
“Oh? Udah sampai?”
Hala, dengan kucingnya yang berada di pelukannya, berdiri dengan senyuman lebar tepat di depan pintu rumah kediaman Nalisa. Perempuan itu melambai dengan sumringah. Tidak hanya jemari miliknya sendiri, Hala ikut dengan gemas melambaikan kaki kucing yang kini sudah mengeong risih dan mencari tangannya untuk digigit karena emosi kepada sang pemilik yang suka sekali untuk mempermainkan kakinya dalam berbagai macam cara.
Lisa yang melihat ketika kucing hitam itu melompat turun dari pelukan sahabatnya dan memilih untuk berlari masuk ke dalam rumahnya dengan kecepatan yang tidak bisa diraih oleh refleks siapapun di antara mereka, menggeleng dengan maklum. Sudah terlalu terbiasa dengan kebiasaan yang dikembangkan perempuan itu jika berurusan dengan kucing dan acara menginap malam di rumahnya.
Hala, dengan rasa protektif luar biasa tentang anabul-nya, tidak akan meninggalkan kucing jantan itu hanya mendekam di rumah sang perempuan tanpa ikut dalam pesta pembicaraan malam yang seringkali mereka berdua lakukan jika merasa ingin dan memiliki waktu santai berdua. Nyatanya, malam ini adalah malam itu, dimana dia hanya mendapatkan cengiran dan kucing di dalam rumahnya.
Bukannya Lisa mengeluh. Dia tentu saja juga menyukai kucing karena keimutan dan kelembutan bulu mereka dan juga tingkah mereka yang pasti akan membuatnya meleleh karena rasa gemas. Namun, seringkali Pipang hanya membuatnya sebal tatkala sang kucing jantan itu menggigit semua hal empuk yang ada di rumahnya dan tidak akan memberikannya perhatian yang Lisa sukai dari hewan peliharaan berbulu itu.
Rasanya tidak adil, ketika manusia favorit sang kucing hanyalah pemiliknya dan Heksa saja. Untuk selebihnya, kucing itu sama sekali tidak ramah pada siapapun yang berusaha untuk menyentuhnya. Lisa ‘kan juga ingin merasakan bagaimana kucing itu bermanja padanya.
Sampai saat ini pun, hubungan yang dimiliki Lisa dan Pipang adalah, love-hate relation-cat-ship. Itu yang dia sebut ketika berada dalam konteks saling mencakar dengan kucing jantan kepemilikan sahabatnya itu.
“Kalau belum sampai gue nggak bakalan ada di depan lo, Lis”
Hala mencibir konyol sebelum melangkah untuk masuk ketika Lisa membuka pintunya dengan lebih lebar lagi, mempersilahkan orang lain untuk kembali menjajah rumahnya yang sudah tidak asing lagi dengan sang tamu.
“Gue beres-beres sedikit tadi sekalian jemput pipang buat nginap di rumah lo”
Lisa mengikuti pergerakan Hala dengan kedua matanya ketika perempuan itu dengan santai melenggang menaiki anak tangga menuju kamar Lisa di lantai atas. Wajahnya bersinar senang ketika anak kucingnya mengikutinya secara bersemangat di belakangnya dengan suara mengeong yang tidak berhenti ketika matanya mendarat pada sang pemilik.
Lisa menyipit saat menemukan kucing gembul itu dengan riang menggigit sebuah boneka pinguin pajangan yang Lisa letakkan di meja kecil dekat sofa ruang santai yang dia gunakan untuk menonton atau melakukan marathon film. Entah kapan kucing itu sudah melesat ke ruangan santai, yang pasti saat ini, salah satu boneka mini favoritnya sudah berada dalam kunyahan gigi sang kucing.
Lisa menggeleng, agak gemas sebenarnya. Dia pastikan nanti akan berhasil untuk menguyel kucing itu di antara kedua tangannya dan tidak akan membiarkan kucing hitam itu lepas dari cengkeramannya hingga dia puas. Memikirkan hal itu, Lisa cekikikan dengan geli sebelum mengunci pintunya dan mengikuti Hala yang pasti sudah lebih dulu menguasai kamar pribadinya.
Tadi sore, ketika mereka sudah menyelesaikan pekerjaan untuk hari itu, Hala tanpa terduga mengundang dirinya sendiri untuk menginap di rumah Lisa. Entah untuk dasar apa perempuan itu tiba-tiba mengajak dirinya sendiri untuk datang. Padahal biasanya, Lisa yang lebih dulu untuk meminta Hala datang dan menemaninya untuk hanya melakukan percakapan tengah malam atau berbagi waktu bersama untuk menikmati beberapa film yang sama-sama mereka sedang nikmati.
Di antara semua pertanyaan mengapa perempuan itu tidak hanya datang dan menginap melainkan harus meminta izin dan mengekspos dirinya sendiri, Lisa mengingat bahwa kakaknya pada hari itu akan pulang ke rumahnya. Mungkin, Hala memiliki percakapan dengan Sinar sehingga lebih baik memutuskan untuk menginap dan langsung bertemu keesokan paginya. Atau mungkin sesuatu hal yang lain ketika Lisa mengingat bahwa Hala tidak akan terlalu bersemangat melihat kakaknya sepagi itu dan pasti memilih waktu lain untuk bertemu agar tidak terlalu merepotkan.
Tapi bisa saja, kan, Sinar merengek untuk meminta perempuan itu datang sehingga dia bisa menghapus rasa rindu saat dia membuka pintu rumah dan langsung menemukan pujaan hatinya berada tepat di depan matanya detik itu juga?
Lisa menggeleng, merasa konyol dengan pemikirannya yang tiba-tiba. Tapi dia yakin, itu semua memungkinkan karena kakaknya yang konyol itu telah jatuh jungkir balik untuk sahabatnya sendiri yang kali ini sudah mengambil tempat di tengah-tengah ranjangnya.
“Wah, udah disiapin makanan!” Hala bersorak dengan senang saat dia mendapati buah-buahan segar dan beberapa cookies serta minuman susu hangat berada di nakas sebelah ranjangnya. Kucing hitam yang terlihat sedang damai dalam mainan di mulutnya, meringkuk di ujung kepala ranjang seolah-olah tidak peduli dengan pergerakan Hala yang terduduk dengan begitu tiba-tiba. Lisa berdecih geli sebelum ikut mendudukkan dirinya bersebelahan dengan sang sahabat yang kini tertarik dengan strawberry kesukaannya.
“Makasih Lisa! Emang terbaik banget bestie gue ini” Hala terlihat begitu senang dengan kedua jempolnya yang terangkat di udara dan salah satu pipinya yang menggembung karena memasukkan satu buah strawberry berukuran lumayan besar ke dalam mulutnya.
“Makan yang bener, lo” Lisa berkomentar sembari mengambil remot pendingin ruangan dan mengatur suhu pada tingkat rendah sehingga ruangan diselimuti dengan hawa dingin dan sejuk yang mereka berdua sama-sama sukai. Kalau kata Hala, seperti mereka berkamuflase menjadi beruang di kutub utara. Rasanya begitu nikmat hanya untuk merasakan dingin sembari menenggelamkan tubuh mereka di dalam balutan selimut tebal.
Hal ini sebenarnya dikomentari dengan ketidaksetujuan yang nyata dari teman-teman mereka yang lain. Bahkan Jihan pun mengatakan bahwa mereka melakukan hal yang tidak berguna dan hanya normalkan suhu ruangan secukupnya jika mereka ingin menenggelamkan diri dalam selimut. Namun Lisa dan Hala, dengan selera aneh mereka akan bersikeras dan bersikukuh bahwa sensasi yang mereka dapatkan berbeda daripada hanya menormalkan suhu dan menyingkirkan selimut.
“Ini udah bener” Seru Hala dengan suara yang aneh, teredam dari kunyahan. Lisa mencubit pipinya yang penuh dengan gemas. “Nggak usah jadi sok bayi, deh, lo sama gue” Gerutunya ketika dia hanya menarik pipi Hala yang lainnya. Sahabatnya itu merengek dengan sebal sebelum menjatuhkan kedua tangan Lisa dari wajahnya. Dia menelan buah di mulut dengan susah payah sebelum terbatuk-batuk. Lisa hanya menatapnya dengan tatapan tahu yang puas.
“Dih, emangnya siapa yang mau jadi bayi, lo” Hala menggerutu dengan sengit sebelum dia memutuskan untuk menghidupkan televisi yang berada di kamar Lisa. Mencari salah satu siaran ringan yang tidak membutuhkan perhatian lebih untuk di tonton. Setelah dia menemukannya, perempuan itu mengambil posisi untuk berbaring dan mencuri selimut. Lisa memperhatikan ketika Hala sudah meninggakan hanya kepalanya saja yang menyembul.
Helaan napas, dia keluarkan lagi dengan kemakluman yang terbiasa.
Lisa memilih bergerak ke meja riasnya untuk merawat wajahnya sebelum dia mengikuti Hala. Yakin akan segera tertidur jika saja dia berbaring di ranjang empuk kesayangannya itu.
“Emang Heksa nggak rewel lo tinggal, La?” Dia memulai dengan memakai headband untuk menghalau anak rambut dari wajahnya. Hala bergumam kecil sebelum dia menjawab dengan acuh tak acuh.
“Biarin aja itu dia. Sekali-kali dia harus tidur di rumahnya sendiri. Lama-lama itu rumah jadi rumah nggak berpenghuni kalau dia hidup di rumah gue mulu” Omelnya dengan suara lembut agak menggerutu. Lisa tertawa geli.
“Udah, jual aja itu rumahnya kalau nggak kepake gitu. Mending dia tinggal beneran di rumah lo. Lumayan itu hasil duit jual rumah bisa bikin dompet gendut” Lisa mengusulkan dengan ringan.
“Nggak ah. Males gue kalau dia beneran tinggal di rumah gue. Mental gue nggak kuat” perempuan itu bersungut-sungut dengan bibir yang dimajukan. Tentu saja, ucapannya tidak benar adanya karena Lisa tau, mereka sudah melakukan hal ini selama beberapa tahun belakangan dan Hala hanya mengucapkannya sebagai omong kosong semata.
“Halah, sok bawa-bawa mental, lo” Lisa mencibir dengan candaan ringan. “Udah berapa tahun ngomongnya begitu mulu. Omong kosong doang, ah, lo” tangan Lisa terangkat untuk menepuk pelembab di wajahnya dengan lembut. Membiarkan dirinya menikmati memijat wajahnya dan mengamati penampilannya di cermin besar di hadapannya.
Hala tidak menjawab, hanya terkikik geli tidak ingin menyangkal apapun yang dikatakan oleh Lisa karena semua benar adanya.
“Ya gitu..” Suaranya muncul kemudian. Ada helaan napas sebelum dia menoleh ke arah Lisa, mengamati sahabatnya sedang memanjakan diri dengan perawatan. Matanya bergerak mengamati pergerakkan tangan Lisa dengan khidmat.
“Apaan jawaban begitu?” Lisa berdecak. Menyelesaikan sentuhan terakhir pada wajahnya dan melepas headbandnya sebelum mengikat rambut panjangnya menjadi satu cepol yang rapi tanpa bantuan sisir hanya dalam sekali gerakan. Hala menatapnya dengan cemberut di wajah, karena perempuan itu sama sekali tidak bisa melakukannya dalam sekali coba sama seperti yang Lisa lakukan.
“Ya, emang gue harus jawab apaan?”
Hala bernapas dengan lembut. Suaranya lebih diam daripada sejak perempuan itu hadir di rumahnya. Lisa bahkan sampai bisa mendengar dengkuran lembut dari pipang yang kini sepertinya sudah terlelap menjadi satu buntelan bola dengan mainan yang masih setia di gigitannya.
Ini masih jam sepuluh kurang lima menit, tetapi kucing itu sudah kusyhu’ dengan acara tidurnya yang tak terganggu guncangan dari pergerakan apapun.
Ada hening yang tiba-tiba menyapa ketika Lisa mengambil tempat di sebelah Hala. Berbaring dengan nyaman bersebelahan dengan sahabatnya yang kali ini mengatupkan bibirnya menjadi satu garis tipis dengan tatapan yang terarah langsung ke televisi yang menampilkan film anak-anak random yang Lisa bahkan tidak tahu judulnya apa.
“Heh!” Lisa menyenggol Hala dari balik selimut yang mereka bagi. “Lo kenapa? Ada masalah? Perasaan dari tadi pagi baik-baik aja deh gue perhatiin?” Lisa pada akhirnya menyadari ada yang aneh dari sahabatnya itu.
Namun, untuk kesenangannya, Hala hanya mengerucutkan hidungnya, membuat mata perempuan itu menyipit aneh ketika menghadapnya sebelum Lisa mendapati cengiran aneh dari Hala. Agak membuatnya lengah sebelum dengan refleks mendorong kepala itu dengan tepukan yang tidak terlalu lembut.
“Aduh! Kok dipukul, sih?!” Hala merengek, membuat Lisa setidaknya gemas untuk hanya menendang sahabatnya itu ke luar jendela detik itu juga.
“Lo, sih, nyebelin jadi orang. Aneh banget. Udah ketularan Heksa bener ini. Asli, bikin gue naik darah aja”
“Sorry deh, sorry. Jangan di geplak juga gue nya, kali” dia merengek. Meniup telapak tangannya sebelum mengusapkannya ke daerah yang habis terkena pukulan tak tanggung-tanggung dari Lisa.
“Lagian lo aneh banget. Lagi ada masalah beneran ini pasti, ya?” Lisa menyipit sebal pada Hala yang cengengesan di tempatnya.
“Engga, kok. Serius gue nggak ada masalah apa-apa”
Untuk sesaat, Lisa mengamati bagaimana ekspresi yang diberikan oleh Hala dalam pembelaannya yang menyeru pernyataan. Ada hal yang tidak seperti Hala, hadir di wajah perempuan itu sebelum kembali menjadi ekspresi normal yang dia hapal sedemikian rupa dari sang sahabat.
Lisa sebenarnya agak sangsi dengan tingkah laku yang agak tidak wajah dari Hala hari ini. Namun, dia berusaha untuk mengibaskannya dari pikirannya. Dia yakin jika ada sesuatu, Hala pasti akan memulai percakapan. Dia mempercayai sahabatnya untuk hal seperti itu. Dia akan membiarkan Hala menemukan waktu yang cocok untuknya mulai memberanikan diri bercerita.
Untuk sekarang, dia membiarkan Hala mulai meracau hal-hal tidak penting yang akan keluar sebagai pembelaan yang dia selalu lakukan.
“Gue baik-baik aja, bener deh. Suwer” tanggannya membentuk tanda perdamaian sebelum kembali membuat gaduh dari balik selimutnya untuk berhadapan lansung dengan Lisa yang masih terlihat kesal. “Jangan gitu wajahnya, cantiknya luntur nanti” dia terkekeh ketika melempar godaan yang sama seperti yang Sinar sering lakukan padanya. Lisa mendengus sebelum beranjak untuk duduk dan mengambil susu untuk menetralkan perasaannya yang sedikit sebal.
“Emang gue nggak boleh ya minta nginep di rumah lo? Tega banget pertanyaannya” dia merengek, berpura-pura sedih dengan pertanyaan yang di lontarkan. Lisa terkadang lupa bahwa semua temannya terkadang mengambil sebagian besar emosinya yang membuatnya hanya ingin mengubur mereka hidup-hidup.
“Nggak usah ngelak, deh, La. Jujur ke gue, coba?”
Hala berdecak, memberikan Lisa tatapan menyebalkan sebelum dia mengangkat bahunya acuh tak acuh.
“Kak Sinar kan mau pulang, dia juga lagi di jalan. Gue mau nginep biar gue bisa minta oleh-oleh gue langsung pagi-pagi buta waktu dia baru aja dateng”
Lisa mengernyitkan alisnya dengan aneh. Tangannya ia tempelkan di dahi Hala sebelum melanjutkan, “Demam, lo? Sejak kapan lo mau ngerepotin diri lo sendiri dengan nunggu oleh-oleh langsung dari kakak gue?” Lisa mencemooh dengan konyol. “Bohong lo nggak cocok, La”
“Cih,” Hala tiba-tiba berdecih sebelum wajahnya menjadi lebih jutek. “Lo nggak seru banget, sih, Lis” bibirnya mengerucut, kali ini lebih panjang dari sebelumnya dan Lisa hanya menghela napas berat.
“Kalau mau jadi bayi, jangan sama gue. Sama kakak gue aja, noh” Lisa berkomentar seadaanya. Sebenarnya jauh lebih khawatir pada keadaan Hala dari pada apa yang terlihat. Dia hanya tidak ingin hala membual tentang apapun ketika perempuan itu sedang memiliki sesuatu hal yang mengganjal tentang kehidupannya. “Cepat bilang sama gue, lo kenapa?” dia menuntut. Lelah dengan pertanyaan dan jawaban yang berputar-putar.
“Gue kangen Mama gue” Hala berbisik di bawah napasnya, agak tidak yakin. “Jadi gue nggak pengen tidur sendiri. Pengen ditemenin” Wajahnya kemudian kembali dengan kecerahan yang dibuat-buat.
Lisa tidak tahu bagaimaan keadaan dan kehidupan keluarga Hala. Dia bahkan hanya beberapa kali bertemu dengan Ayah dan Ibunya Hala, serta adik laki-lakinya yang sekarang tengah melaksanakan perkuliahan di USA. Anak itu mendapatkan kesempatan untuk mengikuti exchange student di Sekolah Menengah Atasnya dan memutuskan untuk melanjutkan perkuliahan disana. Hala juga tidak terlalu sering berbicara mengenai keluarganya, pun dalam keterkejutan Lisa, hari ini Hala mengungkit hal yang tidak pernah dia katakan dalam beberapa tahun kebelakang. Jadi, agak aneh ketika perempuan itu rewel dengan hal semacam ini.
“Bukannya ada Heksa yang bisa nemenin lo tidur?” Lisa bertanya dengan hati-hati. “Biasanya juga tidur bareng pake peluk-peluk gitu” Lanjutnya setengah bermain-main. Hala menatapnya dengan tatapan malas sebelum dia mengganti saluran televisi dengan bibir yang mengomel bisikan entah apa.
“Kan gue biang gue kangen Mama gue bukan Ayah gue” cemoohnya ringan dan tatapan tidak terkesan menyapa Lisa, membuatnya memutar bola mata malas.
“Yaudah, kan bisa telpon atau video-call? Lo juga bisa pulang. Rumah keluarga lo deket, anjir”
“Males. Lagian gue Cuma bilang kangen, bukan pengen ketemu” bantahnya lagi, “Udah, ah, sekarang ngomongin yang lain aja. Omong-omong Kak Sinar kapan sampainya? Dia ada ngabarin lo udah sampai mana?”
Lisa menatap Hala sejenak. Perempuan itu terlihat acuh ketika dia menekan tombol remot televisi. Siaran berganti dengan setiap ucapan tak terselesaikan dalam berbagai macam nada suara saat dia melakukannya.
“Dih” Lisa mencibir dengan terang-terangan. “Gue udah pernah bilang nggak, sih, kalau lo itu nyebelin banget?”
“Udah sering, kok.” Hala tertawa dengan riang. Seolah-olah dia sedang melakukan percakapan konyol dengan Lisa sedari awal dilihat dari bagaimana senyumannya terpatri di wajah perempuan itu.
“Yeu. Tumben lo nyadar diri” Lisa melempar salah satu plushie pandanya pada Hala dengan beringas. Membuat perempuan itu hampir terjungkal kebelakang karena lengah. Ada tawa yang akhirnya Lisa berhasil lepaskan ketika dia melihat wajah konyol sahabatnya.
“Lo kenapa, La? Hari ini pembahasannya Kak Sinar terus” Lisa menyeringai. Duduk dengan punggung tegas dan menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Hala yang menatapnya dengan tatapan ngeri dan anehnya. “Lo udah mulai tertarik dan jatuh hati buat kakak gue, ya? Aduh, kalau kayak gini, sih, gue harus sabar-sabar ngehadapin lo kalau lo mulai resmi jadi Kakak ipar gue-ADUH! Kenapa gue di cubit, sih?!”
“Omongan Lo nggak berguna banget, Nalisa!” Hala berdecak dengan sebal sebelum dia turun dari ranjang untuk kembali mencuri peralatan skincare milik Lisa seperti biasanya.
“Lo sebegitu sayang sama gue, ya? Ngebet banget jadiin gue Kakak ipar lo, sumpah” Dia tetap melanjutkan omelannya ketika berhasil duduk di kursi yang digunakan Lisa beberapa waktu yang lalu. “Nanti kalau Kakak lo ilfeel sama gue, gimana? Kayak kesannya, gue yang—Eh?”
Lisa baru saja ingin mencekik leher Hala dalam setiap kemuliaan omelan menyebalkan perempuan itu sebelum dihentikan oleh suara keterkejutan dari sang sahabatnya. Lisa berhenti bergerak saat Hala melompat dari tempatnya duduk tidak sampai semenit lalu dan berhasil menghentikan langkahnya menghadapi sebuah benda yang membuat napas Lisa berhenti sejenak.
“Sejak kapan lo punya boneka beruang putih gini? Perasaan semua boneka lo kalau nggak panda ya, penguin sama kucing begituan doang. Gue baru liat yang ini..” suaranya berhenti sejenak. Lisa memperhatikan dengan gugup. Anehnya, tangan Hala tidak bergerak untuk menyentuh boneka itu sama sekali. “Eh? Ada dandelionnya. Dibeliin Kak Sinar lagi, ya ini? Serius, cantik banget, deh. Unik. Gue belum pernah liat yang beginian sama sekali kayaknya”
Boneka beruang putih dengan dandelion yang terukir di genggamannya. Boneka yang dibelikan oleh Noren dua malam yang lalu. Boneka yang dia letakkan di atas sofa mini di balik pintu, yang menatapnya seolah-olah menyampaikan banyak hal padanya.
Diam sejenak dan memperhatikan pergerakan Hala yang tak kunjung meraih boneka yang coba dia abaikan sejak dia menerimanya, napasnya yang tertahan dengan lembut dia lepaskan. Agaknya, dia merasa sedikit iritasi untuk menyebutkan siapa yang telah memberikan hadiah itu padanya.
“Kak Noren yang ngasih ke gue” Akhirnya dia berucap, meski dengan nada yang tidak terlalu suka namun lebih pada rasa penasaran asin yang masih berada di ujung lidahnya.
“Malam Selasa kemarin. Kak Noren yang ngasih ke gue setelah nganterin gue pulang”
Sebenarnya, dua pernyataan itu sudah cukup untuk menjelaskan dari siapa barang itu diberikan. Namun, bibirnya tidak bisa menghentikan kata yang meluncur dengan bebas untuk yang ketiga kalinya.
“Bonekanya dari Kak Noren. Hadiah, katanya”
Mungkin bisa saja, kehadiran Hala malam ini bisa menampung sedikit keluh kesahnya tentang hal-hal yang membuatnya memiliki banyak pikiran.
...….....
...🍁...
...White Bear Dandelion Doll dan Pembicaraan Tengah Malam Part. 1...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Halo! FIYT update dengan cover baru😁 semoga masih familiar sama FIYT meskipun udah ganti cover hehe. Makasih banyak yang sudah baca sampai pembaruan chapter ini, choco senang sekali🤗
semoga setiap chapter FIYT bisa membuat kalian terhibur dan menikmati cerita nya yaa❤❤
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak SRN27 nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA SRN27...
...JUDUL: HEAVANNA...
Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zianna memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan seorang cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa. "Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi. "Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!" "Apa aja?" tanya Zia. "Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
Selamat membaca🥰