
Megan mulai terbiasa dengan kepolosan Theo, kalau biasanya dia akan marah tapi sekarang dia justru tertawa dengan ketidaktahuan suaminya.
"Mana ponselmu?" pinta Megan. Dia ingin menyambungkan ponsel itu dengan wifi apartemennya.
Theo mengambil ponselnya kemudian memberikannya pada Megan.
"Lain kali, apapun kau cari di internet. Kau harus belajar betapa luasnya dunia ini, dunia itu tidak melulu cuma di kampungmu," jelas Megan sambil mengetik fungsi pengaman. "Sekarang baca ini!"
Dengan serius Theo membacanya dan dia sekarang tahu kalau balon yang diberikan Megan adalah sarung untuk batang lato-latonya.
"Ini supaya menunda memiliki anak," ucap Theo setelah membaca. "Tapi, bagaimana cara kerjanya?"
"Tentu saja dibungkus nanti ada penampungnya di ujung," jelas Megan.
Untuk membuktikan, Theo mengambil satu dan meniupnya. Benar saja ada penampungannya di bagian ujung pengaman.
"Sekarang aku mengerti tapi satu hal yang tidak aku mengerti, apa kakak memang tidak mau mempunyai anak?" tanya Theo penasaran.
"Memangnya kau mau punya anak? Usiamu masih delapan belas tahun, bukan?" Megan tidak habis pikir Theo akan bertanya hal yang tidak masuk akal. "Seperti kataku sebelumnya, jangan sia-sia kan waktumu demi wanita rusak sepertiku!"
"Kalau kau sudah sukses, pergilah jauh dariku!"
Theo memiringkan bibirnya sebelah, lagi-lagi Megan berbicara seperti itu.
"Aku tidak suka kakak berbicara seperti itu, memangnya rusak kenapa?" Theo ingin tahu lebih jelas.
"Saat pertama kali kita bertemu, aku berniat tidur dengan laki-laki yang bukan suamiku. Jangan kau pikir karena aku seorang artis tapi sebelum aku menjadi artis, aku sudah melakukannya," ucap Megan. Dia berharap Theo akan illfeel padanya.
"Sejak kecil, aku sudah terbiasa mendengar orang tuaku berkelahi. Setiap waktu, mereka selalu memaki satu sama lain, seharusnya mereka berpisah dari awal kalau tidak bahagia. Tapi, mereka justru bertahan sampai aku dewasa. Ciih..."
Megan menceritakan latar belakang keluarga.
"Aku memutuskan untuk memisahkan diri dari mereka, aku bekerja di club malam dan banyak melakukan hal gila di sana. Hidupku tidak jauh dari alkohol dan having sekss..."
"Sampai akhirnya ibuku memutuskan untuk berpisah dan pulang ke Indo, ibuku membawaku dan aku mulai berpikir menjadi artis di sini. Aku berhasil tapi tidak juga bahagia, nyatanya aku masih membutuhkan alkohol dan sekss untuk pelampiasan jadi..."
Megan memandangi Theo yang polos dan menepuk pipi pemuda itu. "Jangan berharap lebih dengan pernikahan ini!"
Ada rasa kecewa saat Theo mendengarnya, bukan karena masa lalu istrinya tapi karena Megan yang menolaknya.
"Aku pasti bisa membuat kakak bahagia jadi jangan memintaku pergi," ucap Theo memohon.
"Kenapa kau begitu bodoh, heh? Kau mau mengorbankan masa depanmu bersamaku? Sadarlah Theo..."
Megan tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena bibirnya langsung dibungkam oleh suaminya.
"Sekarang mungkin aku belum bisa menjadi apa-apa tapi aku akan berusaha keras. Aku akan mencari tambahan penghasilan dan menabung, aku akan membeli banyak sawah dan jadi juragan sawah di kampung. Nanti modalnya diputar lagi untuk..."
Kali ini Theo yang berhenti bicara karena Megan yang mencium bibir pemuda itu. Ciuman yang awalnya sebuah kecupan berubah menjadi ciuman yang menggebu-gebu.
Theo merasa miliknya sudah tegak menantang, dia membimbing tangan Megan untuk menyentuhnya.
"Apa ini sudah waktunya memasang balon? Apa balonnya akan muat, Kak?" tanya Theo yang merasa miliknya berukuran jumbo. "Apa tidak akan meletus, ya?"