
Theo terbangun dari tidur panjangnya, pemuda itu langsung melihat jam di dinding kamar Megan karena takut terlambat kerja.
Ternyata masih ada waktu beberapa jam lagi, dia tidak bisa mengontrol kantuknya setelah berhubungan dengan istrinya.
Kalau mengingatnya Theo jadi malu sendiri.
"Kakak..." panggilnya mencari Megan.
Namun, tidak ada sahutan apa-apa. Dia pun turun dari ranjang dan melihat ponselnya yang mendapat pesan dari istrinya.
Aku ada pemotretan hari ini
Hanya pesan singkat itu yang Theo dapatkan tapi dia sudah berdebar dan merasa senang.
"Apa aku dan kakak harus sering melakukannya?" gumam Theo.
Sebaiknya dia bertanya pada Megan nanti mengenai bermain lato-lato. Sekarang dia harus bangun dulu dan mencuci baju.
Theo mencuci baju secara manual menggunakan tangan dan menjemur bajunya di balkon kamar apartemen.
"Di mana baju-baju kotor kakak?" gumam Theo yang tidak tahu kalau semua baju Megan ada di laundry.
Sebelum pergi bekerja, Theo ingin makan terlebih dahulu. Dia membuka kulkas di dapur tapi tidak menemukan bahan makanan. Kulkas yang besar tapi dominan diisi oleh minuman collagen.
"Apa kakak tidak pernah memasak?" Theo kembali bertanya-tanya.
Sepertinya untuk selanjutnya nanti dia akan memasak saja karena tidak mungkin terus-terusan beli makanan jadi.
"Bagaimana cara menggunakan kompor ini?"
Dia tidak tahu caranya menggunakan kompor listrik, Theo harus bertanya pada Bisma nanti di tempat kerja.
Karena tidak bisa menyalakan kompor dan tidak ada bahan makanan. Theo menahan rasa laparnya sampai dia mendapat makanan dari pihak hotel nantinya.
Sesampai di tempat kerja, Theo bekerja seperti biasanya dan pemuda itu akan lahap makan ketika jam istirahat tiba.
"Ini makan punyaku," ucap Bisma sambil memberikan jatah makanannya.
"Aku masih kenyang, lagi pula aku bawa bekal tadi," Bisma tidak berbohong karena perutnya memang masih kenyang.
"Terima kasih," Theo menerima makanan dari Bisma, dia harus mempunyai tenaga lebih karena tenaganya bukan hanya terpakai untuk bekerja tapi ditambah memuaskan istrinya.
Selesai makan, Theo dengan malu-malu menanyakan hubungan badan antara laki-laki dan perempuan pada Bisma.
"Hahaha...." Bisma tertawa karena pemuda polos itu bertanya hal seperti itu padanya. "Kau ingin booking cewek?"
"Tentu saja tidak," jawab Theo dengan tegas. "Hanya bertanya saja biar aku tahu kalau sudah menikah nanti."
Lagi-lagi Theo harus berbohong.
"Mana ponselmu?" tanya Bisma.
Theo mengeluarkan ponselnya dan memberikan benda pipih itu pada Bisma di sana.
Ternyata Bisma mengajari Theo bermain internet dengan menyambungkan ponsel itu dengan wifi hotel. Kemudian Bisma membuka situs dewasa dan memperlihatkan pada Theo.
"Belajar di sini, ada banyak pelajaran berkembang biak," ucap Bisma.
"Berkembang biak?" tanya Theo sambil memeriksa ponselnya lagi.
Matanya terbelalak karena melihat video dua orang lawan jenis tengah bercinta. Refleks Theo langsung mematikan ponselnya.
"Kenapa dimatikan?" tanya Bisma.
"Takut kena azab," jawab Theo. Dia memilih kembali bekerja lagi.
Dia tidak mau melihat video seperti itu karena Theo hanya mau melihat tubuh Megan seorang bukan wanita lain walaupun itu di sebuah video dan ada pelajaran perkembang biakan.
"Aku lebih suka mengikuti kelas kakak," batin Theo. Dia jadi tidak sabar bertemu dengan Megan keesokan paginya.
"Kira-kira besok kakak akan mengajariku apa, ya?"