
Akhirnya Theo menuruti permintaan Megan untuk tinggal bersama. Theo memberitahu istrinya di mana tempat kosnya berada dan Megan menyetir mobil sendirian ke sana.
Megan belum memberitahu apapun pada Tia, dia pikir nanti saja kalau mereka sudah bertemu. Dia akan hati-hati dan berharap tidak ada paparazi yang mengikutinya.
"Ini tempat tinggalmu?" tanya Megan ketika sampai.
Mobil Megan parkir di halaman kos dan Theo bergegas turun.
"Aku mau berpamitan sama ibu kos dulu, Kak," ucap pemuda itu.
Rumah ibu kos tak jauh dari situ, Theo berpamitan padahal baru saja menghuni kamar kosnya. Tidak mungkin dia memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah itu, Theo mengajak Megan untuk masuk ke tempat kosnya.
Saat masuk, Megan langsung refleks menutup hidungnya padahal dia sudah memakai masker. Kamar kos itu terlihat sempit dan pengap, bagi Megan tempat itu cocok dijadikan gudang.
"Tempat ini tidak layak dihuni manusia," komentar Megan.
Sebenarnya Theo merasa tersinggung tapi dia pura-pura tidak mendengarnya. Megan yang terbiasa memegang uang banyak pasti tidak pernah hidup susah.
"Kakak pasti kepanasan, 'kan?" Theo membuka jendela supaya sirkulasi udaranya berganti. "Setelah ini pasti tidak akan pengap lagi."
"Mau dibuka atau tidak, tempat ini tetap bau kemiskinan," balas Megan yang menyesal sudah mengikuti Theo.
"Ambil barangmu yang penting saja, aku akan membelikan yang baru nanti," sambung Megan sambil berlalu keluar. Dia ingin kembali ke mobil lagi.
Theo terdiam, dia tetap mengemasi barangnya dan berusaha memaklumi sikap istrinya.
Ada waktu sekitar tiga jam untuk istirahat, Theo akan tidur sebentar ketika perjalanan ke apartemen Megan. Dia akan kerja dan tidak tidur lagi setelah itu sampai pagi. Kalau tubuhnya tidak istirahat dia takut akan sakit.
Dan suasana di mobil hening karena Theo yang tertidur di kursi belakang. Pemuda itu menjadikan tasnya sebagai bantal kemudian berbaring meringkuk seperti siput.
"Ish, aku seperti menjadi supirnya," gerutu Megan.
Perjalanan ke apartemen memakan waktu lama karena macet dan selama itu pula, Theo tertidur. Sampai ponsel jadul Theo berbunyi karena alarm yang menyala.
"131313, itu password apartemenku," Megan memberitahu dengan turun dari mobil. Dia enggan membantu Theo mengangkat barang.
Theo masih mengembalikan kesadarannya, kemudian pemuda itu turun dengan membawa barang-barangnya yang memang tidak terlalu banyak.
"Kakak..." panggil Theo ketika sampai di unit apartemen Megan.
"Kamar mandinya di mana? Aku harus bersiap kerja!"
Megan keluar dari kamarnya dan meminta Theo masuk. "Di sini kamar hanya ada dua, yang satu sudah aku pakai untuk tempat wardrobe jadi kita tidur satu kamar!"
"Baiklah," Theo masuk dan bergegas masuk kamar mandi. Dia mandi dengan cepat dan keluar hanya memakai handuk yang melilit di pinggang.
"Baju kotornya nanti aku cuci setelah pulang kerja," ucap Theo sambil membuka tasnya untuk mencari baju kerjanya.
Pemuda itu tidak sadar jika Megan tengah memperhatikannya. Megan mengamati postur tubuh Theo yang lumayan terbentuk, mungkin karena pemuda itu pekerja keras.
"Lumayan untuk pemuda yang hidup di desa," gumam Megan seraya mendekat pada Theo.
"Kau akan pergi kerja?" tanya Megan kemudian.
"Iya, harus berangkat dari sekarang nanti terlambat," jawab Theo sambil memakai baju.
Tanpa Theo duga, tiba-tiba Megan menarik kerah bajunya yang otomatis membuatnya menunduk. Megan mencium bibir pemuda itu.
"Ka... kakak..." Theo kaget setengah mati.
"Itu sebagai ucapan terima kasih untuk nasi padang sebelumnya," ucap Megan.
Theo memegangi bibirnya, dia mengingat malam itu Megan tidak menciumnya sama sekali. Jadi, itu adalah ciuman pertamanya.
"Sekarang bibirku ikut-ikutan tidak perjaka lagi!" gumam Theo.