
Satu hal yang harus kau tahu, selama ini Theo sudah mengurusnya diam-diam
Ternyata memang benar Ruben adalah seorang gay
Taruhan itu tujuannya memang untuk menjebak dan menjatuhkanmu
Kau tahu siapa dalangnya? Maya dan Gendis, teman artis yang iri padamu
Video itu sudah tidak ada lagi karena Theo sudah mengancam mereka semua dan memegang kartu As mereka
Jadi lebih berhati-hatilah lagi memilih teman
Penjelasan Tia itu terus terngiang di kepala Megan, sepanjang perjalanan ke kampung dia hanya diam saja.
"Ada apa sayang?" tanya Theo yang melihat wajah Megan tampak tidak baik-baik saja.
"Apa kau pernah mengunjungiku selama ini?" tanya Megan tiba-tiba.
Bukan Theo yang menjawab tapi Ara bahkan anak itu memperlihatkan video Megan saat bermain opera dan beberapa potret ibunya yang diambil diam-diam.
"Aku mengenal ibu dari sini," ucap Ara.
Theo berdehem karena tahu kalau tengah ada yang dipikirkan istrinya.
"Ara kembali duduk dan biarkan ibumu istirahat," ucap Theo kemudian.
Tidak ada obrolan lagi karena Megan benar-benar tidur, perempuan itu masih merasa tidak percaya kalau banyak hal yang dilakukan Theo di belakangnya. Bagaimana dia harus membalas cinta yang begitu besar itu?
Megan terbangun saat mobil memasuki area kampung, hari itu sudah malam jadi suasana kampung Theo tidak terlalu terlihat jelas.
Kalau Megan ke sana beberapa tahun lalu pasti tidak akan bisa duduk dengan tenang karena jalanan yang terjal tapi sekarang jalanan sudah mulus karena Theo ikut membantu pembangunan kampungnya tanpa bantuan pemerintah.
Itung-itung mengurangi tingkat korupsi.
"Apa ibu sudah bangun? Aku tadi sudah menelpon nenek dan nenek menyiapkan makanan untuk kita," ucap Ara memecah keheningan yang membentang.
Megan buru-buru memperbaiki penampilannya.
"Sudah cantik," komentar Theo.
Tapi, tetap saja Megan harus terlihat sopan dan rapi karena akan bertemu ibu mertua untuk pertama kalinya.
"Nenek...." Ara berlari karena turun duluan dari mobil.
Tak lama Megan turun dan digandeng oleh Theo di sana.
"Ibu, ini Megan istriku," ucap Theo memperkenalkan ibu dari anaknya itu.
Megan bingung harus bagaimana dan Ibu Sri mengerti, dia mendekati Megan seraya mengelus pipi mulus menantunya.
"Kau sangat cantik seperti Ara," komentarnya.
"Maafkan saya atas semuanya, Ibu," ucap Megan penuh sesal.
"Jangan dibahas, yang lalu biarlah berlalu. Ayo masuk!" Ibu Sri mengajak semuanya masuk ke dalam rumah.
Rumah yang tidak terlalu besar tapi nyaman untuk ditinggali.
"Ini rumah ibu, kalau rumahmu ada sendiri. Suamimu sudah membuatkan rumah khusus," ucap Ibu Sri yang takut Megan merasa tidak nyaman dengan rumahnya.
Seketika Megan langsung menatap Theo.
"Apa itu benar?" tanyanya.
"Iya, besok kita lihat ke sana. Rumahnya masih kosong karena Ara sering aku tinggal jadi kami tinggal bersama ibu," jelas Theo.
Megan dibuat terkejut berkali-kali, ternyata dia tidak tahu apa-apa selama ini.
Mereka semua duduk di meja makan yang sudah ada beberapa menu masakan.
"Ibu hanya bisa membuat masakan kampung," ucap Ibu Sri.
"Tidak apa-apa, saya bukan pemilih makanan," balas Megan.
"Saya baru-baru ini juga makan buah kecubung yang katanya bisa membuat pikiran tenang, ternyata makanan di kampung banyak manfaatnya," lanjutnya.
"Buah kecubung? Apa kau tidak apa-apa, Nak? buah itu bisa membuat mabuk dan berhalusinasi," jelas Ibu Sri.
Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ketahuan telah menjebak Megan.
"Itu demi bisa panen bibit kecubung sayang," ucap Theo memberi alasan sebelum Megan marah.