo tapi ponsel suaminya masih tidak aktif. Akhirnya Megan meminta bantuan Parto.
Parto yang sudah diberitahu Megan password unitnya segera mengecek keadaan Theo.
"Astaga!" Parto terlihat panik ketika melihat Theo yang terbaring di sofa dengan wajah babak belur.
"Wajahmu kenapa?"
Parto langsung mengecek keadaan pemuda yang ternyata tengah demam itu.
Pertolongan pertama, Parto membuka semua pakaian Theo sampai pemuda itu hanya mengenakan celana pendek saja.
Kemudian, security itu mengambil air hangat untuk mengompres tubuh Theo.
Ternyata Theo pingsan sampai tidak terbangun ketika Parto merawatnya.
"Aku tinggal beli obat dulu," Parto pamit ke apotik untuk membeli obat pereda demam dan penahan rasa nyeri.
Di dalam perjalanan, Parto menghubungi Megan untuk melaporkan keadaan Theo bahkan security itu sampai mengirimkan fotonya.
"Oh God!" Megan menutup mulutnya karena melihat kondisi Theo yang menyedihkan.
Jadi, video viral itu benar adanya.
"Kenapa tidak bilang?" Megan jadi kesal pada suaminya padahal jelas-jelas tadi malam Theo menghubunginya. "Kenapa kau begitu bodoh? Apa karena ingin menjaga perasaanku lalu mengabaikan keadaanmu?"
"Dan sejak kapan kau kerja di club malam?"
Megan meneteskan air matanya, dia marah dengan keadaan. Theo pasti membutuhkan dirinya.
"Ada apa?" tegur Tia yang melihat Megan menangis seperti itu.
"Lihatlah sendiri," Megan memberikan ponselnya pada Tia supaya asistennya itu melihat sendiri keadaan Theo.
Sama terkejutnya, Tia jadi yakin kalo memang di video viral itu adalah suami Megan.
"Theo sekarang sedang dicari-cari kalau media sampai menemukan suamimu lalu hubungan kalian terbongkar bagaimana?" Tia jadi cemas.
"Jangan memikirkan itu dulu, keadaan Theo jauh lebih penting. Kita tidak bisa pergi karena terikat kontrak dan aku harus profesional," tegas Megan.
"Baiklah, kau mendapat foto ini dari Parto, 'kan? Serahkan semua pada dia dan minta dia melaporkan keadaan Theo secara berkala," Tia mulai bersikap tenang dan mencoba memberi masukan. "Bukankah Theo babak belur karena dihajar oleh anak buah bosnya? Kita bisa menuntut mereka apalagi Theo tidak bersalah, dia dipaksa melayani tamu dengan service plus-plus!"
Memikirkan lato-latonya disuruh bermain paksa dengan orang lain membuat darah Megan mendidih.
Megan membayar buzer untuk menaikkan berita mengenai manager club itu supaya polisi bisa memeriksa ada bisnis prostitusi di sana.
Dalam hitungan jam saja para buzer sudah mampu membuat trending topic dan polisi jadi tergerak untuk memeriksa karena ada kegelisahan public.
Dan memang terbukti di club itu ada bisnis prostitusi terselubung.
Club ditutup dan nama Theo semakin dicari-cari karena berkat pemuda itu, bisnis prostitusi itu bisa terungkap.
Sementara Theo sendiri masih belum sadar kalau tengah viral.
"Eugh!" Theo melenguh dan membuka matanya.
"Syukurlah, kau sudah sadar," ucap Parto yang masih setia menunggu.
Theo mendudukkan diri dan memegangi kepalanya. "Apa yang terjadi?"
"Kau pingsan dan demam, untung nona Megan cepat menghubungiku," jawab Parto.
"Kakak? Bagaimana dia tahu?" Theo jadi bingung.
Parto mengambil bubur ayam yang telah dia beli sebelumnya. "Makan ini lalu minum obatmu!"
"Apa ibu sudah pulang?" Theo menanyakan keberadaan Berta.
"Jangan pikirkan orang lain dulu," Parto meminta Theo untuk tidak banyak bicara.
Theo pun menurut, dia memakan bubur setelah itu meminum obat.
"Terima kasih," ucap Theo setelah selesai.
Parto mengambil ponsel lalu memotret Theo yang keadaannya sudah membaik. "Laporan dulu!"
Setelah foto Theo terkirim barulah security itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Belum sempat Theo bercerita, pintu apartemen tiba-tiba terbuka dan sosok Berta muncul di sana.
Ibu Megan itu berjalan mendekati Theo dan Parto tapi atensinya tertuju pada pemuda yang wajahnya membiru itu.
"Kau menipuku, ya?" tanya Berta.