
Hari itu Megan mengaku kalah dan menyerahkan diri pada suaminya. Dia sudah tidak punya alasan pergi atau menjauh lagi.
Sekarang, Megan sudah pasrah dengan takdir hidupnya. Hidup bersama suami berondong dan anak-anak mereka kelak.
"Kalau begitu, kita perlu tanda terimanya," ucap Theo seraya mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke kamar utama.
Kamar itu sudah dilengkapi AC jadi Theo langsung menyalakan pendingin ruangan itu supaya tanda terima penyerahan diri berjalan lancar.
Tidak boleh ada pengganggu lagi, Theo ingin menunjukkan kemampuan dirinya sebagai lelaki sejati.
Megan sampai memalingkan wajah ketika melihat milik Theo yang membuatnya merinding.
"Kenapa?" tanya Theo sambil meraih dagu istrinya.
"Ini memang bukan pertama kali untuk kita tapi aku akan memberikan sensasi yang berbeda,"
"Setelah ini, kau akan menjadi milikku selamanya dan kita harus meresmikan pernikahan kita,"
"Aku tidak akan melarangmu jika kau masih ingin mengejar karirmu, aku dan Ara siap bersembunyi seperti sebelumnya,"
Theo melepas pakaian yang dikenakan Megan dan mencium kaki perempuan itu supaya Megan percaya kalau dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan istrinya.
"Jangan lakukan itu," Megan tidak mau Theo melakukan sesuatu yang merendahkan harga dirinya sendiri. "Aku percaya padamu!"
"Baguslah kalau begitu," Theo tersenyum smirk sambil membuka kedua kaki Megan.
"Posisi ini membuatku malu," tolak Megan dengan merapatkan kedua kakinya.
"Kenapa malu? Kau harus merasakan pelajaran yang sudah aku modifikasi, sayang," Theo tetap memaksa kaki istrinya supaya tetap terbuka.
Megan sampai harus menggigit bibir bawahnya dan meremas seprai sekuat mungkin saat Theo bermain di bawah sana.
Cukup lama Theo melakukan itu sampai lelaki itu merasakan Megan mengacak rambutnya kuat.
"Aku tidak tahan lagi," ucap Megan langsung lemas setelah mengeluarkan gelombang kenikmatan yang diberikan suaminya.
"Kau seperti hewan buas sekarang," Megan merasa diterkam dan siap dimangsa.
"Apa itu sebuah pujian?" Theo berkata seraya memposisikan dirinya untuk siap menyuntik. Matanya terus memandangi tubuh Megan yang terlihat sangat seksi.
Satu hentakan mampu membuat tubuh seksi itu mengejang.
"Sekarang tanda terimanya sudah sah," ucap Theo bersiap mengayun maju mundur.
Theo dan Megan kembali menyatu, kali ini dalam kondisi Megan yang sadar dan perempuan itu mengakui kemampuan suaminya bertambah pesat.
Dia masih ingat jelas dulu Theo yang menangis karena tidak mengerti tentang hubungan badan, bahkan saat pelajaran pertamanya lelaki itu tidak tahu cara memasukkan dengan benar.
Tapi, sekarang bisa-bisanya Theo memodifikasi pelajarannya sampai membuat Megan tak berdaya.
Tubuhnya dibolak-balik sampai disembur bibit kecubung berkali-kali.
"Sepertinya aku akan mati lemas," ucap Megan yang tidak sanggup lagi.
Di luar yang sebelumnya terang pun sudah gelap, artinya hari sudah malam. Oleh karena itu, Theo harus mengakhirinya.
Megan merasakan semburan hangat itu datang lagi, dia sudah terkapar lemas dan tidak mempunyai tenaga lagi untuk protes.
"Sepertinya produksi kecubungnya melimpah ruah ya, sayang," ucap Theo tanpa dosa.
"Kita makan malam di sini saja, aku panggil Ara dulu biar bawakan rantang kemari," lanjutnya.
"Apa itu rantang?" tanya Megan dalam hatinya. Dia sudah tidak mampu berkata-kata lagi.
Dan tak lama Megan mendapat jawabannya, Ara datang membawa rantang berisi makanan yang dimasak ibu mertuanya.
"Ibu kenapa lagi? Besok kan mau acara di sekolah," tanya Ara jadi cemas karena Megan yang keluar kamar digendong oleh ayahnya.
Megan sampai tidak bisa berjalan karena lemas.