
Megan melihat jam mahal di pergelangan tangannya, sepertinya pusat perbelanjaan yang akan dia datangi sudah buka.
Tanpa mau membuang waktu, Megan segera membawa Theo ke sana.
Seperti biasa dia akan memakai masker dan topi supaya tidak dikenali. Dia juga memakai jaket supaya lebih menunjang penampilannya.
Sebenarnya kalau dia berjalan dengan Tia atau rekan artis lainnya, Megan tidak perlu melakukan penyamaran. Justru biasanya dia diwawancara oleh wartawan.
Namun, karena harus pergi dengan suami tersembunyinya, Megan melakukan itu. Dia tidak siap jika terjadi gosip skandal mengenai dirinya.
"Kita pilih baju dan celana dulu," ucap Megan masuk ke sebuah toko dengan brand terkenal.
Di sana Megan sibuk memilih model kaos, kemeja dan celana. Sementara Theo malah sibuk melihat tag harga yang membuat pupil matanya melebar.
Paling murah harganya lima ratus ribu, untuk Theo yang biasa membeli baju di pasar malam tentu saja harga segitu sangat fantastis.
Tapi, tidak bagi Megan yang justru menganggapnya murah.
"Sudah cukup, Kak," cegah Theo karena Megan yang terus menambahkan helai demi helai ke belanjaannya. Dia takut istrinya bangkrut.
"Kenapa? Setelah ini kita beli sepatu," Megan berkata sambil melirik sepatu Theo yang lusuh.
Perempuan itu memilih satu set baju dan celana untuk dia berikan pada Theo.
"Cobalah ini di ruang ganti," pintanya.
Menjadi suami penurut, Theo pun berjalan ke arah ruang ganti dan mengganti bajunya di sana.
Megan menunggu dengan sabar sampai Theo membuka pintu ruang ganti. Dia cukup terkesima melihat perubahan Theo, memang penampilan bisa merubah tampang seseorang.
"Lumayan," komentar Megan merasa puas. "Langsung pakai saja bajunya."
"Dan buang baju lamamu kecuali seragam kerja!"
"Untuk sekarang yang harus kau pikirkan adalah memantaskan diri denganku," tanggap Megan.
Dia pun segera pergi ke kasir untuk membayar dan lagi-lagi Theo dibuat spechless karena totalnya lebih dari sepuluh juta.
"Gajiku berapa bulan itu," batin Theo tidak tenang.
Bukan sampai disitu saja, Megan juga membelikan beberapa pasang sepatu untuk suaminya. Dan tidak lupa yang paling penting adalah pakaian dalam.
Terakhir, Megan membawa Theo ke salon untuk merapikan rambut pemuda itu.
Megan benar-benar memermak habis suaminya dan terbukti setelah keluar dari salon, tampilan Theo sangat berbeda.
Pemuda itu seperti orang kota apalagi wajah gantengnya mulai terlihat yang membuat cewek-cewek di pusat perbelanjaan itu menggoda Theo.
"Aku tidak suka," gumam Theo.
"Kenapa tidak suka? Bukankah bagus, kau akan ditaksir banyak wanita," balas Megan yang mendengar gumaman Theo itu.
"Aku kan sudah punya istri jadi aku tidak suka," Theo yang mempunyai prinsip tentu saja hanya memilih Megan seorang walaupun perempuan itu telah memperkosanya.
"Kau mau mempunyai istri seperti aku?" tanya Megan dengan kekehan. Dia menepuk pipi Theo, pemuda itu terlalu baik untuknya. "Kau bisa mendapatkan yang lebih pantas, hidupmu masih panjang!
"Jangan sia-sia kan hidupmu demi wanita rusak sepertiku!"
Well, bukan hanya Theo yang merasa insecure tapi Megan juga. Dia merasa Theo tidak pantas dengan barang bekas seperti dirinya.
"Apa ada yang ingin kau makan? Kita beli dulu sebelum pulang," Megan kemudian mengalihkan pembicaraan.
Pada saat itu, mereka tengah menyusun barang belanjaan di bagasi mobil.
"Kenapa kakak bicara seperti itu?" Theo merasa tidak suka Megan menyebut dirinya sendiri sebagai wanita rusak. Dia menurunkan masker yang perempuan itu pakai dan memberanikan diri mengecup bibir Megan. "Aku menyukai, Kakak!"