
Suasana pagi hari di kampung Theo hari itu tampak sepi karena hujan semalam, orang-orang pasti bangun kesiangan.
Semua yang di luar tampak basah, bahkan air gerimis masih turun.
Ibu Sri mau melihat ayam-ayam yang ada di belakang rumah, ayam-ayam itu menggigil dan minta makan.
Takut mati, Ibu Sri cepat-cepat memberi makan.
Karena tidak bisa ke pasar, Ibu Sri memetik sayur seadanya saja di kebun dan akan memasak ikan yang ada di kulkas.
Nanti dia akan membawa Megan ke pasar kalau menantunya mau ikut berbelanja.
Sebelum memasak, perempuan paruh baya itu mengintip kamar Theo sejenak, dia melihat Ara tertidur diapit oleh ayah dan ibunya.
Sebenarnya dia mendengar suara ribut-ribut semalam tapi mencoba mengabaikannya, ternyata di pagi hari dia bisa melihat pemandangan seperti itu.
Lebih baik dia cepat memasak karena Ara harus sarapan dan sekolah. Dia tidak mempermasalahkan menantunya yang tidak bangun membantunya. Dia bukan tipe mertua nyinyir.
Betapa beruntungnya Megan bisa mendapat suami, anak dan mertua yang mengerti kondisinya.
"Nenek..." Ara memanggil Ibu Sri yang masih sibuk di dapur.
"Ayo cepat mandi nanti terlambat sekolah," ucap Ibu Sri ketika melihat cucunya bangun dan mendatanginya. "Jangan bangunkan ayah dan ibumu!"
Ara mengerti jadi anak itu langsung pergi ke kamarnya dan mencari handuk untuk mandi, Ara juga bisa memakai seragam sekolah sendiri karena memang sudah terbiasa mandiri.
"Hari ini pakai bando saja ya, Nek," ucap Ara yang bingung dengan rambutnya.
"Nanti belajar sama ibumu, kalau nenek kan selera kampung jadi sukanya ya dikuncir ke belakang," jawab Ibu Sri.
"Berarti nanti sekolah pakai sepeda dulu, ayahmu pasti masih lelah habis perjalanan jauh," sambungnya.
"Siap!" Ara bergegas sarapan supaya tidak terlambat sekolah.
Setelah selesai, anak itu mengambil sepeda mininya yang berwarna pink untuk dia gunakan bersekolah.
"Aku berangkat sekolah dulu, Nek," ucap Ara berpamitan.
Teman-teman Ara berpikir kalau ibunya Ara jadi TKW di luar negeri selama ini.
...***...
Sementara pasangan suami istri yang gagal membuka pabrik kecubung semalam, masih hanyut dalam mimpi, mereka tidak sadar anak mereka sudah berangkat sekolah sedari tadi.
Megan bangun duluan dan melihat jam sudah pukul sepuluh, dia memang terbiasa bangun siang tapi sekarang situasinya beda karena dia berada di rumah mertua.
"Gawat," ucapnya panik.
Megan berusaha membangunkan Theo dan meminta suaminya untuk keluar dari kamar bersama.
"Kenapa? Mau buang air lagi?" tanya Theo yang baru membuka mata.
"Lebih dari itu," ucap Megan memaksa suaminya supaya cepat bangun. Dia tidak punya muka untuk menghadapi Ibu Sri.
Theo akhirnya bangun dan menuruti permintaan istrinya untuk keluar kamar bersama.
"Ara ada di mana?" bisik Megan karena suasana tampak sepi.
"Jam segini Ara sudah sekolah kalau Ibu biasanya sudah di sawah apalagi habis hujan begini pasti mau melihat keadaan padi, bulan ini kan mau panen," jawab Theo.
Mendengar itu Megan jadi kesal karena Theo membiarkan mertuanya jadi petani lagi padahal dia sudah sukses.
"Bukan begitu, Ibu hanya mengecek saja sudah ada pekerja yang dibayar," jelas Theo.
Megan jadi teringat cita-cita Theo terdahulu, apa mungkin keinginan itu benar-benar dia lakukan?
"Maksudnya ibu jadi juragan sawah?" tanya Megan.
"Bukan tapi..." Theo memeluk istrinya untuk memberitahu. Selama ini memang dia melarang Tia bercerita pada Megan kecuali masalah Ara. "Aku yang jadi juragan sawahnya!"
"Jadi, kau benar-benar melakukannya?" tanya Megan yang merasa tidak percaya.
"Iya, jadi kau istri dari seorang juragan beras berkedok musisi," jawab Theo.