
"Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Berta karena pertanyaan pertamanya tidak dijawab.
"Kau menipuku, 'kan? Sebenarnya kau hanya ingin menumpang hidup dengan Megan dan mengaku-ngaku jadi adiknya," Berta mengeluarkan asumsi yang ada di kepalanya.
"Lebih baik kau sadar diri, aku akan menunggu sampai Megan pulang dan menunggu penjelasan darinya!"
Setelah berkata seperti itu, Berta berlalu masuk ke dalam kamar.
"Apa kau mau tinggal di rumah sewaanku saja sampai nona Megan kembali?" tawar Parto yang sadar jika Berta tidak menyukai Theo.
Theo menggelengkan kepalanya. "Terima kasih tapi aku baik-baik saja. Sebentar lagi kakak selesai syuting, aku ingin menyambutnya saat pulang!"
"Ya sudah kalau begitu, aku kembali kerja. Jangan lupa minum obatmu," Parto berpamitan sebelum kembali ke pos security.
Setelah kepergian Parto, Theo menghembuskan nafasnya kasar.
Dia pun mencari ponselnya yang mati, dia menghidupkan ponsel itu karena ingin menghubungi Megan.
Namun, ketika ponselnya menyala banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Bisma.
"Ada apa?" gumam Theo.
Akhirnya pemuda itu menghubungi temannya duluan, Theo yakin ada hal penting.
"Kenapa nomormu tidak aktif terus," protes Bisma saat menerima panggilan dari Theo. Kemudian lelaki itu bertanya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Kalau kau masih butuh masa pemulihan, aku akan berbicara pada kepala petugas kebersihan," lanjutnya.
Theo mengerutkan keningnya, kenapa semua orang jadi seolah tahu apa yang telah dia alami?
"Aku besok sudah bisa kerja," ucap Theo kemudian.
"Apa kau yakin? Aku rasa wajahmu masih belum pulih," sahut Bisma.
"Sebenarnya kau itu kenapa?" Theo akhirnya bertanya supaya Bisma memperlakukannya biasa saja.
"Aku melihat video yang tengah viral itu dan aku yakin itu adalah kau," jelas Bisma.
"Video viral apa?" tanyanya.
"Kau itu memang tidak up to date," kesal Bisma seraya mematikan panggilan.
Bisma kemudian mengirim link pada Theo supaya pemuda itu melihatnya.
"Link apa ini?" Theo bergumam sambil membuka link itu. Dia melihat dirinya sendiri yang tengah bernyanyi dengan para pemusik jalanan. "Ini kan?"
"Jadi, kakak tahu kondisiku karena video ini?"
Ada rasa malu dan senang disaat bersamaan, malu karena Theo harus dilihat banyak orang dengan wajahnya yang babak belur seperti itu, senang karena Megan yang mengenalinya.
Bahkan sampai memanggil Parto untuk merawatnya.
Jantung Theo kembali berdegup kencang sekali, dia mencoba menghubungi Megan tapi justru Tia yang menerima panggilannya.
"Theo? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Tia.
"Di mana kakak?" Theo tidak memperdulikan pertanyaan perempuan itu.
"Megan sedang syuting, dia harus fokus menghafal dialog dan mendalami peran jadi tidak bisa diganggu dulu," jelas Tia.
"Kau sekarang ada di mana? Apa kau sudah melihat videomu itu?"
"Iya, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Theo meminta solusi.
"Kau harus memikirkan baik-baik karena karir Megan taruhannya, gosip skandalnya dengan Ruben belum mereda kalau sampai ditimpa lagi dengan terbukanya pernikahan kalian, pasti Megan akan menjadi public enemy karena image nya yang dinilai buruk," jelas Tia.
Theo terdiam karena memikirkan penjelasan Tia itu, dia tidak mau karir Megan hancur.
"Tenang saja, pernikahan ini pasti tidak akan terbuka hanya kita saja yang tahu," balas Theo.
Saat mengatakan itu, Theo memegangi dadanya karena sakit, dia seperti suami tidak dianggap. Tapi, tidak apa-apa. Semua demi Megan.