
Selama ini Megan sudah banyak bertemu laki-laki dan dia baru menemukan laki-laki setulus Theo yang tidak memperdulikan masa lalunya.
Dia tidak mau Theo masuk ke dalam masalahnya yang rumit jadi hari itu juga Megan mentransfer sejumlah uang untuk Berta.
"Mom, aku sudah kirim uangnya jadi pergilah dari apartemenku!" pinta Megan.
Namun, bukannya pergi. Wanita itu justru mematikan ponselnya supaya Megan tidak bisa menghubunginya lagi.
Berta menguasai kamar Megan yang membuat Theo harus tidur di sofa.
Pemuda itu harus istirahat karena nanti malam akan bekerja di club. Sebentar lagi dia akan gajihan dan sudah tidak sabar untuk mengirim uang pada ibunya di kampung.
Theo akan melebihkan jatah ibunya supaya bisa membeli ponsel supaya mereka bisa berhubungan, untuk sementara dia akan meminta bantuan Budhe Juminten karena Theo akan mengirim uang ke rekening tetangganya itu.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Berta ketika melihat Theo bersiap kerja.
Berta memandangi penampilan Theo dengan pakaian yang dibelikan Megan. Terlihat tidak kampungan tapi kenapa pemuda itu selalu menyebut dirinya dari desa.
"Saya bekerja apa saja," jawab Theo. Dia tidak mungkin memberitahu kalau akan pergi ke club malam.
"Jadi, pekerjaanmu tidak tetap, ya?" Berta mulai berasumsi. "Kau pasti mendengar berita mengenai Megan, 'kan? Kekasihnya sekarang pengusaha sukses, aku tidak perlu khawatir tentang masa depan anak itu lagi!"
"Megan tidak perlu bekerja keras karena hidupnya akan terjamin," lanjutnya.
"Bagaimana kalau kak Megan tidak bahagia? Apa ibu pernah memikirkan itu?" tanya Theo yang tahu kalau Ruben tidak tulus menyukai Megan.
"Kalau hidup Megan terjamin pasti dia akan bahagia, kau masih muda jadi tidak tahu apa-apa," Berta begitu meremehkan Theo.
"Uang tidak bisa membeli segalanya ibu walaupun segalanya butuh uang," balas Theo seraya pergi. Dia tidak mau menjadi menantu durhaka karena melawan ibu mertuanya.
Lebih baik dia cepat bekerja tanpa menghiraukan Berta.
"Sok tahu!" Berta menggerutu sebal mendengar pernyataan Theo sebelumnya.
Sebenarnya Berta mempunyai cukup uang, selama ini dia mengikuti arisan dan juga investasi. Tapi, sialnya investasi yang dia tanam ternyata investasi bodong. Berta kena tipu dan akhirnya terlantar seperti sekarang.
Teman-temannya pun tidak ada yang membantunya, harapan satu-satunya hanya Megan. Walaupun hubungan mereka buruk dan selalu bertengkar.
"Cari apa, Nyonya?" tegur Parto yang melihat Berta di lantai bawah dan tampak bingung.
"Aku mencari ATM center," jawab Berta.
Karena tidak tahu letak ATM center, Parto menyimpulkan bahwa Berta adalah pendatang baru.
"Tinggal di unit mana, Nyonya?" tanya Parto karena belum mendapat laporan.
"Di lantai penthouse. Aku mommy nya Megan," jawab Berta memberitahu.
"Oh," Parto langsung ber-oh dari mulutnya. "Pasti mau menjaga Theo ya, Nyonya. Padahal nona Megan sudah menyerahkan itu pada saya."
"Theo? Adiknya Tia itu?" tanya Berta memastikan.
"Bukan, Theo kan adiknya nona Megan," jawab Parto.
"Yang aku tahu, Theo adiknya Tia. Dia baru saja berangkat kerja," Berta tetap kekeh.
Parto membuka ponselnya dan memperlihatkan potret Theo pada Berta. "Theo yang ini, 'kan?"
"Iya ini anaknya. Bukankah dia adiknya Tia?" tanya Berta. Dia jadi bingung.
"Theo yang ini itu adiknya nona Megan," jelas Parto yang merasa benar.
Berta langsung terdiam dan mulai curiga, siapa Theo?