
Megan memperhatikan Theo yang mencuci piring di wastafel, tangan pemuda itu memang begitu lihai melakukan pekerjaan rumah.
Perlahan Megan mendekat dan berdiri di samping suaminya.
"Setelah ini kau mau apa?" tanya Megan.
"Mandi lalu tidur, nanti malam kan kerja lagi," jawab Theo sambil mengelap tangannya karena dia sudah selesai.
Megan merapatkan tubuh suami berondongnya itu dan menatapnya begitu dalam. "Kau sama sekali bukan tipeku, aku seperti pedofil yang menikahi anak di bawah umur!"
"Tapi, bukankah semua sudah terjadi? Kita tinggal nikmati saja, bukan?"
Perempuan itu mengelus dada Theo yang membuat pemuda itu merinding. Dia jadi mengingat malam di mana dirinya ternoda.
Sekarang, Megan tampak seperti itu. Bedanya, tidak ada bau alkohol jadi Megan sepenuhnya sadar.
"Ka... kakak..." Theo tampak terbata, dia sebenarnya takut tapi dia harus memenuhi tugasnya atau istrinya akan seperti Budhe Juminten di kampungnya.
"Apa kakak ingin main lato-lato?"
Megan tergelak karena suaminya sudah mulai cepat tanggap untuk urusan ranjang. "Kau cepat belajar, ya. Ayo kita main di dalam kamar!"
Dengan gugup Theo mengikuti langkah kaki Megan masuk ke dalam kamar.
"Aku mandi dulu, Kak," ucap Theo yang merasa tubuhnya bau.
"Cepatlah, aku menunggumu," balas Megan.
Di dalam kamar mandi, jantung Theo berdebar tak karuan. Dia masih tidak mengerti cara memberi nafkah batin untuk istrinya.
Dari pada Theo tidak bisa memuaskan lebih baik dia bicara jujur.
Jadi, saat pemuda itu selesai mandi, Theo berkata jujur pada Megan supaya istrinya itu mengajarinya.
"Hahaha..." Megan tertawa geli mendengar permintaan Theo itu. Dia harus memakluminya.
Karena mabuk malam itu, Megan tidak terlalu mengingat jelas bagaimana dia bisa merenggut keperjakaan Theo. Sekarang dia sangat penasaran dengan pemuda itu.
"Kemarilah," Megan menepuk sisi samping tempat dia duduk.
Perlahan Theo duduk dan dia tidak berani menatap Megan karena malu.
"Kita mulai dengan ciuman jadi tatap aku!" titah Megan.
Mau tidak mau Theo harus membuang rasa malunya, dia memberanikan diri menatap wajah cantik istrinya. Walaupun Megan blasteran tapi wajah Asia lebih mendominasi jadi wajah itu terlihat ayu di mata Theo.
Kalau saja Megan hidup di kampungnya pasti dia akan menjadi kembang desa.
"Kalau aku menempelkan bibirku berarti kau harus membuka mulut kemudian gunakan lidahmu untuk membalas ciumanku," ucap Megan.
"Jadi kita akan goyang lidah? Apa kakak tidak jijik?" tanya Theo dengan polosnya.
Megan menghela nafasnya, dia harus ekstra sabar. "Memang seperti itu caranya ciuman!"
"Gunakan instingmu, okay. Ayo kita mulai," Megan mendekat dan mencondongkan tubuhnya supaya lebih dekat dengan Theo.
Aroma parfum dari Megan menyeruak di indera penciuman Theo. Pemuda itu menelan ludahnya dan siap menerima ciuman dari istrinya.
Sedetik kemudian bibir Megan benar-benar menempel dengan bibirnya.
"Ini saatnya membuka mulut, bukan?" tanya Theo dalam hatinya.
Perlahan tapi pasti, Theo membuka mulut dan dia merasakan lidah Megan masuk ke dalam mulutnya.
"Kenapa lidah kakak bergerak-gerak?" Theo semakin gelisah.
Dengan kaku Theo juga menggerakkan lidahnya dan main perang lidah dengan Megan. Rupanya ciuman membuat Theo kesulitan bernafas.
Megan melepas ciuman dan mengusap bibir suaminya. "Lumayan, bagaimana rasanya?"
Tentu saja Theo malu menjawabnya apalagi miliknya mulai berdiri di sana.
"Sepertinya dia lupa waktu lagi," batin Theo.