
“Gue mau nuker koin dulu. Lo jangan gangguin gue. Duduk aja disitu”
“Oke”
Berlawanan dari apa yang Lisa kira, Noren menurutinya tanpa banyak gangguan. Mereka baru saja sampai di salah satu pelataran ruko yang memang di sewa untuk beberapa arena permainan capit boneka atau bahkan permainan anak-anak lain yang tidak begitu permanen dan bisa diangkut keesokan harinya untuk kepentingan penjualan yang pemilik ruko tersebut gunakan.
Sejujurnya, itu adalah salah satu tempat yang terkadang Lisa kunjungi bersama dengan Alpino dan atau bahkan dengan Hala. Ketika dia memperhatikan Noren yang duduk di kursi yang tersedia, Lisa berpikir kembali bahwa dia bahkan belum pernah berada disini bersama dengan kakaknya sendiri.
Memilih untuk mengangkat bahu dan mengabaikan kebingungannya yang seharusnya tidak dia lakukan karena prediksi yang salah tentang Noren, dia berjalan ke mesin tukar koin. Mengeluarkan uang dua puluh ribuan untuk menukarnya dengan koin berwarna perak sejumlah yang sama dia tukarkan pada mesin itu. Senang dengan bunyi koin yang berjatuhan, senyuman di wajah Lisa mengembang ketika dia memungut hasil dari penukarannya.
Itu adalah salah satu mesin capit yang berisi snack cokelat yang menggugah selera yang dia tuju kali ini. Dalam pembelaannya, dia hanya akan memakai uangnya untuk mengambil beberapa kesempatan untuk makan cokelat dan mungkin dalam perjalanan pulang akan benar-benar mendapatkan sate cumi sebagai penutup. Lisa mungkin akan memberikan kakaknya satu jika saja dia tidak ingat bahwa dia sedang marah pada lelaki menyebalkan itu yang saling berkomplot.
Lisa melirik ke arah Noren lagi ketika dia menghampiri stan yang mereka akan gunakan. Berharap bahwa dia bisa menutup telinganya dari apapun yang akan Noren ucapkan untuk benar-benar mengganggunya lagi. Tapi lelaki itu hanya duduk dengan taat, anehnya dia hanya menikmati bagaimana Lisa memasukkan koin ke mesin dan sibuk dengan tahu bulat yang Lisa titipkan padanya. Noren mengambil jajanannya dan Lisa hanya bersyukur bahwa dia membeli banyak dan tidak tahu bahwa itu berguna untuk menutup mulut Noren dalam waktu yang mungkin sebentar. Tetapi dia bisa terlepas dengan hal itu.
Mesin yang sudah dihidupkan memainkan musik yang bersemangat dan juga pemandu robot dengan suara lucu. Capitan yang lumayan besar bergerak dengan ayunan yang sama saat dia menarik tuas mesin. Ini adalah hal yang sangat dia sukai dan dia mengincar beberapa pocky cokelat dan juga cokelat batangan yang di bundle dengan beberapa permen jelly yang menggugah selera. Lisa berharap dia bisa mendapatkannya dengan hanya dua puluh koin yang dia gunakan.
“Kamu ngincer jajanan apa, emang?” Noren tiba-tiba bertanya. Lisa melirik lelaki itu dari sudut matanya yang ternyata masih mengunyah tahu bulat lain yang dia ambil dari plastik di tangannya. Ada dengusan kecil yang Lisa berikan sebelum dia fokus pada permainannya kembali.
“Apa aja yang penting gue dapet” Tidak ingin meributkan banyak hal dan lebih memilih untuk ketenangan jiwa dan raga, dia menjawab dengan cepat. Kali ini, dia kembali fokus dan memilih target yang sudah ada di kepalanya.
“Oh, oke. Semangat, Dek”
Suara Noren terdengar serius dan bersemangat. Lisa tidak menjawab, dia hanya menggerakkan tuas dan pergi dengan itu. Biasanya, jika dia sudah memiliki fokus yang tinggi, dia tidak sadar bahwa dia sedang di ganggu dan dia yakin akan mengatakan apapun yang tidak terlintas di kepalanya dan mulutnya akan bergerak tanpa filter yang nyata. Alpino memberitahunya dalam beberapa waktu kebelakang, namun dia bahkan tidak menyadarinya sama sekali.
Tentu saja, dia mengingat hal itu karena dia ditemani dengan Noren kali ini. Dia bahkan yakin lelaki itu akan mengatakan sesuatu dan bertanya padanya cepat atau lambat. Tetapi dia harus mengatakan bahwa dia tidak peduli. Kali ini saja, mungkin, jika Noren membuka suaranya dalam sebuah pertanyaan, dia tidak akan terlalu sadar.
Lisa menunggu Noren berbicara lebih banyak lagi sebelum dia benar-benar berusaha untuk fokus pada kegiatannya sebelum menekan tombol untuk menurunkan capitan. Namun dalam waktu yang terasa seperti sangat lama, lelaki itu bahkan tidak mengeluarkan pertanyaan apapun. Dia hanya terus mengunyah jajanan yang sekarang sudah mengambil telur gulung lain dari barang titipan Lisa.
Oke, apapun itu, dia tidak peduli lagi.
Jadi, Lisa pada akhirnya masuk ke mode fokus yang benar-benar fokus dari yang sering kali dia lakukan. Dengan ini, pikirannya tertutup hanya dalam fokus satu tujuan dan dia bersenang-senang.
“Oh! Kamu rupanya hebat juga, ya, mainnya”
Ada seruan terkejut dari Noren ketika dia berhasil mengambil satu pocky yang dia incar. Dia tersenyum senang dan bangga ketika dia menggambil makanan itu untuk ditunjukkannya pada Noren yang hanya membalasnya dengan seringaian bangga.
“Dalam satu kali coba!” Lisa berseru dengan senang. Meletakkan makanan ringan itu di pangkuan Noren yang sedikit terkejut untuk apa yang Lisa lakukan. “Udah lama gue main ini disini dan gue dengan bangga bilang bahwa gue pro!” Dia tertawa begitu puas. Meletakkan telunjuknya pada makanan yang dia titipkan sebelum memerintah hal lain pada Noren. “Gue titip! Awas Kak Noren, Lo nggak boleh makan!”
Mata Noren membesar dengan tiba-tiba dalam ekspresi yang bisa dia berikan. Ada kesenangan yang berbeda ketika dia tertawa setelah mendengar perintah yang Lisa berikan. Dia mengangguk dengan semangat dan mengangkat kedua jempolnya untuk mengatakan bahwa dia akan menjaga camilan itu dengan sangat baik.
Lisa mengangguk percaya tanpa sadar dan langsung kembali untuk bermain lagi atas dasar kesenangannya.
Noren tidak mengganggunya sama sekali dalam beberapa kali percobaan yang gagal. Dia tidak mengeluh atau mengejeknya. Dia hanya mengeluarkan suara-suara aneh untuk mendukung permainan Lisa. Disuatu titik ketika Lisa hanya mampu mengambil lima hadiah dan hanya meninggalkan satu koin, perempuan itu terlihat cemberut dan Noren, dengan tanpa Lisa sadari menyodorkan beberapa koin lagi ditangannya.
Ada tatapan dengan satu alis terangkat yang Lisa berikan pada Noren yang terlihat sangat bersemangat. Tapi lelaki itu hanya mengangkat bahunya sebelum menunjuk pada marsmallow strawberry yang dekat dengan tempat capitannya berada sebelum menepuk bahunya tiga kali.
“Aku mau yang itu. Coba, deh, kamu bisa nggak ngambilnya?”
Oh.
Lisa, dengan ambisi dan semangatnya yang sedang membara dan membakar energinya dalam puncak yang begitu tinggi, merasa tertantang. Jadi, dia hanya menggenggam koin baru yang bahkan tidak cukup ditangannya dan kembali membalas tepukan di bahu Noren yang dipaksa untuk merunduk sebelum dia memberikan jempol terakhir sebagai tanda untuk mempercayai apa yang bisa dia lakukan dalam tantangan yang pasti dia akan menangkan kepada Noren.
“Bisa dong! Jangan remehin gue, ya, Kak!”
Suaranya tanpa sadar penuh dengan tawa dan rasa senang. Tidak ada jeratan kekesalan yang nyata datang padanya bahkan setelah Noren memaksa untuk bergabung dengannya malam itu. Nalisa sedang dalam mode bersenang-senang dan bersemangat, tidak ada yang bisa menghancurkan moodnya kali ini. Bahkan dalam hal tergilanya, Noren sendiri tidak akan bisa.
Mereka melakukan hal yang sama dalam 20 menit terakhir. Noren akan degan senang hati mengisi ulang tangan Lisa dengan koin baru dan dia akan menunjuk satu makanan yang matanya lihat dengan asal dan Lisa akan dengan bersemangat mengatakan bahwa dia akan mendapatkannya Setelah Lisa berhasil dalam percobaan untuk satu camilan itu, mereka akan bersorak dan melakukan high-five tanpa benar-benar disadari.
Noren, yang benar-benar tengah dalam perasaan campur aduk yang tidak menyenangkan sebelum dia menginjakan kakinya di tempat itu dan bertemu Lisa, merasa persoalan masalah yang tengah dia hadapi tiba-tiba tidak berarti apapun. Ada kesenangan yang nyata ketika dia ada disini bahkan tanpa dia sadar dia akan menghabiskan malam bersama dengan Lisa.
Benar, Noren jujur mengatakan bahwa ini tidak ada dalam rencananya. Ini adalah campur tangan semesta untuk mempertemukannya dengan Lisa. Dia sebelumnya hanya berharap dia bisa menghilangkan kegelisahannya dengan hanya berjalan tanpa arah dan mencicipi semua jajanan pasar yang tersaji meskipun dia hanya akan membuang-buang mereka saja karena perutnya tidak begitu suka diisi banyak makanan pada malam hari.
Rupanya, garis takdir dan dewi fortune ada di pihaknya dalam suatu kesemapatan lain tanpa dia benar-benar berusaha.
Jadi sekarang, dengan tangan yang penuh dengan camilan yang dimenangkan Lisa dari mesin capit, dia duduk dengan nyaman dan tenang di kursi yang tersedia. Memperhatikan calon pasangan hidupnya dengan sayang dan senang hati. Ada perasaan bahagia dan hangat yang bersemayam dalam hatinya saat melihat wajah puas Lisa yang bahagia. Dia merasa banyak keajaiban datang di waktu yang sangat tepat tanpa dia sadari.
Bahkan malam inipun, Lisa menambahkan perasaannya yang membuncah dengan bagaimana perempuan itu tenggelam dalam hoodie pemberiannya. Diam-diam dia juga merasa penasaran apa yang dilakukan perempuan itu dengan boneka beruang yang dia pilih dan pesankan khusus hanya untuknya.
Lisa memenangkan satu snack dengan perasa jeruk lagi dengan seruan bahagia sebelum dia menyerahkannya pada Noren dengan senyuman lebar yang menampakkan giginya yang lucu. Noren menerimanya dengan sangat suka.
Lalu, untuk beberapa waktu dia hanya diam dan mengagumi apapun yang Lisa kerjakan, ada hal yang terlintas dalam kepalanya secepat kilat. Dia hanya berkedip sebelum dia mulai membuka suaranya untuk sedikitnya berharap Lisa menjawabnya meskipun hanya asal-asalan saja. Itu tidak masalah.
“Mau main 20 pertanyaan?”
“Hah?”
Noren tertawa tanpa sadar ketika Lisa meresponsnya dengan sangat cepat. Matanya bahkan tidak melihat ke arahnya, tetapi masih mencoba untuk permainan yang kesekian kalinya dengan titik fokus yang sama.
“20 pertanyaan dasar. Mau?”
Noren tidak berharap itu untuk diambil Lisa dengan serius. Dia hanya sedang mencoba peruntungannya yang lain.
“Gimana?” Jawaban tanpa fokus yang sama untuk Noren. Itu sepenuhnya ada pada mesin capit yang kali ini dia gagal untuk dapatkan.
“Hm.. kayak, selama aku gaada, kamu ngapain aja?”
“Seru-seruan, dong”
Noren hanya ingin menggoda, tetapi dia terkejut ketika Lisa benar-benar menjawab pertanyaanya. Dia tertawa, tidak tahu apakah Lisa bersungguh-sugguh atau dia hanya mencoba sarkas seperti biasanya.
“Eh, serius?” Dia bertanya lagi, dimana seharusnya dalam permainan ini adalah giliran Lisa untuk bertanya. Tapi perempuan itu bahkan sama sekali tidak masuk dalam fokus pertanyaannya. Jadi, Noren mengambil apa yang bisa dia ambil.
“Iya, Serius. Gue bahkan ngerasa lega karena Lo nggak ada. Jadi, gue bisa tenang dan nggak emosi cuma dengan liat wajah lo doang”
Noren menggeleng, sadar diri.
“Yaudah. Kalau gitu berarti aku bakalan selalu sempatin buat ketemu kamu biar kamu nggak emosi terus lihat wajah aku”
“Dih. Kebalik nggak, sih?” Lisa tiba-tiba memuntahkan kata dalam pertanyaan. Noren tidak bisa untuk tidak bersenang-senang dengan ini.
“Oh, itu pertanyaan pertama kamu. Bagus, jadi kita beneran main 20 pertanyaan sekarang” Ini hanya dibalas dengan gumaman aneh sebagai respon ketika Lisa mengerang karena gagal untuk mengambil snack lainnya lagi dengan mesin capit itu.
“Nalisa, gunung atau laut”
Noren bukan ahli dalam hal-hal sosialisasi jika tidak menyangkut bisnis, Jadi, dia akan bertanya apapun yang muncul dalam kepalanya dalam waktu cepat.
“Laut”
Menyeringai, Noren mulai menyukai hal-hal ini.
“Susu atau kopi?”
“Dua-duanya kalau lagi pengen”
Lucu. Noren berseru dalam hati.
“Warna kesukaan?”
“Biru. Kadang kuning. Kadang juga hitam. Tergantung mood. Tapi warna biru paling suka”
Astaga. Noren bahkan tidak tahu bahwa itu akan datang dengan sangat mudah dari Lisa.
“Makanan kesukaan selain Korean food?”
“Aduh, ini tuh kayak anak-anak lagi ngisi biodata di binder, deh” dia mengomel dalam keterkejutan Noren sebelum melanjutkan. “Tapi gue suka masakan rumahan. Apapun itu. Kadang suka sama nasi kepal buatan kak Sinar. Suka juga sama tumis ayam pedas. Terus suka banget sama capcay goreng jamur dan bola-bola tahu daging"
Oh, menu makanan yang pernah Hala beritahukan padanya waktu itu. Sudah dalam waktu yang lumayan lama.
"Tapi terserah, sih, makanan apa aja tetep enak kalau di gue" Tambahnya.
“Kalau jalan-jalan? Suka kemana atau ngapain aja?” jujur, pertanyaan ini sangat berguna untuk referensi miliknya kedepan.
“Kemana aja asal bikin lega. Biasanya lebih suka tempat yang tenang dan cantik. Bisa juga tempat yang banyak makanannya. Terus biasanya juga kalau nggak keluar paling DIY barang sambil nonton youtube. Marathon movie. Banyak sih, kadang tidur juga lebih enak. Atau jalan-jalan bareng anak-anak”
Tentu saja, anak-anak disini adalah kelompok teman kecilnya yang Noren pernah ganggu acara mereka pada waktu itu, pertamakali pengenalan dirinya.
“Lisa.. suka pasangan hidup yang gimana?”
Dia menarik napasnya sejenak sebelum secara penuh menatap ke arah Lisa. Perempuan itu menyerah untuk capitan terakhir yang tidak menghasilkan apa-apa sebelum berbalik ke arahnya dalam satu gerakan penuh. Lisa terdiam sejenak memperhatikan Noren dalam fokus yang sudah terbelah dengan tiba-tiba. Dia mengerjap untuk mengembalikan dirinya dari kegilaannya dalam bermain game yang menguasai dirinya sendiri.
Bukannya menjawab, perempuan itu malah terlihat seperti baru keluar dari goa dengan tidak sadar apapun yang mereka bicarakan sebelumnya.
“Ah, tiba-tiba udah nggak seru lagi mainannya” dia berseru dengan agak lelah.
Dia meregangkan otot tubuhnya yang dirasa membuatnya pegal sebelum mengalihkan pandangannya pada Noren secara penuh dan kemudian terkejut ketika dia melihat tumpukan camilan yang begitu banyak ada di pelukan Noren dan beberapa lagi di letakkan di kursi sebelahnya.
“Loh? Serius udah sebanyak itu?” Lisa yang terkejut, segera menghampiri Noren dengan tiba-tiba. Lelaki yang diperintah untuk hanya menjaga hasil tangkapan Lisa itu menelan sedikit rasa kecewa aneh karena Lisa tidak menjawab dan bahkan tidak sadar bahwa dia menanyakan sesuatu.
Yah, itu bisa ditanyakan pada lain kesempatan. Dia baru saja menyodorkan mungkin delapan atau sembilan pertanyaan dan pertanyaan terakhir tidak memiliki jawaban. Jadi, masih jauh untuk mencapai 20 pertanyaan. Dia masih memiliki waktu yang sangat panjang.
“Wah, keren juga gue” Lisa tertawa ketika dia mengambil satu buah permen cokelat dan memakannya dengan senang hati.. Noren masih memperhatikan dengan sayang.
“EH?! Ini gue habis berapa ribu, anjir? AHHHH Gue bangkrut!!!”
Noren, yang baru saja memasukkan camilan itu kedalam plastik kecil yang dia punya, berharap bisa menampung setengah dari apa yang Lisa dapatkan, hanya terkejut. Dia berhasil menangkap Lisa yang saat ini tengah menatap horror semua makanan yang ada dengan kedua tangan yang sudah menjambak sisi kepalanya
Noren tidak akan pernah bosan untuk mengatakan bahwa Nalisa sangat menggemaskan. Tentu saja, saat ini dia terlihat mampu untuk hanya membuat Noren meleleh detik itu juga.
“Manalagi ini koin tinggal 3” Dia merengut. Memperlihatkan 3 koin di tangannya. “Aduh, gimana nih. Boros banget gue”
Dia mengalami krisis dan Noren dengan senang hati untuk mengatakan bahwa Lisa hanya menggunakan dua puluh ribu pertamanya sebelum keseluruhan adalah uang yang Noren keluarkan. Tapi dia tidak akan mengatakannya. Dia akan menyimpannya dan membiarkan Lisa dalam ketidak tahuan. Jika saja dia mengatakan itu semua, dia yakin dia akan pulang dengan tangan penuh snack cokelat yang tidak akan dia habiskan. Sayangnya.
“Yaudah, habisin aja kalau gitu. Sayang, tinggal 3”
Noren menawarkan. Lisa menatapnya dengan masih cemberut yang sama. Kekalahan karena dia yakin dia menghabiskan banyak uang dan tidak bisa membeli sate cumi yang dia idam-idamkan.
“Ih. Gue kesel, gara-gara ini nanti gue nggak bisa beli sate cumi. Mana gue cuma bawa uang seadanya lagi” Dia mendengus. Meratap pada 3 koin yang tertawa padanya.
“Kalau kamu mau sate cumi, nanti aku beliin. Udah, main aja lagi, habisin” Noren menawarkan.
Lisa terlihat sangat berkonflik. Dia seharusnya menolak tawaran yang Noren berikan, tetapi dia sangat menginginkan sate cumi hari ini.
Jadi, dengan bibir yang mengatup persetujuan. Dia hanya mengatakan;
“Oke kalau maksa”
Untuk kegemasannya, Noren menahan diri dari apapun yang akan dia lakukan hanya untuk mencubit pipi Lisa yang menggemaskan detik itu juga.
“Yaudah, gue main lagi. Tapi jangan yang ini” Dia mengomel sendiri. Matanya berpendar mencari mainan lain yang cocok dengan harga koinnya. Ketika dia menemukan mesin capit berisi gantungan kunci dengan banyak boneka lucu, dia segera bergegas untuk datang ke sana.
“Karena lo maksa mau beliin gue sate cumi, ini kalau bonekanya dapat, buat lo, Kak”
Eh?
Noren hampir kehilangan keseimbangan saat dia membuntuti Lisa dengan banyak makanan di tangannya. Dia harus mengingatkan dirinya untuk meminta plastik besar di stan manapun yang terdekat yang bisa dia jangkau nanti.
“Oke” Noren tidak mengeluh banyak, dia juga menahan diri untuk menjadi gila karena perasaan yang membuncah.
Kalau Lisa berhasil mendapatkan sesuatu yang dipersembahkan untuknya, itu akan menjadi hadiah pertama yang Lisa berikan padanya.
Oh, hadiah yang Lisa dapatkan dengan usaha dan fokus perempuan itu.
Kupu-kupu di perutnya mulai menggila lagi.
“Oke, lihat ya!”
Dan dengan semangat itu, Noren tidak sadar bahwa dia ikut merasa berdebar dan was-was. Perhatian penuh ia berikan pada permainan Lisa.
Ada harap-harap cemas ketika satu koin yang digunakan gagal untuk mendapatkan boneka. Namun, Noren tidak bisa untuk tidak menjadi gugup pada kesempatan kedua.
Dia mungkin terlalu berharap ketika kesempatan kedua itu hilang dan pupus begitu saja. Seharusnya dia tidak merasa kecewa dengan hasil yang buruk.
Noren berbalik ketika Lisa memasukkan koun terakhir. Daripada fokus pada harapannya dan telinga yang berdengung, dia memilih untuk memeriksa keadaan sekitar yang mulai lebih sepi dari pertamakali mereka bertemu.
Jantungnya berdebar ketika dia masih merasakan pergerakkan Lisa di belakangnya. Dan jika saja dia tahu bahwa Lisa bahkan tidak melakukan sorakan atas koin ketiga, pasti tidak ada hadiah yang ditawarkan untuknya malam ini.
Ah, sudahlah. Tidak masalah.
Namun, ketika dia baru saja berbalik untuk menenangkan perempuan yang mungkin merasa kesal karena kegagalan, matanya menangkap sebuah wajah binatang dengan badan yang mungil melebihi kepalanya tepat di depan mata.
Butuh untuknya berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan binatang apa yang bergoyang di depan wajahnya. Ketika dia melakukannya, itu adalah sebuah boneka rubah yang berwarna merah dengan ekor gendut yang sangat lucu.
“Taraa!!”
Suara Lisa yang berseru bangga masuk ke dalam telinganya dengan cepat. Noren memperhatikan, wajah yang sangat dia sukai itu, menawarkannya seyum bangga dan lebar dengan begitu indah.
“Gue berhasil, kan?”
Suara Lisa terdengar lucu seperti anak-anak ditelinganya. Wajahnya memanas seiring dengan kupu-kupuu yang gila berterbangan di perutnya yang diisi matahari yang bersinar dengan sangat terang, hampir terasa seperti dia akan meledak.
“Boneka rubah. Sama kayak lo, kan?”
“Huh?”
“Sama-sama licik!”
Dia tertawa dengan maksud yang sangat jelas. Nren menggeleng takjub dan melontarkan tawa. Tidak merasa tersinggung sama sekali.
“Buat lo” Lisa meletakkan boneka kecil itu ditangan Noren yang penuh dengan hati-hati sebelum dia melompat dengan riang dan menarik ujung hoodie Noren untuk segera meninggalkan tempat dan memenuhi janji yang telah Noren tawarkan padanya sebelumnya.
“Sekarang, kita harus nyapa sate cumi gue. Ayo, kak Noren!”
Oh.
Noren rasanya sudah gila di dalam.
.........
...🍁...
...Mesin Capit dan 20 Pertanyaan Part.2 - End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Amanda, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA AMANDAFERINA06...
...JUDUL: NONA MUDA DIHAMILI PELAYAN...
Genta Arakahn. Pria yang akrab dipanggil Genta itu baru saja menginjak usia ke 29 tahun. Ia bekerja sebagai pelayan dan tukang kebun di sebuah rumah mewah milik orang terkaya di New York. Ia merupakan pria baik, polos, jujur, dan lugu untuk ukuran pria. Suatu hari ia tak sengaja melakukan kesalahan besar terhadap nona mudanya yakni Alice Nekhade Arakhe wanita yang baru saja berulang tahun ke 17 tahun dan mengalami kelumpuhan dan bisu akibat kecelakaan. Alice merupakan wanita periang dan tingkahnya kekanakan, cukup polos, namun ia tak secengeng cewek polos lainnya. "Senyuman yang indah bak bunga mekar itu harus layu karena diri ku. Maafkan aku nona telah lancang menodai mu, dan maafkan juga aku telah jatuh hati padamu." ___Genta___
Selamat membaca🥰