
Alunan musik milik Boyband asal Korea Selatan yang sedang naik daun dengan judul DARARI itu mengalun dengan volume keras di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Lisa, dengan tingkat sensitifitas yang sedang tinggi-tingginya, tidak henti menawarkan senyum dan pekikan pada dirinya sendiri ketika dia merasa terlalu penuh, untuk menahan perasaannya yang bersemangat untuk dirinya sendiri. Kepala perempuan itu bergoyang dari kanan ke kiri untuk mengikuti musik dan sesekali mengikuti lirik dengan sangat fasih akibat tingkat kepopuleran lagu akhir-akhir ini.
Lisa sebenarnya tidak bisa tenang dan diam dalam perjalanan. Untuk menurunkan tingkat kegugupannya yang terbalut semangat dan kebahagiaannya yang berputar-putar di dalam perutnya, membuatnya harus melakukan sesuatu. Menggumamkan dan berteriak beberapa kata untuk mengeluarkan apapun energi yang berusaha melepaskan diri dari tubuhnya adalah apa yang sedang dia lakukan sekarang dengan sepenuh hati seperti dia hanya seorang diri tanpa ada siapapun disekitarnya. Lisa hanya terlalu fokus pada dirinya sendiri dengan satu tujuan sekarang. Mata berbinarnyapun ia tunjukkan hanya pada jalanan yang ada di depan matanya.
Alpino, yang berusaha untuk tetap fokus pada jalan raya, tidak mampu untuk tidak membagi fokusnya antara memperhatikan Lisa dan apapun yang harus dia lakukan sekarang untuk membawa mereka berdua secara aman dan selamat sampai ketempat tujuan mereka. Dia tidak mampu untuk mengelak bagaimana dia terlalu suka memperhatikan Lisa dalam tingkatan yang sangat membuatya frustasi, jadi, dia mengerahkan terlalu banyak tenaga untuk waktu-waktu seperti ini.
“Bahagia banget lo, Lis. Gue jadi beneran penasaran apa yang bakalan lo mau kasih lihat buat gue nanti”
Dia tidak tahan untuk tidakj berbicara dan mengganggu fokus Lisa. Karena, jika perempuan yang sedang sangat bersemangat tentang sesuatu itu diajak berbicara, dia akan mengambil semua fokus hanya untuk sang penanya dan akan menjabarkan banyak hal tanpa ada kata-kata yang tidak melarikan diri dari bibirnya yang lucu. Dia akan menceritakan sebanyak kata apapun yang bisa dia ucapkan dengan pancaran mata berbintang yang sangat indah. Jadi, disinilah dia bertanya pada Lisa dengan tingkat penasaran yang sungguh Alpino tidak akan menyangkal bahwa dia sangat ingin tahu.
“Bahagia, dong!”
Itu adalah pekikan pertama yang Lisa berikan padanya. Tubuh perempuan itu menyerong menghadap padanya yang sedang menyetir ketika dia melirik lagi dari memperhatikan jalan raya dan jarak antara mobilnya dan mobil Juke di depannya.
“Bagus kalau lo penasaran banget karena emang lo harus!” Ucapan Lisa akan terlalu berputar-putar dalam hal ini karena pemikirannya agak kurang koheren, tetapi Alpino dengan sangat bangga menyatakan bahwa apapun yang akan Lisa racaukan saat ini, dia akan tetap mengerti kemana arah pembicaraan dan apa yang perempuan itu bicarakan.
“Iya, kan gue tanya alasannya sama lo karena gue emang penasaran. Jadi, mind to tell me, apa yang bikin lo bahagia sampai keliatan kayak orang gila gini?”
“Emang ngeselin banget lo, Al. Gue tuh lagi bahagia kenapa dikatain kayak orang gila? Males, ah, gue!”
Alpino tertawa dengan puas. Dia selalu paham dimana ini akan bekerja. Lisa akan selalu menarik kata yang membuatnya tidak terkesan dan agak menyinggung meskipun itu tidak di ambil dalam taraf yang begitu dalam. Olok-olokan akan selalu dibalas dengan olokan atau gerutuan lain yang Lisa bisa balas pada siapapun lemparkan padanya. Mau bagaimanapun situasinya, apakah dia bahagia atau marah, dia akan bisa menangkap hal negatif dalam satu baris kata dan menembak kata balasan tentang hal itu dengan cemberutnya yang langsung jatuh dari wajahnya yang bahagia.
“Gue nanya, loh. Malah ngambil poin yang nggak penting. Lagian, emang keliatan gitu. Lo aja dari tadi senyum-senyum nggak jelas dan nyanyi-nyanyi gitu. Lo lupa kalau gue ada disini, disamping lo dan lagi nyamar jadi ojol pribadi, lo?”
Dia menggoda lagi. Bukan tanpa alasan, Alpino hanya ingin membantu Lisa untuk tetap membumi dan tidak begitu terpengaruh dengan perasaannya yang sebenarnya sedang gugup dan cemas di dalam. Namun dia tidak bisa memperhatikannya karena kekuatan positif rasa bahagia yang melambung menguasainya dalam jumlah yang besar-besaran.
“Dih, padahal lo yang ngajakin jalan duluan. Ngapain jadi lo yang ngeluh sendiri?”
Matanya berputar dengan malas. Sekarang perempuan itu memperhatikan kukunya kembali. Alpino masih memperhatikan kaki Lisa yang tidak henti bergerak sejak mereka memasuki mobil. Dia terlihat panik di dalam dan tidak bisa menguasai emosinya dengan baik saat ini. Alpino, dengan senyum kecil bergerak untuk mengganti saluran radio, mencari musik yang lebih menenangkan untuk membantu Lisa lebih rileks dan santai.
“Yang bilang gue ngeluh siapa, sih, pinter” Alpino terkekeh geli. Tangannya terulur untuk mengelus paha Lisa dengan lembut sebelum melanjutkan. “Lo gugup banget, tau. Keliatan jelas meskipun lo kayaknya lagi bahagia banget. Tapi jangan kira gue nggak bisa lihat lo yang sebenarnya dengan jelas”
Lisa, menoleh dengan bibir dan hidung yang mengerucut. Tangannya ia letakkan dengan cepat dan meremas jemari Alpino di pahanya sebelum mengangkatnya dengan kedua tangannya. Sekarang, tangan Alpino sudah tenggelam di antara kesepuluh jemari Lisa yang terasa sangat dingin.
“Lis? Gila, dingin banget tangan lo”
“Ya, kan, gue lagi gugup! Padahal lo sendiri tadi yang bilang udah kayak cenayang gitu” ada ringisan yang datang setelahnya sebelum senyuman kembali hadir di wajahnya, kali ini agak aneh. Itu campuran rasa senang dan takut akan sesuatu hal yang seharusnya tidak dia pikirkan.
“Ada, ya, orang yang bahagia terus gugup dan takut dalam satu waktu yang sama?” Alpino mengoceh. Dia masih melirik ke arah Lisa sementara tangan kanannya bekerja pada kemudi engan hati-hati. “Cuma lo aja, sih, kayaknya, Lis. Emang agak aneh lo kalau gue inget-inget lagi”
“Ih! Kok gue malah dikatain gitu, sih! bukannya di tenangin”
“Ini kan gue lagi nenangin, lo, Nalisa” Alpino yang gemas, menarik tangannya yang di genggam Lisa dengan lembut sebelum menyelipkannya dengan hati-hati di belakang telinga perempuan itu dan memijat daun telinga Lisa dengan perlahan. Membiarkan perempuan itu untuk aman dan santai dalam sentuhannya yang menenangkan. “Makanya, jangan mikir yang jelek-jelek dulu, Hush, pergi jauh-jauh itu yang bikin lo gugup nggak karuan. Padahal, mah, bahagia ya bahagia aja”
Ada hembusan yang Lisa keluarkan ketika dia meleleh dalam sentuhan Alpino. Lisa melirik ke arah jalanan yang tidak terlau ramai. Alpino dengan cekatan dan mulus memberhentikan pergerakkan mobil ketika dia berhasil menyadari lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
“Lagian, apa yang bikin kebahagiaan lo berubah jadi kegugupan dan rasa takut sekarang?”
“Bukan gitu, sih, sebenernya. Gue cuma takut antisipasi gue terlalu berlebihan. Soalnya, kayaknya cuma gue aja yang ngerasa itu spesial buat gue. Bagi orang lain mungkin itu malah biasa-biasa aja dan nggak ada nilainya”
Rasa tidak aman yang tiba-tiba menguasai adalah apa yang membuat Lisa terkadang goyah sendiri dengan pikirannya. Dia sudah berusaha agar tidak terlalu terpengaruh dan memilih emosi bahagianya yang membuatnya benar-benar melambung dalam kegembiraan tinggi, tapi entah kenapa, antisipasinya kali ini perlahan membuatnya ketakutan. Bagaimana jika karyanya hanyalah sebuah pajangan yang tidak memiliki nilai dan ketertarikan bagi pengunjung dan calon pembeli? Bagaimana jika karyanya hanyalah sebuah karya yang hanya dia sendiri kagumi dan sukai?
Dia tiba-tiba berpikir bahwa seharusnya dia tidak membiarkan karya orisinilnya diperlihatkan ke orang banyak. Takutnya, apa yang dia rasa sangat spesial benar-benar kehilangan maknanya. Meskipun seluruh orang dan atasannya di ruang meeting mengatakan bahwa Dandelion Lamp itu adalah sebuah mahakarya penuh pujian, dia terlalu membenci rasa tidak amannya yang tiba-tiba muncul.
“Nalilsa, dengerin gue” Alpino mulai denga suara lembutnya. Tubunya ia fokuskan sepenuhnya pada Lisa ketika dia melihat angka penunjuk waktu pada lampu lalu lintas yang masih cukup untuk membuatnya berada dalam pembicaraan yang cukup serius.
“Lo, tuh, ya. Nggak cocok kayak gini. Bahagia aja kayak tadi kenapa, sih? pake mikir jelek segala. Nggak bagus buat lo. Lo cantik kalau senyum dan turutin energi positif lo. Kenapa malah ngikutin yang negatif? Kalau lo gini rasanya gue tuh gemes pengen ngegeprek lo jadi ayam geprek biar sadar. Udah bagus-bagus bahagia kayak tadi malah sok-sokan galau. Nggak cocok”
“Ya, kan gue nggak tau! Gue juga gamau gini, kali”
Menghela napas pelan. Alpino menarik kedua tangan Lisa untuk dia usap agar dingin yang menempel disana digantikan dengan hangatnya ketenangan yang bisa dia berikan pada Lisa agar perempuan itu menghilangkan pikiran jelek apapun yang dia dapatkan selama di perjalanan mereka.
”Nalisa” dia memulai, memberikan cengiran lebar agar Lisa berhasil kembali fokus dengan keceriaannya. “Menurut lo, apapun yang mau lo tunjukkin ke gue itu spesial atau nggak buat lo?”
Lisa mengernyit dengan tidak suka sebelum menyahut dengan cepat. “Ya spesial, lah! Spesial pakai banget.! Kalau bisa ini spesial pake telur terus karetnya dua! Ini berharga banget buat gue, tau!” Dia marah di atas kata-katanya. Emosinya tiba-tiba berubah begitu cepat karena sesuatu yang membuat apapun yang dia anggap berharga sedang dipertanyakan sekarang.
Alpino menggeleng geli, Lisa dengan segala emosinya yang berubah-ubah dalam kurun waktuyang begitu singkat saat dia sedang kelimpungan dan kewalahan adalah sesuatu yang membuat Alpino terhibur dengan sangat sayang.
“Ah, masa, sih? emang spesial banget? Kok gue ragu, ya?”
Ada kilatan merah di mata Lisa dimana Alpino tahu apa yang selanjutnya akan dia dapatnya. Benar saja, satu pukulan di kepalanya dia terima. Bersamaan dengan cubitan di seluruh tubuhnya yang dengan tawa lepas dia keluarkan dengan banyak gerakan awas untuk mengelak rasa sakit bertubi yang menyerbunya.
“Alpino ih! Itu spesial banget makanya lo orang pertama yang gue ajak buat lihat! Pokoknya spesial! Jangan bikin gue emosi, ya! Ini tuh separuh hidup gue, Al”
Rengekan Lisa keluarkan. Alpino, yang terdiam sejenak karena keterkejutan, membelalakkan matanya dengan konyol. Napasnya tertahan ketika Lisa mengatakan sesuatu yang membuatnya diserang tepat di dadanya. Itu butuh beberapa waktu untuk dia sadari ketika suara klakson bertubi-tubi menyerang. Lisa dan dia terkejut, tetapi dia kemudian dengan cepat melajukan mobilnya. Meminta maaf dengan desisan ketika mobil di belakang menyalip dan memberikannya suara klakson yang lebih panjang untuk menyuarakan emosi.
Mereka berdua terdiam sejenak. Butuh beberapa belokan lagi di depan sebelum mereka menghembus tawa yang puas. Suara tawa itu bahkan mampu mengalahkan volume radio yang mengudara di sekitar ruang sempit dalam mobil.
“Al, ih, gue malu, anjir jadinya”
Lisa memelukk perutnya yang geli. Senyumnya yang tak dibuat-buat kembali dalam tawa bahagia yang terpampang dengan jelas. Begitupula Alpino yang merasa agak malu dan geli sendiri. Dia yakin wajahnya memerah karena tawa yang tak tertahankan untuk menutupi rasa malu itu sendiri.
“Ya, kan gara-gara lo juga, Lisaaa. Gue mau nenangin lo, nih. Emang, ya, nyusahin banget princess satu ini”
“Nyenyenyenye” bibirnya menggerutu ejekan, membuat Lisa kembali menatapnya dengan horror dan menahan diri untuk tidak hanya melakukan pertengkaran konyol aneh dengan tawa di dalam mobil yang sedang berjalan. “Salah omong gue, lo tuh bukan princess. Tapi jelek. Jeleknya gue”
“Maaf maaf aja, nih, ya. Gue bukan barang kepemilikan. Lagian lo yang jelek, ayo ngaca, brodi”
“Gue, sih udah ngaca, ya. Tapi yang gue lihat di pantulan kaca tuh adalah semua kegantengan gue yang luar biasa. Jadi, maaf. Ganteng ini sudah mutlak dari lahir”
Lelaki itu melirik disaat yang tepat ketika Lisa membuat gestur muntah yang disengaja. Ada cekikikan geli dari sang sahabat sebelum dia mengeluh bahwa dia terlalu banyak tertawa dan membuang energi yang tidak diperlukan.
Alpino membiarkan Lisa untuk mengatur dirinya dan perasaannya sendiri. Semuanya sudah lebih baik lagi, Alpino tahu bahwa emosi negative yang sebelumnya menghampiri, perlahan-lahan menghilang dan digantikan dengan senyum cerah yang sama lagi. Itu lebih baik. Lebih baik daripada hal yang baik. Karena dengan senyuman yang tulus dari Lisa dalam memancarkan kebahagiaannya itu adalah apa yang ingin Alpino lihat kembali.
Perasaanya lega dan hangat dalam hal-hal menyengkan yang indah.
“Gimana? Masih mikir kalau apapun yang bakalan lo perlihatkan ke gue itu nggak spesial?”
Lisa menggeleng dengan pasti. Menolak apapun yang dikatakan oleh Alpino dengan sangat tegas.
“Nggak. Ini separuh hidup gue. Sesuatu yang gue buat dengan sepenuh hati dan adalah hal yang sangat spesial bagi gue.” Tuturnya dengan suara tenang yang terselip dalam senyum. “jadi, lo harus merasa berterimakasih dan bahagia nanti karena lo beneran orang pertama yang gue bawa buat ngelihat mahakarya paruh hidup gue. Besyukur lo, Al”
Alpino berdecih sebelum menyodorkan jempolnya tinggi-tinggi pada Lisa.
“Siap, mah, kalau gitu. Nanti kalau akting gue jago, kasih tau gue, ya? Siapa tau gue bisa nyalon audisi aktor gitu, kan?”
“Gue boleh retur lo ke rahim Tante Adel nggak, sih?”
“Jangan, nanti lo kangen dan ngerasa kehilangan gue gimana? Kan lo juga yang ribet”
“Oh iya, gue nggak ada ojol pribadi, dong, ya”
“Sekalian aja lo jadiin gue badut ulang tahun”
Obrolan mereka adalah yang terbaik sejauh ini. Alpino bersyukur bahwa dia bisa membuat Lisa benar-benar santai dan tenang dari apapun gejolak badai emosi yang datang beberapa waktu yang lalu. Kali ini, dia bisa dengan aman meyakinkan bahwa dia menjaga Lisa dengan sangat baik. Dia senang dengan atmosfir mereka yang kembali seperti sedia kala. Seperti biasa mereka bertukar canda.
Itu satu belokan ke kanan lagi sebelum mereka berhasil sampai ke rumah penjualan Madevision ketika Lisa bertanya;
“Oh iya, Al. lo bilang lo mau kasih tau gue hal yang spesial juga. Emang apa? Gue baru inget dan gue tiba-tiba penasaran, deh”
Alpino diam sejenak, namun dengan senyuman hadir di wajahnya. Kali ini, tarikan senyumnya adalah tarikan yang begitu tipis dengan gemuruh di dadanya.
“Nanti aja. Gue mau ngutamain spesial yang dari lo. Udah, yuk turun. Udah sampai”
Alpino memberikan gestur dari gerakan dagunya ke arah sebuah gedung yang besar dan sangat luas. Lisa, yang matanya memancarkan rasa penasaran berganti dengan binar-binar bintangnya yang sekarang diiringi dengan pekikan kebahagiaan dalam semangat yang sama seperti biasanya.
“Ayo, Al! udah mau jam 10! Cepat!”
Alpino tersenyum dengan geli. Sekarang, senyumannya sudah sampai ke matanya dalam kekehan yang menggetarkan hati.
.........
...🍁...
...Daun Gugur; Intermezzo: On Their Way 0.5 - End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak R. Angela, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA R. ANGELA...
...JUDUL: MY CRAZY LADY...
Hanna, seorang gadis bertubuh besar dan berpenampilan tidak menarik, selalu tidak dianggap dan tersisihkan oleh ibu dan juga saudaranya, begitupun dengan orang-orang disekitarnya. Hingga keadaan berbalik, orang-orang yang dulu mencemoohnya kini mencoba mengambil hatinya, begitu juga dengan pria yang dulu sangat membencinya. "Kau harus menjadi duchess of Claymore, suka atau pun tidak!" - Alexander Davlin Claymore, Duke of Claymore - "Bukan kah kau tidak suka dengan gadis berlemak yang suka meneteskan air liurnya saat melihat makanan?" - Lady Hanna Jhonson - Tidak cukup dihina, Hanna pun menjadi taruhan oleh teman-temannya dan juga pria yang sangat dia sukai. Hingga suatu hari, Hanna tersedot masuk ke dalam novel yang sedang dia baca, dan menjadi pemeran utama yang hidupnya juga sama menyedihkannya. Merasa mendapat kesempatan kedua, Hanna mencoba mengubah takdir nya, dengan melawan siapa saja yang ingi menyingkirkan nya
Selamat membaca🥰