Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 78 - Tidak Mau Keluar



Megan menarik selimut untuk menutupi tubuh Ara yang saat ini tertidur pulas. Dia mengelus rambut Ara dan terus memandangi wajah anak perempuan itu.


"Ibu, jangan pergi lagi," ucap Ara mengingau.


Bahkan di alam bawah sadarnya, Ara terus memikirkan ibunya.


Megan menggenggam dan mencium tangan Ara sambil menangis. Dia selama ini sangat merindukan putrinya dan berusaha menahan diri, bahkan bayangan saat melahirkan dulu terus menghantuinya setiap malam.


Tangisan bayi dan rasa sakit karena tidak bisa menyusui, rasanya sungguh menyiksa.


Megan terus menangis sampai dia merasa pundaknya disentuh Theo dari belakang.


"Kenapa menangis lagi?" tanya Theo yang sedari tadi memperhatikan Megan dari ambang pintu.


Karena tidak tahan akhirnya dia mendekat, dia tidak mau Megan kembali terpuruk.


"Ayo kita keluar!" Theo berusaha menggendong Megan ala bridal. Hal yang paling sangat ingin dia lakukan dari dulu.


Dulu badannya masih kurus dan terlihat seperti anak-anak tapi sekarang tubuhnya sudah tinggi dan ototnya cukup terbentuk karena dia melatihnya terus-terusan.


"Akh!" Megan sampai kaget karena Theo yang menggendongnya seperti itu. Dia refleks mengalungkan tangannya di leher suaminya.


Theo membawa Megan masuk ke dalam kamar yang dia tempati.


Dengan hati-hati Theo mendudukkan Megan di pinggir ranjang.


"Di kamar ini tidak ada kamar mandinya jadi harus keluar kalau ingin mandi atau buang air kecil," jelas Theo.


"Tidak apa-apa," jawab Megan singkat.


Mendengar jawaban singkat itu, Theo buru-buru meraih dagu istrinya supaya menatap dirinya.


"Masih marah?" tanya Theo yang mengungkit masalah buah kecubung.


Sebenarnya Megan kesal karena bodohnya bisa dijebak dengan mudah. Tapi, kalau tidak begitu mungkin sampai sekarang dia tidak akan bisa memeluk Ara.


"Tau ah," Megan pura-pura merajuk.


"Sayang..." Theo berusaha membujuk tapi tidak mempan.


Malam itu, mereka tidur dengan saling membelakangi punggung satu sama lain. Padahal keduanya tidak bisa tidur.


Tak lama, Megan merasa ingin buang air kecil, dia sudah tidak tahan lagi dan berjalan sendiri untuk mencari kamar mandi di luar kamar.


Kamar mandi yang asing bagi Megan karena memakai closet jongkok yang dia tidak pernah pakai selama ini.


"Aku hanya perlu berjongkok, 'kan?" tanya Megan dalam hatinya.


Saat dia masih bingung, tiba-tiba Theo sudah berdiri di belakangnya karena dia khawatir pada istrinya.


"Kau mau buang air, sayang?" tanya Theo.


Megan menjawab dengan anggukan kepala.


"Tinggal berjongkok saja kalau sudah nanti guyur pakai air," Theo memberitahu sambil mengambil gayung berbentuk love berwarna pink milik ibunya.


Gayung itu tampak bocor yang membuat Megan bingung.


"Kenapa gayungnya bocor begitu?" tanya Megan.


"Memang ini ciri khasnya sayang jadi cepatlah buang air jangan ditahan-tahan," Theo tetap di sana karena ingin melihat Megan memakai closet jongkok.


"Ini sangat memalukan," ucap Megan sambil menurunkan celananya.


"Aku bahkan sudah melihat semuanya, kenapa harus malu," balas Theo dengan kekehan.


"Tenang saja, closet di rumah kita sudah modern sayang jadi hanya di sini saja kau memakai closet jongkok," jelas Theo.


Pada saat itu, Megan sudah berjongkok dan rasanya dia tidak bisa buang air dengan cara seperti itu.


"Ayo keluarkan!" Theo memberi semangat.


"Tidak mau keluar," Megan rasanya mau menangis.