Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 64 - Sebuah Penawaran



Setelah sambungan video call dengan ayahnya terputus, Ara meletakkan ponsel di meja belajarnya kemudian dia meraih bingkai foto di mana ada foto dirinya, ibu dan ayahnya yang dia tempel jadikan satu.


"Selamat malam, Ibu," Ara mencium foto Megan lalu memeluk bingkai foto itu untuk dia bawa tidur.


Setiap malam Ara selalu melakukan hal itu. Ara berharap bertemu ibunya dalam mimpi.


Sementara yang dirindukan Ara selama ini berada di belahan dunia lain.


Setelah pulih pasca melahirkan, Megan benar-benar pergi ke Inggris. Selama dua tahun dia menjalani rawat jalan oleh seorang psikiater.


Untuk mengalihkan pikirannya, Megan bekerja di sebuah opera sampai sekarang. Gajinya tidak banyak tapi cukup untuk membiayai hidupnya sendiri.


"Megan giliranmu!" panggil produser opera.


Megan yang duduk di meja riasnya segera berdiri untuk melakukan pertunjukkan. Seperti melakukan akting, bedanya di opera dibuat dramatis dengan menyesuaikan latar dan lagu.


Seperti biasa akting Megan selalu memukau para penikmat opera hari itu.


Saat Megan membungkukkan badannya, atensinya tertuju pada seseorang yang melambaikan tangan padanya. Orang itu duduk di kursi paling depan.


"Aku menunggumu di luar!" teriak orang itu.


Tak lain dan tak bukan orang itu adalah Tia, setelah tidak menjadi manager Megan lagi, perempuan itu mencoba peruntungan lain. Tia belajar menjadi produser film walaupun di awal dia jatuh bangun tapi sekarang beberapa filmnya sukses sampai ditonton jutaan penonton di bioskop.


Kebetulan Tia baru saja dari Paris, dia sengaja membeli tiket ke Inggris sebelum pulang ke Indonesia. Dia ingin mengunjungi Megan.


"Apa kau mau mentraktirku kopi?" tanya Megan saat keluar dan mendatangi mantan managernya itu.


"Aku akan mentraktirmu sampai kau puas," Tia berkata seraya memeluk Megan. "Kau lebih berisi dari terakhir kita bertemu!"


"Kau menghitungnya?" Tia terkekeh. Dia melepas pelukan lalu mereka pergi ke salah satu kafe.


Karena masih mengonsumsi obat penenang dan obat tidur, Megan tidak minum alkohol lagi jadi setiap bertemu Tia, mereka akan pergi ke kafe dan memesan kopi.


"Rasanya waktu cepat berlalu, sudah tujuh tahun kau pergi. Apa kau benar-benar tidak ingin kembali ke Indonesia dan menetap di sana? Apa kau masih takut?" tanya Tia. Dia tahu kalau Megan tengah dilanda kecemasan akan video asusilanya apalagi Ruben sudah bebas dari penjara.


Walaupun file asli sudah berhasil dihancurkan tapi bisa saja masih ada copy an videonya.


"Kalau pun video itu tersebar, Theo masih akan menerimamu. Dia begitu setia menunggumu, apa kau tidak kasihan? Ara selalu merindukanmu dan ingin bertemu ibunya," lanjut Tia.


Megan meraih cangkir kopinya dengan tangan gemetaran, pelan-pelan dia meminum kopinya.


"Kalau kau ingin membahas mereka, lebih baik kita tidak usah bertemu," ucap Megan setelah tenang.


Tia hanya bisa mendengus kasar, dia tidak tahan melihat Megan menyiksa dirinya sendiri selama bertahun-tahun.


Harapan Megan adalah Theo bisa move on dan mencari pasangan hidup baru untuk ibu Ara tapi Theo justru dengan bodoh menunggu istrinya kembali.


"Aku datang ingin memberi penawaran," Tia memberikan naskah film untuk Megan. "Naskah ini sangat cocok untuk kau perankan, aku berharap kau menerimanya dan memulai karirmu lagi."


"Kau ingin menjadi bintang film atau pemain opera menyedihkan? Kau harus memilih antara keduanya!"


Sebelum pergi, Tia memberikan potret Ara terbaru yang bermain dengan ayam jagonya.


"Dia sangat cantik, Megan. Setidaknya lihatlah anakmu sekali saja!" pinta Tia.