
Sadar jika milik suaminya sudah berdiri, Megan justru menyentuh benda itu. Masih terbungkus pakaian dalam saja sudah terlihat besar, Megan semakin penasaran.
Berbeda hal dengan Megan, Theo justru gelisah tidak karuan, pemuda itu bahkan mengeluarkan keringat dingin.
Dia tengah menunggu tahap selanjutnya setelah berciuman.
Ternyata setelah itu, Megan mulai membuka bajunya, untuk kedua kali Theo melihat tubuh telanjang istrinya.
"Pegang ini!" Megan mengarahkan kedua tangan Theo untuk memegang dua benda bulatnya.
"Kenapa harus dipegang?" tanya Theo gugup setengah mati.
"Di kelasku tidak boleh banyak bertanya jadi turuti saja," sahut Megan.
Theo mengangguk, dia tidak bertanya lagi dan memegang dua bukit kembar istrinya dengan kaku.
"Sekarang remas!" pinta Megan.
Walaupun tidak tahu tujuannya apa, Theo meremas dua benda itu. Dan anehnya memang menimbulkan sensasi yang selama ini tidak pernah pemuda itu rasakan.
Theo jadi suka main remas-remas yang membuat Megan tersenyum smirk. Perempuan itu sebenarnya merasa geli tapi dia menikmatinya.
Tahu jika suaminya habis pulang kerja, Megan ingin langsung masuk ke intinya saja. Nanti dia akan mengajari lagi jika Theo sudah cukup istirahat.
"Kita pangkas saja, langsung masuk ke permainan," ucap Megan.
Kini perempuan itu membaringkan dirinya dan membuka kedua kakinya.
"Ayo cepat masuk! buka pakaian dalammu!" perintahnya yang membuat Theo panas dingin.
Theo pun membuka pakaian dalamnya dan terlihat benda dengan ukuran jumbo tegak menantang di sana.
"Astaga, apa itu ukuran normal?" batin Megan kaget. Pantas saja waktu itu miliknya sakit setelah berhubungan dengan Theo.
"Ternyata kecil-kecil cabe rawit," sambungnya.
"Sekarang bagaimana, Kak?" Theo bertanya-tanya.
Megan menarik tangan Theo dan meminta pemuda itu berada di atasnya. Otomatis badan Theo membungkuk dan menatapnya sekarang.
"Pegang batang lato-latonya terus masukkan ke sini," Megan menunjuk pangkal pahanya.
Theo menelan ludahnya, dia tidak berani melihat apa yang ditunjuk Megan. Dia mengarahkan batang lato-lato tak tentu arah.
Tentu saja Theo menurut, dia menunduk sambil mencium Megan kemudian tangannya mencoba mengarahkan batang lato-latonya ke arah yang benar.
"Hei, bukan di situ!"
"Apa ini benar bisa masuk, Kak?"
Theo terus berusaha memasukkan tapi tidak ketemu jalannya.
"Bukan yang itu, agak turun sedikit ke bawah..."
"Di sini?"
Megan jadi kesal sendiri dan keburu tidak bernafsu lagi. Jadi, dia harus mengambil tindakan.
Perempuan itu bangkit kemudian mendorong tubuhnya supaya batang lato-lato masuk.
"Argh!" Theo berteriak ketika miliknya itu berhasil masuk. Dia merasakan panas di dalam sana.
Refleks dia memeluk Megan dengan erat.
Megan menunggu Theo tenang, wajah suaminya kini tengah menempel di dadanya dengan mata terpejam.
"Theo..." panggil Megan.
Mendengar nama pemberian dari istrinya, Theo perlahan membuka mata dan menatap istrinya lagi.
"Sekarang bergeraklah maju mundur supaya rasanya lebih baik," pinta Megan dengan wajah memerah. Milik Theo begitu penuh di dalam dirinya.
Theo mengangguk, dia berusaha bergerak maju mundur sesuai instruksi.
"Ya seperti itu, lebih cepat lagi..." Megan meringis karena mulai merasa nikmat.
Sementara Theo, dia merasakan sesuatu yang berbeda dari malam itu. Sekarang dia dengan suka rela memberi nafkah batin dan ternyata rasanya sangat nikmat sekali. Secara naluriah, dia mengikuti instingnya sendiri.
Pinggang Theo terus bergerak dan Megan mulai mendesaah keenakan.
"Apa kakak kesakitan?" tanya Theo takut.
"Bergerak saja!" Megan tidak mau suaminya merusak suasana.