Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 51 - Serangan Balasan



Theo terus mengikuti Megan ketika berhasil mendapatkan ojek. Karena memakai motor memudahkan pengejaran karena motor bisa menyalip kendaraan-kendaraan besar yang ada di depannya


Ternyata mobil yang membawa Megan berhenti di sebuah hotel.


"Apa yang kakak lakukan?" gumam Theo.


Pemuda itu buru-buru mengikuti Megan dari belakang, melihat istrinya tidak menuju meja resepsionis membuat Theo berpikir kalau Megan sudah memesan kamar. Atau memang ada yang sudah memesan kamar duluan dan menunggu istrinya.


Pikiran Theo semakin kacau, dia harus bisa masuk ke kamar di mana Megan berada.


Pada saat itu, Megan sudah masuk ke salah satu kamar VIP. Ruben sudah menunggunya di sana.


Megan sudah merancang rencana untuk menjebak lelaki itu, dia harus punya senjata untuk mengancam Ruben balik.


"Akhirnya kau datang juga," ucap Ruben yang hanya memakai bathrobe saja. Sepertinya lelaki itu sudah mempersiapkan diri.


Jadi, Megan harus mengulur waktu sampai waktunya tepat.


"Kau sepertinya sudah tidak sabar, ya?" komentar Megan. Perempuan itu mendudukkan diri di sofa kamar itu dan bersikap sesantai mungkin.


Ruben mendekati Megan dengan membawa dua gelas wine. "Kita minum dulu supaya rileks!"


"Thanks," Megan menerima satu gelas wine tapi tidak langsung meminumnya. Dia yakin kalau di dalamnya sudah diberi obat perangsang atau obat tidur.


Tugas Megan adalah menukar gelasnya dengan gelas Ruben supaya lelaki itu yang terkena efek dari obat tersebut.


"Kau tidak lupa janjimu, bukan?" Megan mencoba menuntut lelaki itu.


"Tentu saja, jangan khawatir," Ruben ikut duduk bersama Megan dan meletakkan wine di tangannya ke atas meja. Dia melakukan itu agar bisa membelai rambut Megan. "Kau sangat cantik!"


Ruben ingin mencium perempuan itu tapi Megan menahannya.


"Bagaimana kalau kita bersulang dulu," Megan mengambil gelas Ruben yang di atas meja dan dengan gerakan cepat, perempuan itu menukarnya.


Ruben menerimanya dengan senang. "Kalau begitu, ayo kita bersulang!"


Terdengar dentingan dari dua benda kaca itu, Megan pura-pura minum sambil melirik Ruben, ketika lelaki itu ingin menyudahi minumnya, perempuan itu mendorong dengan tangannya supaya Ruben menghabiskan semuanya.


Megan tersenyum miring ketika melihat Ruben menghabiskan minumannya, sekarang dia tinggal menunggu reaksi dari obat bekerja.


"Aktingmu lumayan," puji Megan. Dia ingin mengulur waktu sebaik mungkin.


"Benarkah?" tanggap Ruben jadi malu ketika mengingat adegan yang dia mainkan di lokasi syuting. "Aku berlatih terus-terusan walaupun hanya mendapat peran beberapa menit saja!"


"Usaha tidak mengkhianati hasil, bukan?" balas Megan.


Ruben tidak menanggapi lagi karena tiba-tiba dia mengalami kantuk yang luar biasa. Lelaki itu menguap beberapa kali.


"Oh, jadi kau mau memberiku obat tidur," ucap Megan ketika Ruben akan kehilangan kesadarannya.


Saat Ruben benar-benar dikuasai rasa kantuk, Megan berdecih sambil memukul lelaki itu.


"Berani-beraninya kau mengancamku!" Megan kesal dan berusaha mencari file yang dia incar.


Perempuan itu lalu menggeledah kamar itu dan mencari di dalam koper Ruben. Sampai dia menemukan laptop lelaki itu, buru-buru Megan membuka laptop yang berkata sandi itu dan tentu saja tidak bisa membukanya.


"Sial!" Megan akhirnya memutuskan untuk membawa laptop itu.


Namun sebelum itu, dia harus melakukan serangan balasan.


Megan membuka bathrobe yang dipakai Ruben sampai memperlihatkan tubuh polos lelaki itu.


"Iuhhh..." rasanya Megan mau muntah.


Dia kemudian mengambil beberapa foto tanpa busana Ruben supaya bisa Megan gunakan sebagai senjata.