
"Ternyata begitu," gumam Megan seraya membalik badannya.
"Tapi, suaramu memang bagus," Megan memuji suara suaminya itu. "Kau punya talenta, sayang sekali kalau disia-siakan, kau tidak ingin selamanya jadi petugas kebersihan, bukan?"
Theo terdiam sejenak kemudian bertanya pada istrinya. "Kakak tidak masalah kalau aku muncul di depan public?"
"Tentu saja tidak masalah, ibumu di kampung pasti bangga padamu," sahut Megan.
"Hanya saja kehidupan dan persaingan di dunia entertainment sangat keras, kau harus kuat menghadapi segala sesuatunya," lanjutnya.
"Tapi, aku yakin kau bisa menghadapinya. Kau pasti bisa sukses Theo,"
Megan memberi semangat, kalau dia bisa melihat pemuda itu sukses dan berkarir, Megan akan tenang melepas Theo.
"Kau harus memulai hidup barumu dengan baik," batin Megan.
Selesai melakukan panggilan, Theo melanjutkan memasak. Dia mengolah cah kangkung dan juga tempe orek karena hanya itu yang ada di kulkas.
Aroma terasi menguar di dalam apartemen yang membuat Berta merasa terganggu.
"Bau busuk apa ini?" kesalnya.
Berta keluar dari kamar dan mendapati Theo yang tengah menyusun makanan di atas meja.
"Ibu sudah bangun? Aku memasak tempe orek pasti ibu suka," ucap Theo sumringah.
Ibu Megan itu mendekat dan berdecih setelah melihat masakan pemuda itu.
"Kau memintaku memakan ini?" Berta mendorong dengan keras masakan Theo. "Kau pikir aku unggas?"
"Ini makanan manusia ibu bukan unggas," balas Theo seraya menggeser kembali masakannya yang didorong Berta. "Kalau ibu belum lapar, saya tutup dulu!"
Theo menutup hasil masakannya kemudian meninggalkan Berta daripada mendengar cemooh dari ibu mertuanya itu.
Dia ingin keluar mencari Parto di pos security sekalian mencari udara luar selagi dia libur kerja.
Saat sampai pos security, Parto dan rekan security lainnya tengah menonton video Theo yang tengah viral.
"Ini kan Theo?" celetuk Parto.
"Nah, aku tadi mau bilang begitu, karena dia ini sampai sebuah club malam ditutup oleh kepolisian setelah ketahuan ada bisnis prostitusi," timpal rekannya yang lain.
"Lah ini anaknya!"
Seru mereka menyambut Theo yang baru datang.
"Jadi malu, viral karena begitu," ucap Theo.
"Kenapa malu? Kau kan tidak viral karena mandi lumpur, selingkuh dengan ibu mertua atau menangis setelah putus cinta," Parto menepuk pundak pemuda itu. "Aku bangga padamu karena menjadi laki-laki yang punya prinsip!"
Theo merasa terhibur setelah mendengar perkataan Parto itu.
"Kau dicari-cari itu," lanjut Parto kesenangan.
Dan bersamaan dengan itu, Bisma menghubungi Theo karena kepala kebersihan yang memanggilnya.
"Apa aku dipecat?" tanya Theo khawatir.
"Dipecat apanya, kau akan dikasih bonus, gajimu di club malam akan diganti oleh pihak hotel," jelas Bisma.
"Benarkah?" Theo merasa tidak percaya.
Semua mengalir begitu saja, pihak hotel merasa diuntungkan karena promosi secara tidak langsung dari Theo.
Hari itu identitas Theo yang sebagai petugas kebersihan hotel sudah terbongkar, para wartawan berbondong-bondong pergi ke hotel tempat Theo bekerja, sayangnya pemuda itu tidak ada.
"Kau harus butuh manager untuk menghandle semuanya, kau mau kan menerima tawaran di undang ke program televisi?" tanya Bisma.
Theo tampak berpikir, kalau dia menerima pasti dia akan cepat menjadi juragan sawah karena hal itu membuka langkahnya masuk ke dunia entertainment.
"Baiklah, aku mau," jawab Theo kemudian.