Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 22 - Terlambat



Seperti biasa, saat Theo bekerja, Megan akan sendirian di apartemen. Perempuan itu akan menyibukkan diri untuk menghafal dialog di film terbarunya.


Sampai dia teringat dengan motor baru Theo, dia pun menghubungi security dan memberitahu kalau besok pagi ada yang mengantar motor.


"Nona Megan beli motor?" tanya security tidak percaya.


"Motor buat adik saya, pemuda yang biasanya naik ojek itu," Megan memberitahu.


"Saya akan kembali syuting jadi saya belikan dia motor. Kalau saya tinggal nanti, titip anak itu, okay."


Rasanya sangat aneh, Megan harus menitipkan suaminya pada security. Kalau sudah begini, Megan harus memberi uang pada security itu. Tidak apa-apa, yang penting Theo tidak membuat masalah. Dia tidak mau insiden pakaian dalam terbang terulang lagi.


Dan keesokan paginya, motor baru Theo benar-benar datang.


Security bernama Parto sudah meletakkan motor itu di parkiran khusus motor. Megan menunggu kepulangan Theo sambil berolahraga, perempuan itu melakukan yoga jadi cukup di dalam apartemen saja melakukannya.


Pada saat Theo pulang, pemuda itu melihat istrinya yang sedang melakukan yoga. Dia semakin terkesima melihat tubuh Megan yang lentur dan bisa melakukan gerakan melengkung sana sini.


"Kakak..." panggil Theo pelan supaya istrinya tidak kaget.


Megan perlahan membalik badannya seperti posisi semula. "Kau sudah pulang?"


"Apa kakak lelah? Mau aku ambilkan minum?" Theo jadi terbiasa melakukan hal itu.


"Tidak perlu," tolak Megan. Perempuan itu ingin mandi. "Bersiaplah, kita harus melihat motormu dan belajar mengendarainya."


"Sudah datang?" Theo bertanya seraya berjalan ke arah dapur. Dia tadi menyempatkan diri untuk berbelanja sayur, semalam dia mempelajari membuat salad sayur dan sekarang ingin membuatkan makanan itu untuk istrinya. "Apa kakak akan kenyang makan tanpa nasi?"


"Berat badan dan penampilanku jauh lebih penting, karena kita sebagai artis menjual itu," jawab Megan.


Pada saat itu Megan sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan hal tak terduga, Theo ikut masuk ke kamar mandi.


"Mau mandi bersama?" tanya Megan.


Theo menggelengkan kepala karena dia ingin buang air kecil dan tidak tahan lagi. "Maafkan aku, Kak."


"Jangan lihat aku!"


Bukannya menurut, Megan justru semakin penasaran apa yang dilakukan oleh Theo sampai perempuan itu melihat pertunjukan air mancur di closet.


"Astaga, seharusnya aku menurut dan tidak melihatnya," batin Megan.


Namun, Megan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia memanggil Theo dan meminta suaminya itu menggosok punggungnya.


Tentu saja Theo langsung menurut dan menggosok punggung istrinya. Awalnya semua berjalan normal sampai Megan membalik badannya.


"Kakak..." Theo jadi malu dan memalingkan wajahnya.


"Kenapa? Bukankah kau sudah sering melihat tubuhku," Megan memang sengaja memancing sesuatu untuk bangun. Dan cara itu memang berhasil, sesuatu sudah menyembul dari balik celana Theo.


Hari itu mereka bercinta lagi di kamar mandi, satu hal yang Theo pelajari pagi itu, bahwa bercinta bisa dilakukan di mana saja bahkan di kamar mandi dengan posisi berdiri dan menempel di dinding.


"Kak, aku mau keluar," Theo merasa akan mencapai puncak dan dia sadar kalau tidak memakai pengaman.


"Tu... tunggu!" Megan berusaha mencegah dan meminta Theo mengeluarkan di luar tapi dia terlambat karena sedetik kemudian dia merasakan semburan hangat masuk ke dalam.


"Theo....."