
Nalisa duduk tegak di kamarnya yang baru saja bersih perias yang sibuk merias tubuhnya hingga dirinya berakhir dengan balutan gaun pengantin lengkap dengan aksesoris yang menemani. Wajahnya kebas karena menampilkan ekspresi yang sama untuk tetap tenang saat para perias melakukan tugasnya. Kepalanya sakit karena hairstylist melakukan banyak hal untuk rambutnya dengan sentuhan akhir menjepitkan jepitan bulu yang tersambung dengan veil lembut yang menjulur menutupi punggungnya dengan gelitik halus.
Nalisa tidak menyangka bahwa hari ini akhirnya datang juga. Matanya menatap lurus pada pantulan dirinya di cermin besar. Meskipun menyakitkan untuk mengakuinya, tetapi rasanya melihat diri sendiri dalam balutan gaun yang dipilihkan oleh Noren, sangat memukau.
Detail bajunya memiliki glitter berlian halus dengan bintang yang bertaburan di sekitar bagian perut dan pinggangnya. Riasan make-up yang tidak terlalu tebal menonjolkan area matanya terlihat berbinar. Sebutir kristal menempel cantik dibawah mata kirinya seharusnya membuat efek yang memukau, tetapi entah kenapa rasanya kristal itu terlihat seperti air mata. Seperti Lisa mengeskpresikan dirinya sendiri bahwa di dalam hatinya, dia sedang menangis.
Meskipun cantik, Nalisa sendiri sadar bahwa dia terlihat menyedihkan. Tetapi, Nalisa menyadari satu hal yang berubah dari emosinya yang meledak-ledak sebelumnya. Rasanya, hari ini, dia lebih tenang dan yakin.
”Sayang sekali.. pakaian yang cantik begini bakalan jadi korban..” Lisa berbisik. Mengelus beludru lembut gaunnya.
”Seharusnya lo dipakai sama orang yang tepat, ya?” Ada tawa kecil yang keluar dari bisikannya. Lisa mengabaikan bagaimana dia terlihat gila karena berbicara dengan gaunnya.
Perempuan itu berdiri. Berputar di depan cermin dengan senandung. Hari ini akan menjadi hari dimana keberaniannya sedang di uji dan dia tidak sabar untuk itu.
Pintu kamar terbuka memunculkan Alpino yang berdiri dengan tercengang. Buket bunga mawar putih di tangannya hampir terjatuh. Nalisa tertawa.
”Kenapa lo? Kayak liat setan aja” Tuturnya geli.
Alpino yang baru saja tersadar, menggeleng. Dia mengikuti Nalisa yang kini terduduk di pinggir ranjang.
”Nggak salah? Dari pada kayak liat setan bukannya ekspresi gue nunjukkin kalau gue habis kesambet bidadari? Baru turun dari khayangan kah lo, Lis? Cantik banget soalnya” Pujinya.
Senyum sumringah Nalisa tunjukkan pada Alpino. Buket mawar putih ia tawarkan pada perempuan itu bak pangeran yang mencoba menggoda permaisurinya. Nalisa menghirup aroma manis yang ditawarkan bunga itu untuknya sementara Alpino mengambil duduk disampingnya, tatapan mata tidak lepas dari wajahnya.
”Omongan lo, Al.. manis banget. Terpesona ya lo sama gue?”
Lisa tidak bisa menahan cekikikannya ketika matanya menangkap pantulan mereka dari cermin besar dihadapannya. Kepala Alpino miring hanya untuk mengagumi rupa Nalisa sehingga perempuan itu segera mengangkat tangannya untuk menggeser wajah Alpino menghadap ke arah cermin.
”Kapan, sih, lo nggak mempesona, Lis? Asli deh hari ini lo beneran buat gue terpukau” Menggaruk lehernya, Alpino tidak mengelak sama sekali.
”Yaiyalah emang seharusnya gitu” Nalisa sangat senang dengan penghiburan.
”Kalau gue boleh ngomong, lo lebih keliatan siap buat ngejalanin pernikahan ini, deh, Lisa. Waktu gue masuk tadi lo keliatan kayak pengantin beneran, tau” Tuturnya dengan helaan napas kecil.
Nalisa mengalihkan pandangannya ke arah bunga di tangannya. Jemari lentiknya menggoda kelopak, memikirkan penuturan Alpino. Gaunnya memang cantik, riasannya juga sempurna. Tetapi hatinya tidak menginginkan ini.
Namun Nalisa sendiri tau bahwa Alpino mengatakan hal itu dari sudut pandang yang lain. Sebuah andaian sesaat ketika sahabatnya itu terpukau melihatnya yang bahagia sedang berputar didepan cermin besar karena menyukai bagaimana tampilannya.
”Al..”
Dia memanggil. Dan itu saja, Alpino tahu apa yang akan dia sampaikan seperti sebuah isyarat. Terbukti dari bagaimana Lelaki itu segera berdiri. Tangannya seperti ingin menepuk kepalanya seperti biasa. Tetapi, secepat tangan itu terangkat, secepat itu pula lah tangnanya kembali ke sisi tubuhnya. Karena, Nalisa yakin bahwa Alpino seperti tidak ingin merusak riasan rambutnya yang sempurna.
Jadi, Nalisa dengan cepat menarik tangan Alpino untuk dia letakkan di atas kepalanya. Cengiran ia berikan untuk sahabatnya yang memiliki tampilan terkejut sebelum senyuman muncul di wajahnya.
”Iya, deh, gue kalah. Kalau rambut lo rusak, jangan salahin gue, ya” Tuturnya dengan cemberut di wajah lucunya.
“Nggak apa-apa rusak, toh semuanya juga bakalan berantakkan nanti di atas” Dengan santai, Lisa menjawab.
Lisa tahu bahwa sahabatnya itu pasti memiliki kecemasan yang tinggi untuknya karena dia hanya pernah turun ke lapangan untuk melihat sebentar saja, sementara ketiga temannya bekerja keras untuk menyelesaikan rencana yang dia susun.
Bukannya dia tidak ingin membantu, tetapi terlalu riskan untuknya terlihat mencurigakan di posisi yang telah mereka tandai untuk uji nyali dirinya. Ini hanya dilakukan satu kali seumur hidupnya dan dia bahkan tidak memiliki percobaan yang layak.
”Tamu undangannya yang datang rame banget. Gue bahkan harus pastiin kalau rencana kita nggak bakalan ketahuan kurang lebih sepuluh kali. Gue bolak-balik kayak setrikaan tau, Lis. Kayaknya orang-orang udah pada curiga, deh gue bakalan sabotase pernikahan lo. Padahal, kan, yang mau sabotase gituan pengantinnya sendiri”
Nalisa tertawa. Sungutan Alpino terlihat seperti anak kecil yang sedang mengadu.
”Maaf deh kalau gitu. Nanti kalau semuanya udah berhasil, apa yang lo mau gue kabulin, deh. Janji gue!” Lisa memberikan jari kelingkingnya pada Alpino yang mengernyitkan hidungnya.
”Permintaan gue lo harus selamat dan harus hidup, ya, Lisa! Janji??” Dengan cepat, lelaki itu menautkan kedua kelingking mereka. Ada harap yang jujur dari nada suaranya. Nalisa tidak bisa untuk tidak terharu, jadi dia mengangguk dengan semangat.
”Serius, ucapan lo buat gue seolah-olah sedang ngerencanain bunuh diri, sialan”
”Memang kelihatannya begitu, kan! Pokoknya gue nggak mau tau. Lo harus selamat dan nggak terluka sedikitpun!” Alpino berseru, mengguncang jari kelingking mereka berdua dengan kuat.
”Gue pasti selamat, Al. Gue punya lo, Fajri sama Jihan yang bantuin gue. Lagian gue nggak mau mati konyol, pinter” Dia menjawab dengan nada tenang. Berharap Alpino bisa kembali merasakan kepastiannya.
”Yah.. bener juga”
”Jihan sama Fajri lagi di bawah buat mastiin semuanya aman. Nanti kalau Ayah lo jemput, gue yang bakalan ke bawah sementara mereka bakalan jagain spot buat aksi gila lo”
”Bagus. Makasih banyak, ya, Al. Lo percaya sama gue, kan?”
Tiba-tiba, ketika Alpino berjalan untuk lebih dekat ke arah cermin, punggung Alpino yang terpampang jelas membuat Lisa sedikit sadar diri. Namun untuk kesekian kali, ketika Alpino memberikannya jempol dan cengiran gigi penuh bak karakter Rock Lee yang bersinar konyol dan terlihat sangat tangguh, perasaan itu Lisa memudar dengan secepat matanya berkedip.
”Tai lo. Jangan nanya gitu bisa nggak, sih?.” Alpino berbalik. Tangannya sekarang bersarang di pinggangnya, membuat setelan jas nya sedikit lecek. Kedua alisnya merajut untuk memperlihatkan raut wajah yang tidak puas.
”Jahat lo, anjir! Kenapa lo ngatain gue!” Lisa ikut berdiri, tangannya melayang untuk memukul bahu Alpino.
”Ya habisnya setelah semua persiapan udah selesai lo malah nanya gitu. Lo yang percaya duluan, ya, anjir. Ini gue udah ketar-ketir! Kalau lo nggak percaya mending gajadi, deh!”
Saat ini, entah kenapa udara di ruangan menjadi aneh. Tetapi Lisa tidak ingin membacanya dengan jelas. Dia tidak mau.
”Yaelah gue cuma nanya kali, Al. Gue udah siap. Percaya diri banget ini. Serius gue. Gue cuma godain lo doang, tau” Bibirnya meringkuk, tangannya yang tidak memegang buket bekerja untuk merapikan pakaian sahabatnya itu.
Alpino memutar matanya. Tetapi rasanya berubah ketika dia mencoba untuk mencubiti pipi Lisa dengan segera. Mencoba untuk menghindar, Lisa tertawa. Karena kali ini, Alpino mulai melayangkan omelan yang entah apa padanya.
Rasanya, sudah lama beban yang diemban di bahunya luruh. Dia sangat siap. Dia akan melompat melawan dunia untuk hari ini. Semua orang yang melihat akan kagum padanya. Dia menantikan kepuasan itu sesegera mungkin.
Hatinya berbisik dengan keras, akan menyenangkan untuk melihat bagaimana wajah Noren ketika dia bersatu dengan angin nantinya.
”Oh iya,”
Alpino membuyarkan tawanya. Lisa mundur beberapa langkah ke belakang untuk menetralkan napasnya yang sesak karena terlalu banyak tertawa.
”Apa?” Dengan gembira, Lisa kembali mengambil buket mawar yang ia tinggalkan. Candu pada aroma lembut bunga cantik itu.
”Tadi sebelum masuk, Hala ada di depan.. mau ngeliat lo katanya..”
Pembahasan ini lagi yang sangat Lisa tidak sukai. Selama beberapa hari kebelakang, Hala selalu mencoba untuk berbicara dengannya. Perempuan itu sangat teguh untuk memberikan alasan dari kejadian yang membuat Lisa naik pitam. Tetapi, kebencian di hatinya menguasai. Dia tidak ingin berurusan dengan pengkhianat. Kakaknya tidak pantas untuk pengkhianat itu.
Sekarang, dia tidak ingin moodnya rusak karena pembahasan. Matanya melirik jam. Ayahnya akan menjemputnya sebentar lagi.
”Aduh, Al. Gue mules kalau denger namanya. Makasih, ya, udah datang duluan dan ngusir itu orang. Penyelamat, deh, lo”
”Lisa..”
Nalisa dengan cepat menutup kedua telinganya, menyanyikan lagu apapun yang ada dikepalanya dengan keras agar Alpino tidak melanjutkan ucapannya lagi. Dia sedang tidak ingin mengingat kejadian malam itu. Betapa kecewanya dia.
Tidak berapa lama berselang, pintu kamarnya di ketuk dengan ketukan halus. Lisa tersenyum, sudah pasti Ayahnya lah yang datang untuk menjemputnya.
”Waktunya beraksi, Al” Lisa menyeringai. Matanya ikut menyipit karena buncahan energi yang datang menyerbu.
Alpino mengangguk. Tangan yang ia sodorkan pada lelaki itu dibalas dengan tepukan keyakinan. Sekarang, ketika wajah Ayahnya muncul dari balik pintu yang dibukakan oleh assistant hotel dan Wedding Organizer yang bertugas, Lisa segera berhambur memeluk Pria paruh baya yang terkejut bukan main.
”Siap untuk pernikahan, anak cantiknya Papa?” suara Ayahnya lembut dengan tidak percaya.
Ada unsur kelegaan yang aneh disana. Tapi yang Lisa lakukan hanya memberikan anggukan ceria. Tidak ada sedikitpun suara yang menyerukan permintaan maaf di hatinya untuk mengecewakan sang Ayah sebentar lagi.
”Tentu, Pa. Lisa siap banget!”
Dengan tatapan laser di punggungnya yang terbuka, tatapan Alpino membuat Lisa terbakar di dalam.
Oh, dia sangat menikmati ini.
..........
Pintu lift terbuka, Lisa muncul dengan tangannya yang mengalun di lengan Ayahnya sementara satu tangan lainnya memegang buket bunga mawar. Suara alunan musik mengalun dengan sangat indah. Lisa dengan jujur merasa sedikit terbuai. Ketika matanya mencari di antara dekorasi pernikahan yang indah dan elegan juga menampilkan kesan alami yang memukau dia takjub dengan bagaimana itu terlihat.
Sebenarnya, dia sudah mendatangi tempat ini satu kali sebelum acara pernikahan, tapi apa yang dia lihat hari ini sangat berbeda. Ini sangat menakjubkan. Dan sejujurnya, luar biasa. Entrance kaca yang dia tapaki dengan heels setinggi 7 cm mengetuk sesuai dengan langkah kakinya. Jika saja Lisa bahagia dengan pernikahan ini, dia akan mengatakan bahwa ini adalah pernikahan mewah impian para gadis di luaran sana.
Bunga-bunga putih senada dengan buketnya menyebar di mana-mana. Lengkungan daun buatan yang dibubuhi dengan bunga dan juga lilitan lampu peri menambah estetika. Napasnya terasa tersangkut ketika dia melihat banyak orang disekitar.
”Gugup?”
Lisa melirik ayahnya yang berbisik. Senyum lebar yang mantap ada seperti terekat di wajah puas pria paruh baya itu. Lisa mendengus geli. Dia tidak gugup dengan banyak pasang mata yang melihatnya dari segala arah, tetapi dia gugup karena akan menampilkan aksi yang mungkin membuat orang lain terkena serangan jantung karena ulahnya sebentar lagi.
”Nggak, kok, Pa. Lisa percaya diri banget hari ini. Lisa senang” Dia berbisik, hampir tertawa.
Matanya menangkap siluet Kakaknya dan Hala yang berada di deretan kursi sebelah kiri. Dia juga baru menyadari ada Ibunya dan calon mertuanya yang gagal disana menunggunya. Menatapnya dengan rasa takjub dengan bagaimana penampilannya hari ini. Membayangkan akan memberikan kejutan yang hebat kepada mereka, hati Nalisa tergelitik.
Dia sangat senang!
Dia mengabaikan bagaimana Noren menatapnya dengan binar mata kebahagiaan yang memancar bahkan jauh dari jarak mereka sekarang. Langkah yang diambil oleh Lisa dan ayahnya memang tidak begitu cepat. Itu adalah langkah yang di atur untuk mengikuti paduan melodi dari pemusik yang mendendangkan nada-nada indah pilihan.
Menoleh ke posisi dimana dia akan melakukan aksinya, Lisa bingung karena tidak mendapati siapapun. Seharusnya Jihan dan Fajri tegak untuk memberi kode apapun padanya. Tetapi, ketika dia mendengar sebuah siulan, kepalanya tersentak untuk menolah ke arah lain. Disana, kedua temannya yang ia cari sedang melambai padanya. Ada isyarat yang mereka berikan dan Lisa, lagi-lagi merasa buncahan adrenalin menguasai tubuhnya.
Dia akan menghitung sampai angka tujuh dimana target posisinya berada sebelum dia akan berlari ke tempat itu. Lisa menutup matanya, mencoba untuk menetralkan napasnya dan bersiap.
”Terimakasih, ya, Sayang. Papa senang kamu nggak keras kepala kayak kemarin lagi. Seharusnya seperti ini dari kemarin, kan? Papa doakan yang terbaik untuk kalian berdua, ya, sayang..”
Lisa baru menghitung dua langkah ketika Ayahnya berbicara seperti itu. Nada yang lembut dan sayang seperti bagaimana lelaki itu selalu pakaikan padanya saat mereka berbicara. Dari beberapa bulan terakhir, Lisa hampir lupa nada yang ini. Tetapi mendengarnya sekarang, Lisa merasa Ayahnya lega untuk sesuatu yang lain. Dan tentu saja, Lisa tahu apa itu.
Pria tua itu sangat menjengkelkan. Lihat saja apa yang akan dia lakukan sebentar lagi. Dia akan berdoa yang terbaik agar ayahnya tidak akan mendapatkan serangan jantung seketika.
”Papa jangan makasih ke aku. Soalnya aku disini bukan buat nikah sama Kak Noren, kok” Lisa berucap dengan santai. Sekarang dia sudah berada di hitungan ke empat. Sebentar lagi dia akan melarikan diri.
”Maksudnya?”
Lisa membalas dengan senyuman sumringah.
Lima.
Dia memulai hitungannya saat langkahnya maju satu kali lagi.
Enam.
Jantungnya berdebar ketika dia mencuri lirik pada tujuan pelariannya. Angin menghembus dengan kencang, membuat dirinya semakin was-was dalam buncahan energi yang siap sedia.
Nalisa menghela napas keras. Lidahnya keluar untuk membasahi bibirnya yang kering. Ada rasa peach ketika dia merusak lipstiknya, tetapi dirinya tidak peduli. Perempuan itu sudah siap untuk menendang heels-nya. Jantungnya semakin berdebar tak karuan untuk kesenangan yang menanti di depan mata.
Tujuh.
”PAPA NALISA NGGAK MAU NIKAH!!!!”
Bersamaan dengan teriakkannya, Nalisa melempar buketnya ke arah Ayahnya dengan keras sembari melarikan diri. Tangannya sudah penuh dengan gaunnya yang dia angkat agar tidak menghalangi langkahnya. Heels kacanya yang dilapisi dengan berlian murni dia tendang agar terlepas dari kakinya. Telinga Lisa penuh dengan suara angin. Dia tidak peduli dengan bagaimana teriakan para tamu yang terkejut akan aksi gilanya.
”LISA!”
Suara Ayah dan Ibunya paling mendominasi, tetapi dia sudah memanjat pagar pembatas dengan seluruh kecepatan yang ia punya. Sekarang, Nalisa, dengan seringaian murni kekejamannya, berdiri di tiang pagar terakhir.
Sebenarnya, Nalisa hanya perlu terjun dan mengikuti angin membawanya, tetapi dia memiliki terlalu banyak kebahagiaan dengan banyak pasang mata yang menatapnya dalam tatapan horor dan ketakutan. Melirik ke arah Noren, lelaki itu seperti terenggut nyawanya dari seberapa pucat warna kulitnya.
Nalisa tertawa dengan sangat puas. Dia tidak peduli bahwa dirinya terlihat seperti pasien yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.
”PAPA, MAMA! Lisa nggak mau nikah sama dia!” Tangannya menunjuk ke arah Noren yang masih belum bisa berkata sepatah katapun.
”BATALIN PERNIKAHAN INI ATAU LISA TERJUN DARI SINI SEKARANG!!” Sekarang, dia berteriak dengan keras. Dilakukan agar permintaannya didengar dengan sangat jelas dan tepat.
”Lisa! Jangan main-main kamu! Turun sekarang!” Suara Ayahnya menggelegar, Lisa memeletkan lidahnya dengan konyol.
”Nggak! Lisa nggak bakalan turun sampai Papa dan Mama setuju untuk batalin pernikahan ini. Dari awal Lisa nggak pernah mau nikah sama Kak Noren! INI PEMAKSAAN DAN AKU NGGAK MAIN MAIN DENGAN UCAPAN AKU! BATALIN PERNIKAHAN ATAU AKU LOMPAT DARI SINI!!!”
”Sayang. Lisa.. Jangan.. jangan aneh-aneh. Turun, sayang.. kamu nggak kasihan sama Mama? Turun sekarang Nak..”
Ibunya datang dengan tergopoh-gopoh. Menangis dengan ketakutan di wajahnya yang berantakkan dalam keterkejutan dan ketidakpercayaan.
”Batalin pernikahan ini atau aku lompat” Lisa dengan ketangguhan hati, tidak peduli bagaimana hancurnya ibunya sekarang.
”Kamu jangan buat malu Papa, ya! NALISA TURUN!” Papanya membentak.
Jujur, sebenarnya itu membuat jantungnya berdenyut.
”NGGAK MAU! BATALIN DAN AKU BAKALAN DENGERIN APA KATA KALIAN. SEKARANG BUAT SUMPAH DI DEPAN AKU! BATALIN SEMUANYA DAN KALIAN HARUS JANJI NGGAK AKAN PERNAH MAKSA AKU BUAT NIKAHIN SIAPAPUN KARENA BISNIS. SEKARANG!!”
Dengan kekeras kepalaannya, dia masih memberontak.
”Nalisa!” memutar matanya, kali ini Sinar berlari tergopoh-gopoh menuju tempatnya. Dibelakangnya, Hala mengikuti dengan ketakutan yang sama. Bahkan, wajahnya sudah bersimbah air mata.
Lisa tidak peduli. Dia tidak terhentikan sekarang.
”Nalisa... gue-,”
”JANGAN MENDEKAT!” dia berteriak lagi ketika Sinar dan Hala masuk ke dalam jarak terdekatnya.
”Please Nalisa-,”
”DIEM!”
Matanya memancarkan amarah. Angin berhembus lebih kencang kali ini seolah-olah mendengar keresahan hatinya. Lisa tidak takut akan jatuh karena Alpino ada dibawah untuk menangkapnya. Mungkin hanya kiasan karena tidak mungkin lelaki itu menangkapnya jatuh dari ketinggian ini. Tetapi, sahabatnya itu akan ada untuknya dan akan menjadi tangan pertama yang akan menyelamatkan nyawanya.
”KAK NOREN!” Dia berteriak. Matanya menangkap milik Noren yang gelap meski dari kejauhan. Lelaki itu pasti terkejut dan otaknya tidak mampu mengikuti keadaan yang membuatnya terdiam di tempat.
”Udah gue bilang, tantangan lo bukan apa-apa bagi gue. Kegilaan lo nggak setara sama gue. GUE BAKALAN LEBIH GILA DARI LO KAK NOREN! SEKARANG BATALIN PERNIKAHAN! BILANG SAMA SEMUA ORANG KALAU LO BERSUMPAH LO NGGAK BAKALAN BERANI DEKETIN GUE LAGI! BILANG!!!!”
Apapun harapannya, Noren masih tidak bisa berkutik. Lisa berdecih, dia menjadi lebih dari tidak sabar.
”Nalisa, cukup. Turun sekarang.” Suara berat ayahnya terdengar memuakkan.
”Dek turun, ya? Dek, lo masih sayang sama gue, kan? Dek, tolong gue takut banget, dek..”
Sinar memohon. Permohonan yang tidak bisa Lisa kabulkan.
”Diam atau gue bakalan lompat sekarang?”
Dengan nada final, Lisa menunggu permintaannya dilakukan.
”Turun. Gertakan kecil kamu nggak berarti apa-apa buat Papa. Sekarang, dengerin kata Papa. TURUN NALISA!”
”BRENGSEK!” Lisa berteriak.
Dia benci. Benci dengan nada memuakkan Ayahnya.
”Oh. Gertakkan kecil, ya? Oke”
Suaranya kecil. Tetapi penuh makna.
”Nalisa.. Nalisa.. tolong sayang... turun.. tolong...” Ibunya menangis sesegukan. Jantung Lisa membatu, tidak bisa digoyahkan.
”Oke. Turun, kan?” Seringainya kembali lagi dengan percaya diri.
Kali ini, dia sangat siap untuk melakukannya.
”GUE TURUN! SEMOGA LO SEMUA BAHAGIA DI NERAKA!”
Dan dengan itu, si bungsu dari keluarga Cakrawijaya menghentakkan kakinya untuk terjun bebas dari lantai tertinggi gedung pernikahannya dan Noren. Meninggalkan wajah-wajah shock dari semua tamu undangan dan jeritan tidak percaya oleh orang-orang terdekatnya.
”NALISA!!!!”
Angin berhembus dengan sangat cepat. Nalisa merasa dia sangat gila dengan adrenalin yang luar biasa. Napasnya terasa sesak. Tapi dia percaya bahwa dia akan jatuh di tempat yang tepat. Fajri dan Jihan telah melakukan yang terbaik untuk menentukan titik jatuhnya dan telah menempatkan air cushion besar yang mampu menahan kecepatan laju jatuhnya agar tidak membuat seluruh organ tubuhnya berhamburan.
Dia tidak bisa melihat itu, tetapi dia percaya bahwa dia selamat.
Suara teriakkan Noren yang ketakutan menghunus telinganya dan berdebar-debar di jantungnya. Nalisa menutup matanya erat, membiarkan gravitasi bumi menariknya dengan kekuatan yang menakutkan.
Tetapi tentunya, rencana tidak selalu berjalan dengan mulus, bukan?
Saat ini yang terpenting adalah membatalkan pernikahan meski dengan nyawanya sendiri.
Ini akan berhasil.
’Kan?
......🍁......
...[NALISA]...
...[ALPINO]...
...[HALA]...
...[SINAR]...
...[JIHAN]...
...[FAJRI]...
...[HEKSA]...