
Bagaimana dengan aku? Terlanjur mencintaimu?
Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang?
Theo bergumam sambil bernyanyi lagu terbarunya, dia memejamkan matanya sambil membayangkan wajah Megan.
Selama tujuh tahun, banyak wanita yang mendekatinya bahkan terang-terangan ingin menjadi ibu Ara. Tapi, hati Theo tetap untuk Megan seorang.
Theo masih menganggap Megan adalah istrinya walaupun dia digosipkan seorang duda muda.
Memang Ara sesekali Theo bawa ke kota apalagi saat dirinya menerima penghargaan atau ketika anak itu libur sekolah.
Jadi, Theo membeli apartemen untuk tempat dia istirahat. Apartemen Megan yang telah dijual oleh Berta dan Theo beli dengan harga dua kali lipat.
Padahal Theo bisa membeli apartemen yang lebih bagus, dia ingin menghidupkan kenangan dengan Megan di sana.
"Kakak..." panggil Theo yang sangat merindukan perempuan itu.
Sebenarnya diam-diam, beberapa kali Theo pergi ke Inggris untuk melihat Megan yang bermain opera. Tapi, dia tidak menemui perempuan itu karena Theo tahu kalau dia akan ditolak dan dia juga tidak mau egois.
Dia ingin Megan kembali dengan kata hatinya sendiri, bukan paksaan darinya. Apalagi memakai Ara sebagai senjata.
BUK!
Tiba-tiba Theo dilempar bantal yang membuatnya langsung membuka mata.
"Ck! Lagi enak-enak melamun," decak Theo sebal.
"Melamun terus," ketus Bisma si pelempar bantal dengan mendudukkan dirinya. "Kau menyetir mobil sendiri?"
"Iya, seperti biasa. Sebaiknya aku bersiap-siap Ara pasti menungguku," Theo pun langsung berdiri untuk mengambil tas yang sudah dia persiapkan.
"Kembalilah minggu depan, kita harus menemui Tia, katanya dia punya proyek baru dan kau harus terlibat," ucap Bisma.
"Akan aneh kalau aku memanggilnya kakak sepertimu, aku akan terlihat seperti anak kecil," balas Bisma yang membuat Theo langsung terdiam.
Yang dikatakan Bisma benar juga, sepertinya dia harus memanggil Megan dengan nama supaya tidak dianggap bocah ingusan lagi.
"Umurku sudah dua puluh lima tahun, tubuhku jauh lebih tinggi dari sebelumnya, jangan lupakan aku sering gym supaya otot tubuhku terbentuk, yang paling penting..." Theo mengarah pada pangkal pahanya di mana lato-latonya berada. "Dia juga tumbuh semakin besar, pasti akan membuat kakak menggelinjang!"
Ternyata kelas tambahan dari Megan waktu itu sangat berguna, saat Theo merindukan bermain lato-lato, dia bermain solois dan membayangkan Megan mengurut batang lato-latonya.
Astaga, membayangkan saja, sesuatu di bawah sana sudah tegak menantang.
Theo ke kamar mandi sebentar sebelum akhirnya dia melakukan perjalanan untuk kembali ke kampung. Dia harus mengecek laporan pabrik berasnya dari para mandor kepercayaannya.
Hari itu, Theo berangkat malam dan sampai di kampungnya di pagi hari.
Ara bersiap-siap akan sekolah, anak itu baru selesai mandi dan memakai seragam sekolahnya.
Ketika mendengar suara mobil yang parkir di halaman rumah, Ara berlari karena yakin itu adalah Theo.
"Ayah..." Ara memanggil dan tubuh kecilnya langsung ditangkap oleh Theo untuk digendong.
Theo menciumi putri kecilnya itu sampai membuat Ara kegelian.
"Sudah, Ayah," Ara ingin turun dari gendongan Theo.
Anak itu mengambil sisir dan kuncir rambut, Theo sudah paham pasti Ara minta dikepang.
"Sini ayah kuncir," Theo mendudukkan Ara di pahanya kemudian lelaki itu menyisir dan mengepang rambut anak perempuan itu.
Kalau sudah begini, kadang ada perasaan yang menyesakkan dada karena seharusnya sosok ibu yang melakukannya.
"Lihatlah anak lato-lato kita yang sudah besar, Kak," batin Theo pilu.