
"Apa itu tidak terlalu tinggi?" tanya Megan. Dia melihat tempat di mana dirinya akan beradegan jatuh dari atas.
"Tenang saja, ada matras di bawah, kau bisa berlatih dulu sebelum pengambilan adegan besok," sahut crew film yang meminta Megan melihat tempat pengambilan adegan selanjutnya.
Megan pun naik ke tempat itu melalui tangga, ketika sampai di atas justru dia merasa mual.
"Sepertinya aku tidak bisa melakukan ini," gumam Megan yang langsung turun.
"Kita tidak punya stuntwoman yang menggantikan peranmu, kalau pun memanggil pemeran pengganti waktunya tidak sempat," jelas crew film lagi.
Terpaksa Megan harus melakukannya sendiri tapi kondisi fisiknya tidak mendukung.
Megan merasa pusing dan mual, akhirnya perempuan itu kembali ke penginapan diantar oleh lawan mainnya di film.
"Sebaiknya kau suntik vitamin, kita marathon adegan pasti kau kelelahan," ucap lawan mainnya itu.
"Aku tidak apa-apa," Megan berusaha mengabaikan kondisi tubuhnya.
Namun, ketika sampai kamar perempuan itu muntah-muntah luar biasa yang membuat Tia cemas.
"Kita harus pergi ke dokter!" seru Tia.
"Tidak perlu," tolak Megan. Dia berjalan ke arah ranjang dan berbaring di sana. "Aku hanya phobia ketinggian, besok aku harus beradegan jatuh dari atas."
"Aku harus bisa melakukannya, aku harus bermain dengan baik, aku harus mengumpulkan uang," lanjutnya.
Hidup sendiri itu tidak mudah, Megan harus mempunyai banyak tabungan. Selagi dia masih laku menjadi artis, Megan akan memanfaatkan hal itu.
Karena semua ada masanya.
"Kau benar tidak apa-apa?" tanya Tia seraya mendekat dan memeriksa suhu tubuh Megan. "Badanmu agak hangat, aku akan cari obat dulu!"
"Tidak mau, aku ingin jus jeruk lagi," pinta Megan.
Tia mengerutkan keningnya dalam, dia mempunyai firasat buruk tapi enggan memberitahu Megan supaya perempuan itu tidak kepikiran yang membuatnya nanti tidak fokus.
"Aku akan membelinya," ucap Tia cepat.
Pada saat itu, Theo tengah memasak di dapur apartemen. Dia ingin menjadi menantu yang baik, Theo memasak untuk Berta.
Tubuhnya sudah mulai mendingan dan suhu tubuhnya sudah kembali normal.
Ketika ponselnya berbunyi dan tertera nama istrinya, Theo cepat-cepat menerima panggilan itu.
"Kakak?" jawab Theo.
Megan mendengus, dia kesal tapi perempuan itu juga lega karena bisa mendengar suara suaminya lagi.
"Aku sangat ingin marah padamu, sejak kapan kerja di club malam? Apa kau bekerja di dua tempat sekaligus? Kapan waktumu beristirahat?"
"Dan kalau sudah terjadi hal tak terduga seperti itu, siapa yang bisa kau mintai tolong?"
Megan meluapkan emosinya, rasanya sudah lama dia tidak marah-marah pada pemuda itu.
"Hobi memarahiku sudah kembali ya, Kak?" tanggap Theo yang justru senang dimarahi.
"Mulai sekarang berjanjilah untuk mengatakan semuanya padaku, jangan ada yang ditutup-tutupi," pinta Megan kemudian.
"Kau membuatku cemas!"
Theo semakin kesenangan mendengarnya. "Aku berjanji, aku hanya ingin mendapat penghasilan tambahan, biar aku cepat jadi juragan sawah dan kakak tidak perlu kerja lagi!"
"Biar semua jadi tanggung jawabku," lanjutnya.
"Aku masih kuat bekerja dan aku menyukai pekerjaanku sekarang jadi jangan mencemaskan apapun," ucap Megan.
"Sejak kapan kau bisa bernyanyi lagu modern?"
Megan bertanya ketika mengingat video viral itu.
"Selain suka menonton film azab, aku juga suka mendengarkan radio jadi otomatis langsung hafal lirik lagu modern," jelas Theo.