
Rasanya aneh. Melayang di udara ditarik oleh maghnet bumi yang kuat. Telinga Nalisa berdengung. Inikah yang selalu di rasakan oleh para penerjun payung yang melompat dari ketinggian? Nalisa ingat pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya jatuh dari tempat yang sangat tinggi dan menikmati hal itu seperti yang dipertontonkan oleh wajah-wajah tersenyum mereka.
Ternyata rasanya tidak semenyenangkan yang Lisa bayangkan. Memang, rasanya dia seperti terbang dan melayang. Rasanya bebas seperti semua permasalahannya ikut hilang dihempas oleh angin kencang disekitarnya. Tetapi rasanya juga sesak. Dia hampir tidak bisa bernapas dan panik karena tidak ada tempat untuknya menentukan pijakan.
Mungkin dia hanya bukan profesional dalam bidangnya. Dia adalah orang awam yang tidak memiliki latihan dan persiapan sebelumnya. Mungkin karena dia juga tidak bisa menetralkan deguban jantungnya yang penuh dengan adrenalin dan kepuasan yang berlebihan sebelumnya sehingga sekarang, dia panik dan mencoba untuk meraup udara sebanyak-banyaknya agar organ tubuhnya berfungsi sebagaimana biasanya.
Nalisa hampir mengi karena dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Air mata meluncur melawan arah jatuhnya. Dia tidak menangis karena dia menyesal, tetapi dia menangis karena tiba-tiba dirinya takut bahwa dia tidak mendarat di tempat yang tepat.
Dengan matanya yang buram karena basahan air dan angin kencang disekitarnya, perempuan itu berusaha untuk bergeser ke bawah. Dia harus melihat apakah dia akan berhasil.
Kesempurnaan dalam rencana memang tidak pernah saling berhasil menyatu. Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Nalisa berteriak, gaunnya yang terlalu besar dan memiliki banyak rumbai berat menyebar ke segala arah. Rasanya dia goyah, berayun ke kanan dan kiri seolah-olah dia sedang bermain ayunan gantung dan seseorang mendorongnya dengan sekuat tenaga.
Nalisa panik. Dia menggapai-gapai. Meneriakkan banyak nama yang tidak jelas. Yang penting, ada nama Alpino di sana. Sahabatnya pasti akan menyelamatkannya. Dia berdoa dengan suara keras. Meski agak berbelit karena lidahnya seperti terikat kusut, tetapi Nalisa meminta pertolongan agar dia diberi keselamatan atas perbuatannya sendiri yang berisiko.
”Al, please, tolong gue” Ada isakan di antara harapannya.
Lisa tidak tahu mengapa rasanya waktu bergerak terlalu lama baginya. Dia tidak mengerti kenapa dia tidak merasakan jatuh secepat yang seharusnya dia lihat di film-film aksi di layar lebar. Dia bahkan tidak mengenakan parasut atau alat bantu lainnya yang menjadi faktor penyelamatan utama. Mengapa rasanya dia begitu di uji oleh waktu yang kian melambat?
Apakah ini karena dia telah keterlaluan membangkan orang tuanya? Telah keterlaluan menyakiti hati kedua orang tuanya?
Nalisa tahu bahwa dia telah menjadi sangat pemberontak. Tetapi sebagian besar rasa didadanya yang sesak adalah kepuasan. Secuil permasalahan dan pertanyaan antara hidup dan mati terlintas dimata dan benaknya. Nalisa mengingat sesuatu, perkataan orang-orang tentang bagaimana kilas balik kehidupan akan terlihat di depan mata seperti kaset rusak dari memori hidupnya ketika seseorang akan mengalami kematian.
Nalisa tidak ingin mati.
Dia ingin bebas, benar. Tetapi dia tidak ingin mati konyol.
Dia tidak akan mati. Dia bersumpah.
Tetapi entah kenapa dia merasa pesimis.
Nalisa, dengan kekuatannya yang tersisa dan hembusan angin yang kian menerjang, berhasil melihat ke mana arah jatuhnya. Matanya melebar, tentu saja. Tidak ada kesempurnaan. Tidak ada keberhasilan tanpa titik gelap kesalahan dari seluruh rencana yang bahkan sudah dipastikan dan diuji coba berkali-kali.
Jadi, ketika matanya menangkap titik jauhnya yang ternyata melenceng dari yang seharusnya, dia menutup mata sembari memeluk tubuhnya yang gemetar hebat.
”Ya Allah, Nalisa nggak mau mati. Tolong..”
Suaranya lirih. Ketika dia merasa dirinya semakin dekat dengan tanah, perempuan itu memaksakan dirinya untuk meringkuk.
Pasrah.
...........
Alpino berjalan dengan cepat menuju tempat dimana dirinya harus berada. Jantungnya berdegub dengan keras sehingga yang telinganya dengar adalah suara itu sendiri. Langkahnya limbung, dia bahkan hampir tersandung jika dia tidak berusaha untuk berdiri dengan benar dan menahan tubuhnya.
Desiran dan dengungan menguasai indera pendengarannya. Alpino bisa merasakan asam lambungnya naik sehingga rasa sakit dan mual menjadi satu. Tangannya gemetar dengan tidak biasa. Kepalanya terus meneriakkan kata-kata yang harus dipahami oleh anggota tubuhnya untuk bertindak.
Rasanya Alpino hampir gila ketika dia menemukan titik dimana Air Cushion yang telah Fajri dan Jihan usahakan dan selundupkan mati-matian berdiri dengan gagah didepannya. Itu bukanlah yang terbaik untuk menampung manusia yang melompat dari gedung tinggi. Bukan pula yang memang memenuhi standar dari keamanan petugas kebakaran yang memiliki lisensi dan izin untuk menggunakan barang tersebut.
Tapi itu adalah hal terakhir yang dimiliki oleh Jihan untuk diberikan sebagai pelengkap keselamatan rencana gila Nalisa. Air Cushion yang dimiliki oleh lembaga olahraga yang Jihan tekuni sebagai bidang pekerjaannya sekarang bukanlah lembaga abal-abal. Mereka juga memiliki lisensi, tetapi untuk pemakaian Air Cushion ini tidak begitu diperlukan sehingga mereka membuat satu sebagai replika yang hampir mirip.
Sebelumnya, Nalisa meminta matras yang ditumpuk menjadi beberapa bagian, tetapi hal itu terlalu riskan untuk ketahuan oleh orang banyak. Belum lagi, petugas dan karyawan yang ada di hotel ini pasti akan menentang habis-habisan dan melaporkan hal terlarang ini pada orang-orang yang berkuasa. Kedua keluarga mempelai akan mengetahuinya sehingga Nalisa tidak akan bisa kabur dari pernikahan yang tidak dia inginkan sampai serat terakhir hidupnya.
Menghembuskan napas yang tidak sadar telah dipegangnya beberapa waktu, Alpino merasa kepalanya sakit. Dia berulang kali melihat ke atas untuk memastikan apakah tempatnya tepat. Apakah ada kesalahan pada Air cushion yang mereka pakai. Dengan kakinya yang goyah, dia mondar mandir untuk melihat apakah angin di dalam benda itu berkurang, apakah ada kecacatan dari plastik karet tebal yang bahkan awalnya tidak mau mengembang ketika mereka mencobanya.
”Nalisa.. gue mohon.. gue mohon lo harus selamat. Kalau lo kenapa-kenapa, gue yang bakalan mati Nalisa. Gue nggak sanggup ngeliat lo kalau ini semua nggak berhasil..”
Suaranya gemetar, napas yang ia hembuskan tidak beraturan. Alpino bersandar pada benda itu dengan tubuh yang masih tegang. Matanya melirik ke arloji. Ponsel masih di tangannya untuk mengetahui kode yang diberikan Fajri dan Jihan agar dirinya bisa bersiap saat Nalisa mulai melakukan hal yang di luar nalar.
Namun, baru saja dirinya mengalihkan matanya dari benda elektronik itu, Alpino terkejut setengah mati ketika dia mendapati Heksa berada tepat di depannya dengan ekspresi bingung dan penasaran. Meskipun sorot matanya agak redup, tetapi dia seolah tidak percaya apa yang telah dilihatnya.
”Ap-” Kalimat pertanyaannya terpotong ketika Heksa membuka suaranya dengan cepat.
”Apa yang mau lo lakuin dengan itu, Al?” Dia menodong seolah-olah Alpino mempunyai rahasia besar yang berbahaya.
Sebenarnya, ya, ini adalah rahasia besar yang berbahaya dan menyangkut persoalan nyawa seorang perempuan pemberontak yang keras kepala.
”K-kenapa lo disini, Heksa? Lo nggak mau ngeliat acara nikahannya L-Li-Lisa?”
Alpino mengembalikan pertanyaan. Entah dia masih bisa menyebut Heksa sebagai satu atau tidak, tetapi yang Alpino sesalkan adalah bagaimana suaranya menjadi terbata-bata.
”Gue tanya lo. Kenapa lo malah tanya gue balik?” Suara Heksa memang tidak membentak seperti biasanya. Itu jatuh dalam pertanyaan hening yang menuntut jawaban.
”Gue nggak ngapa-ngapain. Mending lo segera ke atas, deh. Nggak usah hiraukan gue disini” Alpino menjawab dengan canggung.
”Bohong.” Heksa berbicara lagi. Kali ini mendesaknya untuk berkata jujur.
”Heksa.. Please. Jangan mancing gue. Lo mending pergi ke atas, nikmati acaranya dan tinggalin gue disini” Alpino menjilat bibirnya sebelum membuang muka dari Heksa dan melanjutkan ucapannya lagi.
“Lo-, lo pasti p-paham kan kenapa gue disini? L-lo kira gue s-sanggup ngeliat orang yang gue cinta nikah d-dengan orang lain?”
Alpino tidak ingin mengeluarkan ini sebenarnya, toh, hari ini dirinya lebih mengkhawatirkan hal yang lebih besar daripada perasaannya. Tetapi hanya inilah yang bisa dia pikirkan dan Heksa pasti akan lebih mengerti dan memahaminya.
”Oh.” Heksa bergumam.
Alpino bersorak dalam hati dengan kelegaan yang menguasai jantungnya yang bertalu. Tetapi sayangnya, Heksa tidak kunjung bergerak. Dia masih disana, dengan tatapan redup yang terlihat menyedihkan memandangi Alpino dengan rasa kasihan yang agak tidak nyaman.
Alpino tidak bisa terus membagi perhatiannya dengan hal yang tidak terlalu penting saat ini. Dia harus menunggu kode yang diberikan padanya, tetapi Heksa tidak kunjung melangkah meninggalkan dia. Rasanya, frustasi membayangi Alpino secepat jantungnya yang ketakutan bertalu.
”Ya, Heksa. Oh. Jadi lo bisa tolong tinggalin gue sekarang? Gue nggak mau orang lain ngelihat kehancuran gue bahkan jika itu lo, Sa. Please, kasih gue ruang, ya?”
Alpino mengusap wajahnya. Dia sungguh berharap bahwa Heksa segera pergi. Bahkan otaknya sudah meneriakkan banyak permohonan untuk mengusir orang yang tidak terlalu dia harapkan untuk berada di sini.
”Kalau gitu, rebut aja Nalisanya. Lo keatas terus ajak Nalisa kawin lari, Al. Perjuangin hati lo kalau misalnya lo nggak pengen dia sama orang lain” Suara Heksa kecil, tanpa nada. Lirih seolah-olah dia digerakkan oleh tombol tertentu.
Alpino menghela napas, lidahnya membuat bunyi decakan yang menandakan bahwa dia tidak bisa berurusan dengan orang yang rusak. Dirinya saja sudah rusak disini dan berusaha menjadi pahlawan kesiangan untuk orang lain. Jika dia menambahkan satu lagi di sayapnya, dia tidak akan sanggup. Prioritasnya sekarang adalah keselamatan Nalisa dan jika Heksa terus bersikeras seperti ini menunjukkan bahwa lelaki itu juga memiliki kehancuran di kedua tangannya, Alpino akan menjadi orang kejam untuk mendorongnya menjauh.
Jadi, Alpino harus menekan saklar emosi Heksa agar sahabatnya itu segera pergi dan membencinya. Cukup itu untuk saat ini, dia akan menangani resikonya nanti.
”Gue bukan lo, Heksa” Alpino dengan kepahitan suaranya, membentak. Dia melangkahkan kaki untuk menemui dan memukul mundur sosok Heksa.
”Maksud lo?” Suara Heksa menjadi keras. Matanya juga menyorot marah ke arah Alpino. ”Gue Cuma nyaranin yang terbaik biar lo nggak sakit hati, brengsek” lanjutnya dengan ludahan yang kasar.
”Gue nggak perlu saran dari orang brengsek yang udah ngerusak persahabatan dan hubungan orang lain kayak lo. Gue bukan lo yang dengan seenaknya membuat orang lain jadi pengkhianat, Sa. Gue lebih baik dari lo karena gue tau apa yang harus gue lakukan tanpa membuat kerusakan apapun”
Alpino sebenarnya tidak ingin membawa ini dalam percakapan. Sebelumnya, dia sudah berencana untuk berbicara empat mata dengan lelaki itu. Dia tahu bahwa Heksa sedang tidak baik-baik saja dan tidak punya siapapun yang bisa mendukungnya dalam persoalan ini. Hell, Alpino bahkan tau, di dalam hidup lelaki yang sekarang terlihat sangat menyedihkan itu, dia hanya punya Hala. Dan sekarang, Hala bahkan tidak ada dalam jangkauannya lagi.
Anak itu sebenarnya, tersesat.
Alpino melangkah dengan cepat untuk menemui Heksa. Setelah berada di depan lelaki itu, dia mendorong bahu Heksa untuk segera beranjak pergi. Tetapi sebagaimana batu yang sedang dirinya bujuk untuk dilempar, Heksa sama sekali tidak melangkah barang sedikitpun.
Alpino rasanya hampir gila. Kewarasannya hilang dalam setiap detik yang berdentang di telinga dan kepalanya yang berdenyut menyakitkan.
”Tapi apa yang gue bilang adalah fakta, Heksa. Lo yang udah ngerusak semuanya. Nalisa datang ke gue dan ngejelasin apa yang dia lihat dengan matanya sendiri. Lo mau nyanggah kalau Nalisa bohong sama gue? Bohong sama anak-anak yang lain?” Suaranya bergetar, kali ini dia sudah tidak tahan lagi.
”Nalisa nggak sepicik itu. Dia nggak akan berbohong untuk apa yang nggak pernah terjadi. Lo yang udah ngerusak hubungan Nalisa sama Hala. Lo juga udah ngerusak hubungan Bang Sinar sama Hala. Terus lo sekarang bilang kalau lo nggak ngelakuin kerusakan apapun? Bullshit, Heksa. Lo nggak lebih baik sama gue. Lo yang begini tuh, lebih buruk dari sampah, bodoh!”
”Oh? Sekarang lo marah sama gue? Lo nggak tau apa yang gue rasain, Al! Lo nggak tau di posisi gue dan lo ngejudge cuma dari satu arah doang. Lo sepercaya itu sama Nalisa, hah? Gimana kalau yang dia bilang Cuma bualan doang? Gimana kalau dia make up sesuatu supaya kita berantem kayak gini? GIMANA KALAU DIA CUMA MAU KITA BERAN—”
BUAGH!
”DIEM ANJING!!”
Alpino yang sudah ada di titik palling tidak waras dirinya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukul Heksa tepat di perut. Sahabatnya itu terpental ke belakang. Jatuh langsung dengan terduduk dan memegangi perutnya. Tatapannya nanar, bahkan setetes air mata keluar bersamaan dengan noda darah dari sudut bibirnya.
Alpino terkesiap. Dia terlalu kelepasan. Dia membebani semua ketakutannya akan keselamatan Nalisa dan melepaskannya dalam satu pukulan ke orang lain. Ke Heksa yang sudah memancing emosinya keluar.
”Heksa..” Dia menghela napas gusar. Rasanya, semuanya sangat berantakkan.
Alpino berterak. Keras dan penuh dengan rasa sakit dan juga stress yang terpendam.
”LO! JANGAN MANCING GUE! Seharusnya nggak gini! Kita seharusnya ngobrol satu sama lain buat nyelesaiin semuanya baik baik! KENAPA LO MANCING GUE SIALAN! KENAPA SEKARANG! ENYAH LO HEKSA ENYAH LO TAI! GUE KETAKUTAN DISINI! GUE LAGI KETAKUTAN HEKSA! AAARGHHHH!!!!” Menjambak rambutnya, Alpino merasa dirinya meledak dengan emosi yang sudah tidak tertahan lagi.
Heksa didepannya terbelalak. Tetapi dia tidak peduli. Sekarang Ketika dia sudah meledak, dan hal yang ada dikepalanya adalah melepaskan semuanya. Tidak peduli siapa di depannya, tidak peduli siapa yang sekarang dia pukuli dan tendang habis-habisan.
Heksa disana, memancing semua emosinya keluar dan dia tidak mampu menahan menjadikan lelaki itu, sialan, sahabatnya menjadi samsak semua emosinya.
”Al.. UHUK! S-stop.. AL!!” Heksa meringis. Tubuhnya bergerak untuk meminta penyudahan akan pukulan brutal yang dilakukan oleh Alpino yang gelap mata.
”KENAPA LO DATANG SEKARANG BAJINGAN! KENAPA LO BIKIN GUE TAMBAH GILA? INI KAN YANG LO MAU? GUE YANG STRES? JANGAN BIKIN GUE JADI ORANG JAHAT KARENA LO YANG MULAI! KENAPA LO NGGAK PERGI AJA WAKTU GUE NGOMONG BAIK-BAIK? KENAPA HEKSA??!!!”
Alpino tahu apa yang dia lakukan tidak benar. Lelaki itu tahu bahwa dia harus berhenti. Tetapi pandangannya menjadi buram, telinganya tergenang oleh air keruh. Dia tidak bisa mendengar apapun. Ada suara denging yang menyakitkan, rasanya semua hal di sekitarnya membuatnya sesak.
Alpino tidak pernah seperti ini. Dia tidak pernah menjadi orang yang melampiaskan amarah dengan kepalan tangan dan tendangan. Dia selalu menenangkan diri, menjernihkan kepalanya dan bersikap lebih adil dan dewasa.
Sekarang semuanya rusak. Alpino yang telah menekan tombol merah berbahaya dalam dirinya.
Alpino tidak tahu sejak kapan kebrutalannya telah dihentikkan oleh dua orang petugas keamanan hotel. Dia berteriak, menendang ke udara sementara kedua tangannya ditahan oleh tubuh kuat petugas.
”Berhenti kalian! Hentikan pertikaian!!” Seorang satpam lain datang untuk menghentikan. Alpino mengambil napas sebanyak yang dirinya bisa.
”Apa yang kalian lakukan disini?? Membuat kerusakan properti dan melakukan perbuatan tercela yang melanggar kode etik tempat ini. Kalian bisa mendapatkan hukuman jika tidak segera menghentikan perbuatan tidak terpuji ini!!” Seruan lainnya lebih dekat di telinganya. Itu adalah petugas keamanan yang menahannya.
Terkejut ketika semua kesadarannya kembali muncul, matanya membulat besar. Dia hampir tidak bisa mengenali bagaimana Heksa yang syok terluka di depannya. Sahabatnya itu di bopong oleh dua orang petugas keamanan yang lebih kecil. Sekarang, ada darah dari hidungnya yang lebih banyak mengucur.
”H-Heksa..” Dia berbisik. Perasaan bersalah menyeruak.
”Heksa.. maaf. Sial, maaf Heksa.. gue.. gue..” Alpino tidak bisa melanjutkan ucapannya. Horor terlukis dari ekspresinya yang terpantul di kedua mata Heksa yang terbelalak.
Heksa membuka mulutnya yang hancur karena perbuatannya seolah ingin menjelaskan sesuatu. Alpino merasa denyutan bersalah semakin menyeruak. Apa yang harus dia lakukan untuk meminta maaf pada lelaki itu?
Gila. Alpino sudah benar-benar gila seperti dia telah kerasukan sesuatu.
”Hei kalian! Bisa jelaskan apa benda disana? Siapa yang meletakkan itu??” ada pertanyaan yang mengambang di telinganya. Dia tidak bisa mndengar dengan jelas ketika yang dia fokuskan adalah Heksa yang sudah berantakkan dalam luka.
”N..Na..” Suara Heksa terbata. Matanya semakin membesar. Alpino berusaha untuk mengerti apa yang ingin dikatakan oleh sahabatnya itu.
”Sa... Sa.. gue .. gue..”
”Na.. NALISA! AL! NALISA!!!”
Seperti sambaran petir di siang bolong. Jantung Alpino mencelos ketika Heksa berteriak dengan keras dan cadel.
Dia tahu apa itu. Dia tahu apa yang terjadi. Dia juga tahu bahwa dirinya tidak pernah berbalik secepat ini dalam hidupnya. Disana, ketika dia mendongak, tubuh Nalisa luruh dibawa oleh tarikan angin.
”NALISA!!!!!!!”
Alpino meraung ketika dia menyadari sesuatu. Tubuh Nalisa tidak jatuh ke titik yang telah mereka perhitungkan. Alpino hampir tidak bisa bergerak ketika dia menatap dengan horor bahwa kurang beberapa detik lagi, tubuh Nalisa akan menghantam sisi Air Cushion dan perempuan itu akan terpelanting langsung ke tanah.
Rasanya seperti berada di dalam genangan air ketika dia memberontak dalam tahanan kedua tangan besar penjaga keamanan. Dengan teriakkannya yang lantang dan tubuhnya yang memberontak dari rasa syok dan horor, dia berlari. Alpino berlari tertatih-tatih, ketika dia terjatuh, tubuhnya masih dalam mode refleks mengejar. Dia tidak peduli sekarang dia merangkak, dia tidak peduli bagaimana keadaannya.
Fokus utamanya adalah menyelamatkan Nalisa.
”LISA! NALISA! TUHAN!! NALISAAAAAA!!!!!!!”
Alpino tidak tahu apakah mata manusia bisa melebar lebih dari ukuran tengkoraknya. Tapi yang pasti, dia bisa merasakan kedua matanya keluar dari rongga ketika dia melihat tubuh Nalisa sudah menghantam sisi Air Cushion. Dia harus menangkap Nalisa atau jika tidak keselamatan Nalisa bisa dipertanyakan.
Tetapi jarak Alpino dan posisi Nalisa sangat jauh. Rasanya terlalu jauh. Organ tubuh Alpino terasa mati ketika dia melihat dalam pergerakan slow-motion bagaimana tubuh perempuan yang dicintainya itu terpental jauh dan menabrak batang pohon besar jauh dari posisi Air Cushion sialan itu berada.
”LISAA!!!”
Alpino meraung dalam ketidakmampuannya untuk menyelamatkan Nalisa.
Dia tidak bisa.
Tetapi ketika ada sebuah tangan besar yang menangkap tubuh Nalisa sebelum menyentuh tanah, Alpino merasa seluruh nyawanya tercabut detik itu juga. Dia jatuh dengan kedua tangan menapak terlebih dahulu sebelum semuanya gelap.
Alpino pingsan dalam keterkejutan yang luar biasa.
...........
Nalisa tersentak bangun dengan napas yang terkesiap. Wajahnya berkeringat dingin seperti seseorang menuangkan air es dikepalanya. Pandangannya masih kabur. Suasana disekitarnya sepi, sunyi. Rasanya dadanya terlalu sesak. Bahkan untuk bernapas saja, Lisa merasa terjepit.
Ia usap kedua matanya yang telah dibanjiri dengan keringatnya yang menetes, berusaha untuk mendapatkan visi yang lebih jelas. Terakhir kali yang dirinya ingat adalah bagaimana kehidupannya seolah dipertontonkan di depan matanya ketika dia melihat bahwa dia jatuh di titik yang bukan tempat seharusnya dia berada.
”Gue.. gue belum mati.. kan?” Bisikannya lirih dengan suara sengau seperti tidak digunakan berhari-hari.
Tangannya meraba seluruh tubuhnya yang sekarang terbalut oleh pakaian pasien rumah sakit yang tidak dia kenali. Rasa lega menyeruak disekujur tubuh. Dia masih hidup. Dia masih bernapas dan tidak kurang satupun.
Tidak kurang satupun...
Nalisa berusaha bergerak ketika dirinya mendengar ada suara-suara dari luar pintu tempatnya beristirahat. Dia ingin memanggil seseorang. Dia merasa haus seperti belum minum selama berbulan-bulan. Tetapi sesuatu menyangkut. Rasanya sangat sakit seperti dihantam oleh benda keras dan setelah itu, ada rasa berdenyut yang hilang menjadi sebuah kebas sementara.
Lisa terdiam. Matanya melirik dengan ketakutan ke seluruh bagian tubuhnya yang lain.
Kakinya..
”K-kaki gue...”
...🍁...