
Di rumah baru itu, Theo mempunyai studio mini. Setelah selesai makan, Theo menggendong Megan ke sana karena dia ingin menunjukkan lagu terbarunya.
Megan duduk dan Ara duduk di pangkuan ibunya, mereka ingin melihat Theo memainkan lagunya.
"Bukankah kita seperti melihat konser tunggal?" tanya Ara.
"Benar," balas Megan seraya merangkul putrinya.
Theo duduk dengan memegang gitarnya dan bersiap bernyanyi untuk kedua orang yang dia sangat sayangi.
"Lagu ini untuk istriku..." Theo mulai memainkan gitarnya.
Di saatku membuka mata
Kulihat wanita yang terindah
Dia tersipu enggan bicara
Dapatkah aku temaninya
Beribu-ribu macam cara
Menyentuh pesonanya yang ada
Dia tersenyum oh sungguh manja
Ketika kusapa dirinya
Oh, sungguh aku tak kuasa
Menahan semua rasa yang ada
Jika ku tak bisa, ku tak mampu
Untuk bersamanya
Pasti akan mati-mati aku sungguh mati
Bila tak ada cinta di hatiku
Biarkanlah diriku untuk terus bersamamu
Ci-ci-ci-cinta, cinta, cinta itu indah
Bila kau rasakan dengan sepenuh hati
Izinkanlah aku untuk tetap mencintamu
Ara bertepuk tangan ketika Theo selesai bernyanyi.
"Lagunya bagus kan, Bu?" tanya Ara pada Megan.
Megan mengangguk dan siapa sangka Theo akan meminta dirinya untuk menjadi video clip dari lagu terbarunya itu.
"Sebenarnya ada alasan aku memilih jadi pemain opera, aku merasa trauma dengan kamera," ungkap Megan berusaha menolak.
Theo agak kaget tapi dia merasa lega karena Megan sudah mau terbuka untuknya.
"Jadi, film yang ditawarkan Tia bagaimana?" tanya Theo.
"Aku berencana akan menolaknya, dia bisa mengganti dengan pemain lain," jawab Megan.
"Inikah Megan yang aku kenal? Kenapa kau menyerah begitu, sayang. Kau harus berusaha melawannya dan buktikan kalau kau tidak selemah itu," ucap Theo memberi semangat. Dia menarik tangan Ara supaya mendekat ke arah ibunya.
"Setidaknya lakukan demi Ara!"
Ara memasang wajah puppy eyes di depan Megan yang membuat anak itu semakin imut. "Aku ingin melihat ibu bermain film lagi apalagi lawan mainnya adalah ayah!"
Megan melihat suami dan anaknya bergantian, sepertinya dia memang tidak bisa menolak pesona kedua orang itu.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Megan kemudian.
Sebelum itu, Megan harus memenuhi janjinya pada Ara untuk datang ke sekolah di hari ibu. Dia sudah mempersiapkan outfit keren bak supermodel tapi Ara justru memintanya memakai kebaya.
"Kebaya?" tanya Megan. Dia tidak mempersiapkan baju tradisional seperti itu.
"Pakai punya nenek saja," ucap Ara.
Terpaksa Megan menerimanya karena sudah tidak ada waktu lagi. Walaupun kebaya dari Ibu Sri tidak mahal tapi jika yang memakainya Megan terlihat jadi berkelas.
Terbukti saat di sekolah Ara, perempuan itu menjadi pusat perhatian.
"Wah, ibunya Ara seperti artis ibukota," komentar ibu-ibu lain.
Ara hanya bisa mengulum senyumnya. "Padahal kan memang artis, lihat saja nanti saat ibu kembali masuk televisi pasti semua akan kaget!"
Anak-anak melakukan pentas seni dan terakhir ada Ara yang membaca puisi untuk ibunya tercinta.
Puisi yang ditulis Ara sendiri, bait demi bait dari puisi itu sungguh menyayat hati karena Ara menulisnya sebelum bertemu dengan Megan.
Anak itu begitu merindukan ibunya sampai Megan tak kuasa menahan diri. Perempuan itu naik ke atas panggung ketika Ara selesai membaca puisi.
"Ibu, tidak akan meninggalkan Ara lagi, Ibu berjanji," ucap Megan bersungguh-sungguh.