
Seorang wanita tengah berdiri di sebuah jembatan menunggu seseorang yang telah dia nanti selama bertahun-tahun.
Kemudian yang dia nanti datang dengan memanggil namanya.
Sang wanita membalik badan lalu meneteskan air matanya, dia merentangkan kedua tangannya dan siap menyambut sang kekasih yang berlari ke arahnya.
Keduanya pun berpelukan dengan haru di sana.
"Cut! Cut!"
Sebuah teriakan terdengar yang membuat kedua orang itu melepas pelukan mereka.
"Good job, Megan," ucap sang pria yang menjadi lawan main artis itu.
Megan tersenyum dan lega akhirnya proses syuting berjalan lancar.
"Kau ikut jamuan makan kan hari ini?"
"Tidak, aku harus cepat kembali dan keadaan tubuhku sedang sakit,"
Megan memberi alasan seperti itu, dia ingin menghindari Ruben tapi lelaki itu justru mendatanginya ke lokasi syuting.
"Sayang..." Ruben langsung merangkul Megan di sana. "Kau selalu berakting dengan baik!"
Lelaki itu menyindir tentang kejadian semalam di hotel.
Tanpa Ruben duga, Megan dengan berani menyingkirkan tangannya kemudian menampar pipinya di depan umum seperti itu.
"Bukankah kita sudah putus? Kenapa kau masih berani mendatangiku seperti ini?" teriak Megan. Dia akan membuat malu Ruben sampai ada headline berita bahwa lelaki itu telah dicampakkan olehnya.
"Apa kau tidak puas setelah selingkuh dariku?"
Semua yang melihat mereka jadi saling memandang satu sama lain karena menyangka kalau Ruben telah menyelingkuhi Megan.
Megan kemudian mendekat dan berbisik ke telinga lelaki itu. "Kau bilang aktingku sangat baik, bukan?"
Ruben masih tidak mengerti sampai tak lama ada notif pesan yang masuk ke ponselnya dan ternyata dari Megan yang mengirimkan beberapa fotonya tanpa busana sampai terlihat belalai gajahnya yang imut-imut.
Ternyata punyamu sangat kecil, ya?
Ukuran seperti itu tidak akan memuaskan, apa kau memang sebenarnya seorang gay?
Tulis Megan yang membuat pupil mata Ruben melebar dan tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sadar ini adalah serangan balasan dari perempuan itu.
"Awas kau, Megan!" kesalnya. Ruben memberi perhitungan.
Sementara Megan sendiri bersiap-siap meninggalkan lokasi syuting bersama Tia. Dia sudah berada di dalam mobil dan masih memainkan ponselnya.
"Sekarang ceritakan semua padaku dan apa yang kau mainkan tadi? Kau putus dari Ruben?" Tia menuntut jawaban dari sang artis.
Megan masih enggan menjawabnya, dia kemudian meminta sang supir untuk menuju alamat yang dia berikan.
"Bukankah ini alamat Berry?" tanya Tia yang mengenal teman Megan itu. Biasanya Berry dibayar Megan untuk membuat buzer atau menghapus artikel buruk tentang dirinya.
"Apa ini ada hubungannya dengan laptop Ruben yang kau curi? Sebenarnya ada file apa?"
"Dari awal aku sudah dijebak dan semuanya ada di file itu, aku harus mempunyai senjata untuk menyerang Ruben balik dan dia sudah mundur perlahan. Sekarang hanya perlu menghancurkan file itu walaupun aku tidak yakin itu asli atau berupa copy an," jelas Megan.
Tia semakin penasaran akan file yang dimaksud Megan tapi pada saat itu bersamaan dengan siaran langsung Theo masuk televisi dimulai.
"Lihatlah suamimu dulu!" Tia memberikan ponselnya pada Megan.
"Siapa tahu kau akan berubah pikiran, dia bisa jadi keren apalagi dari tahun ke tahun nanti Theo akan tumbuh jadi lelaki dewasa!"
Bukannya sadar, Megan justru melontarkan kalimat yang membuat Tia terkejut.
"Setelah menyelesaikan semua kontrak kerja sama, aku ingin kembali ke Inggris," ucap Megan.