
Setelah berhasil mengambil potret Ruben yang memalukan, Megan segera pergi dari kamar itu.
Tapi, rasa mual dan pusingnya kambuh lagi jadi Megan tampak berjalan sempoyongan.
"Ck! aku harus membuka laptop si bajiingan itu," decaknya dengan tangan yang meraba dinding.
Pada saat itu, Megan merasakan pinggangnya dirangkul seseorang. Ketika dia menoleh, Megan kaget dengan apa yang perempuan itu lihat.
"Theo? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Megan.
Theo menatap Megan dengan tatapan sulit diartikan. "Kenapa kakak seperti Budhe Juminten?"
"Jangan konyol!" Megan mendorong dada Theo supaya menjauhinya tapi dia justru akan jatuh karena merasa pusing.
"Lebih baik kakak istirahat," ucap Theo yang menangkap tubuh istrinya.
Malam itu, Theo memesan satu kamar di hotel itu dan membawa Megan beristirahat di sana.
"Aku akan minta kak Tia kemari," Theo berkata seraya keluar dari kamar. Dia ingin menghubungi Tia sekalian membeli makanan.
Theo membeli dua bungkus nasi goreng dan dua es teh, jujur saja dia belum makan sama sekali jadi dia harus isi tenaga. Apalagi Theo harus siap menerima ucapan pedas dari Megan nantinya.
Setelah membayar nasi goreng dan es tehnya, Theo kembali ke kamar yang dia pesan, dia berharap Megan tidak kabur.
Dan harapannya terkabul hanya saja Megan sepertinya tidak enak badan karena tengah muntah-muntah di kamar mandi.
"Kakak tidak apa-apa?" Theo langsung mengurut tengkuk istrinya.
Megan tidak terlalu banyak tenaga jadi dia tidak melontarkan kata-kata pedasnya, dia pasrah ketika Theo memapahnya untuk keluar dari kamar mandi. Dia duduk di sofa yang di depannya sudah ada plastik berisi nasi goreng.
"Jangan menghina makanan, Kak!"
Sebelum Megan protes, Theo sudah memberi peringatan sambil menusuk es teh memakai sedotan.
"Tangan kiri pegang es tehnya, tangan kanan makan nasi gorengnya," ucap Theo memberi arahan pada istrinya.
Megan baru pertama kali makan dengan cara seperti itu, dia ingin mencobanya. Tangan kiri memegang es teh dan tangan kanannya meraih sendok untuk makan nasi goreng.
"Pakai sambal sama kerupuk biar lebih mantap," Theo memberikan sambal dan kerupuk di bungkus nasi goreng Megan.
Sejenak pasangan suami istri itu seperti tidak ada masalah apapun, mereka makan dalam diam hanya ada suara kerupuk sesekali yang mereka gigit.
Melihat nasi goreng Megan yang habis pasti istrinya menikmatinya, Theo senyum-senyum sendiri.
"Bagaimana perut kakak? Apa masih mual?" tanya Theo.
Megan enggan menjawab, dia menjauhi Theo dan duduk di pinggir ranjang karena ingin menghubungi seseorang yang bisa membantunya untuk membuka laptop Ruben.
"Besok hari terakhir syuting, setelahnya aku akan datang ke tempatmu," ucap Megan pada seseorang di sambungan telepon.
Sayup-sayup Theo mendengarnya, dia harus tahu siapa yang dihubungi Megan itu. Jangan sampai kejadian seperti malam ini terulang lagi, Megan membuat janji bertemu di hotel seorang diri.
Theo pun mendekat dan berjongkok di depan istrinya. "Apa sebenarnya salahku, Kak? Kenapa kakak bertindak seperti Budhe Juminten seperti ini?"
"Apa kakak memang tidak puas denganku? Padahal aku bisa belajar dengan baik sesuai yang kakak mau!"
"Dan siapa yang ingin kakak temui selesai syuting? Bukankah kita sudah sepakat akan memberitahu apapun satu sama lain? Tapi kenapa kakak melanggarnya?"