
Tia tahu bagaimana Megan, perempuan yang kurang kasih sayang itu pasti merasa tersentuh atas perhatian Theo padanya.
"Dari awal aku tidak menyarankan untuk mengakhiri hubungan kalian. Kenapa kau berbicara seperti itu, aku selalu mendukungmu," Tia berkata seraya membantu Megan merapikan rambut.
"Hanya saja kehidupan di dunia entertainer sangat keras, mereka yang iri atau tidak suka pada kita akan mencari celah untuk menjatuhkan. Mereka pasti akan menggunakan Theo sebagai alat untuk membuatmu meredup," sambungnya.
"Aku tahu itu, makanya aku tidak akan pernah membuat Theo masuk ke kehidupanku yang rumit. Aku cukup bisa membentengi diri," balas Megan.
"Tapi, bagaimana perasaan Theo? Kau akan mengabaikannya begitu saja?" tanya Tia memperjelas.
"Aku rasa dia baru mengenal cinta monyet, pasti perasaan itu akan hilang-hilang sendiri nantinya," jawab Megan walaupun kurang yakin.
Beberapa menit kemudian, Megan sudah siap. Dia dan Tia pergi ke hotel tempat di mana acara dilangsungkan.
Dan sialnya acara itu ternyata berada di ballroom hotel tempat Theo bekerja.
"Really? Kenapa tidak bilang dari awal?" protes Megan.
"Theo kan hanya petugas kebersihan, dia tidak mungkin ada di acara itu," balas Tia.
"Aku harap begitu," Megan benar-benar berharap Theo tidak ada di sana.
Megan keluar dari mobil di lobby hotel, ada beberapa media yang meliput pesta itu. Megan sempat diwawancara sebentar kemudian masuk ke dalam tempat acara.
"Megan..." seru Maya ketika melihat temannya datang.
"Happy birthday," Megan mengucapkan selamat dengan cipika cipiki. Kemudian dia memberikan kadonya, sebuah tas branded yang belum pernah Megan pakai.
"Oh my God! Ini kan limited edition," ucap Maya ketika membuka kado dari Megan lalu dia pamer pada Gendhis yang tengah berjalan ke arah mereka. "Lihatlah yang aku dapatkan dari Megan!"
"Tenang saja," balas Megan. Dia ingin langsung berpamitan pulang namun niatnya terhenti karena Maya dan Gendhis menariknya ke meja di mana seseorang tengah menunggunya.
"Lihat, siapa yang datang," komentar seseorang itu.
"Lama tidak bertemu Ruben," ucap Megan yang mengenal lelaki itu. Lelaki yang selalu mencuri kesempatan untuk dekat dengan Megan.
Dia tidak tertarik sama sekali dengan lelaki pebisnis itu karena Megan tahu kalau Ruben mendekatinya hanya untuk memenangkan taruhan.
"Kau semakin cantik, Megan," Ruben meraih tangan perempuan itu dan mengecupnya. Dia sengaja supaya ada paparazi yang memotret mereka untuk dijadikan gosip. "Kau tentu tahu kan kalau film barumu salah satu sponsornya adalah perusahaanku. Aku bahkan akan mendapat sedikit scene di film itu nanti!"
Megan buru-buru menjauhkan tangannya. "Jaga sikapmu, jangan sampai ada gosip murahan karena ini."
"Aku tidak terlalu memperhatikan sponsor filmku tapi aku selalu bekerja secara profesional. Aku harap kau juga begitu," sambungnya.
"Hei, kenapa suasana jadi tegang begini," Maya mencoba mencairkan suasana. "Ini hari ulang tahunku!"
Terpaksa Megan ikut duduk, dia harus mencari alasan supaya bisa pergi dengan cepat dari sana.
Megan mencari keberadaan Tia tapi managernya itu tengah berada di toilet.
Tak lama kekasih Maya dan Gendhis bergabung bersama mereka yang otomatis membuat Megan menjadi berdekatan dengan Ruben.
"Bukankah ini seperti takdir Megan?" tanya Ruben sambil meraih rambut perempuan itu dan menghendusnya.
Dan tentu saja momen itu langsung menjadi sasaran paparazi.