Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 72 - Bukan Khayalan



Memang benar akan terjadi gempa lokal seperti yang Megan katakan, untuk mewujudkan itu Theo mulai membuka semua pakaiannya.


"Wow!" Megan sangat terpukau dengan ukuran batang lato-lato yang besar.


"Sepertinya ukurannya terlalu besar," Megan ingin menolak tapi sudah terlambat.


Theo sudah menindih dan menaikkan kedua tangan Megan di atas kepala. "Kau tidak akan bisa pergi lagi!"


Sedetik kemudian, Megan merasa seperti tersengat listrik karena Theo bermain dengan dua sumber makanan Ara.


Megan mulai terangsang lagi dan siap untuk dimasuki.


Karena buah kecubung hari itu, pasangan yang sudah lama terpisah itu melakukan penyatuan yang menggelora.


Ranjang terus berderit, suara tepukan daging yang mendominasi kamar dan mulut Megan terus menganga karena tidak bisa berhenti mendesaah.


Saat akan mencapai puncak, Theo bersiap menyemprotkan bibit kecubungnya di ladang Megan sebanyak mungkin.


"Akh!" Megan berteriak karena merasakan semburan hangat itu sampai sedetik kemudian dia tidak sadarkan diri.


Theo mencium perempuan yang masih dianggapnya istri itu dan menutupi tubuh polosnya memakai selimut. Dia harus siap dengan respon Megan ketika sadar nanti.


"Maafkan aku terlalu terburu-buru tapi hanya cara ini yang bisa aku lakukan untuk mengikatmu dan kembali padaku," ucap Theo sambil menjauhkan anak-anak rambut yang menghalanginya melihat wajah cantik itu.


Rupanya Megan tak sadarkan diri sampai seharian penuh.


Pada saat itu, Ara sudah berada di apartemen dan tengah menunggu ayahnya memasak untuk makan malam. Lebih tepatnya larut malam karena sudah jam dua belas lewat.


"Apa yang ayah lakukan sampai ibu tidak bangun-bangun?" tanya Ara penuh selidik.


"Ayah tidak melakukan apa-apa, ibumu memang mabuk maka dari itu ayah buatkan sup supaya nanti saat bangun dia makan sesuatu yang hangat dan mudah untuk dicerna," jelas Theo.


Beberapa menit kemudian, Ara dan Theo mendengar teriakan dari dalam kamar.


"Biar ayah yang lihat," Theo mematikan kompornya dan berlari ke dalam kamar.


Di dalam kamar itu, Megan tampak linglung karena dia mengira telah diperkosa seseorang. Dia takut akan direkam diam-diam lagi jadi Megan menangis di sana.


"Megan..." panggil Theo hati-hati.


Megan yang mendengar suara itu langsung menatap Theo tapi dia pikir kalau itu hanya khayalannya.


"Pergi, jangan mendekat! Aku wanita kotor!" usir Megan.


Namun Theo justru mendekat dan memeluk perempuan itu.


"Tenanglah, ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi, sudah cukup selama ini aku melihatmu dari kejauhan," ucap Theo sambil mengelus punggung Megan. "Aku akan melindungimu apapun yang terjadi!"


Megan membalas pelukan Theo dan menumpahkan semua air matanya di dada lelaki itu.


Dia masih berpikir itu hanya khayalannya dan Theo membiarkan Megan menangis sepuasnya sampai perempuan itu tenang.


Lama-kelamaan tangis Megan mereda, Theo mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. Ternyata waktu tujuh tahun tidak mampu membuat Megan untuk mengobati lukanya sendiri.


"Jadikan aku dan Ara sebagai obatmu, semakin kau menjauhi kami, kau akan semakin sakit," ucap Theo kemudian.


Dari sini Megan jadi sadar kalau ini semua bukan khayalan, pantas saja pelukan lelaki itu begitu hangat sampai membuatnya terbuai.


"Kau nyata?" tanya Megan memastikan. "Jadi, kau yang telah meniduriku?"


"Siapa lagi, kita sampai membuat ranjang bergeser dan kau menelanku terus-terusan sepanjang ronde," jawab Theo yang masih mengingat jelas percintaan mereka.