
Sebelumnya, saat mobil yang membawa Megan menuju bandara, ada dua pengendara motor mengikuti mobil itu dari belakang.
Tiba-tiba mereka mengeluarkan kapak yang disembunyikan kemudian memukul kaca mobil dari samping.
"Aaaa..." Megan berteriak histeris, dia refleks membungkuk dengan memegangi perutnya.
Karena kaget, sang supir membanting setirnya yang membuat mobil oleng dan menabrak pembatas jalan.
Melihat supir dan Megan yang berdarah-darah dan pingsan, para pengendara motor itu langsung kabur.
Saksi mata yang melihat kejadian bergegas menelepon polisi.
"Jadi, kakak akan pergi ke bandara untuk kembali ke Inggris?" tanya Theo tidak percaya. Jadi, Megan benar-benar akan meninggalkan dirinya.
Ada rasa kecewa yang mendalam di hati Theo.
Dan Tia merasa berat menyampaikan semuanya, dia pun menceritakan lagi tentang ancaman Ruben dan video masa lalu Megan.
"Megan mengandung anakmu dan dia merasa tidak pantas melahirkan anak itu ke dunia. Aku sudah berulang kali meyakinkan Megan, mungkin sekarang adalah tugasmu," ucap Tia.
Air mata Theo seketika langsung merembes keluar, ternyata bibit lato-latonya bisa tumbuh?
Tanpa babibu lagi, Theo berlari untuk mendatangi Megan di ruangan istrinya dirawat.
Di dalam sana, Megan duduk menyender dengan melihat ke arah jendela. Ketika mendengar suara pintu dibuka, Megan perlahan menoleh ke arah pintu.
Bukannya Tia tapi justru Theo yang dilihatnya, Megan kembali berpaling. Dia tidak sanggup menghadapi suaminya.
Di luar ekspektasi Megan, Theo mendekat dan bersimpuh di depannya yang membuat hatinya semakin teriris.
"Kakak..." Theo memanggil Megan dengan wajah yang sudah basah dengan air mata. "Apa benar di perut kakak ada bayi lato-lato?"
Megan menahan air matanya mendengar pertanyaan itu. "Ya, kau benar!"
"Kalau begitu, biarkan bayi itu lahir, aku akan bertanggung jawab dan ketika bayinya sudah lahir, kami tidak akan mengganggu kakak lagi. Bukankah kakak tidak menginginkanku dan bayinya?" tanya Theo dengan suara tercekat.
"Biar aku yang merawatnya, jangan membuang bayi tidak berdosa itu!"
Theo akan mengorbankan perasaannya supaya Megan mau melahirkan bayi mereka.
Semenjak hari itu, Megan tetap dirawat di rumah sakit dan Theo yang menanggung semua biaya sampai persalinan karena Megan memang membutuhkan bedrest total.
Untuk itu, Theo akhirnya mengambil semua job supaya menambah tabungannya, dia tidak menyangka di usianya yang akan menginjak sembilan belas tahun akan menjadi seorang ayah karena dinodai oleh Megan.
Sesekali dia akan berkunjung untuk melihat perkembangan kandungan Megan, Theo merasa hidup ketika melihat perut istrinya yang membuncit, seolah itu bisa mengisi energinya ketika lelah.
"Jadi, kau dan Megan Brox sudah menikah?" tanya Bisma.
"Kau sudah bertanya hampir seratus kali," balas Theo.
Siapa yang akan percaya apalagi mereka akan mempunyai bayi.
"Lalu bagaimana dengan bayinya nanti?" tanya Bisma cemas. Dia tentu takut berdampak pada karir Theo.
"Aku tidak pernah menganggap anakku aib jadi aku tidak akan menyembunyikannya. Aku akan membawanya ke kampung dan merawatnya di sana," jelas Theo yang sudah memikirkan masa depan anaknya.
"Dan tentang karirku, aku tidak takut kehilangan job jadi kita lihat saja selanjutnya bagaimana, aku yakin bayiku membawa rejeki tersendiri," lanjutnya optimis. Theo sudah siap lahir dan batin, dia akan membesarkan anaknya tanpa Megan.
Dan akan setia menunggu perempuan itu menerima mereka.